
Hari ini, matahari bersinar terang. Panasnya terik matahari membuat orang-orang enggan untuk keluar rumah. Namun, ada beberapa orang yang diwajibkan keluar atau di tuntut untuk mengais rezeki dibawah panasnya sinar matahari.
Alia yang baru saja pulang dari kampus langsung mencari air mineral dingin untuk menghilangkan dahaganya. Setelah tenggorokannya tak kering lagi, ia pun langsung naik ke atas untuk beristirahat. Aktivitas di kampus sangatlah padat, mulai dari kuliah di kelas hingga rapat organisasi penyambutan mahasiswa baru nanti. Walau masih lama, tetap saja harus direncanakan dari sekarang agar lebih matang.
Alia meletakkan tas kuliahnya di kursi belajar lalu mengganti pakaiannya dengan baju santai. Setelah selesai mengganti pakaian, tak lupa Alia mencuci kaki dan tangan lalu duduk di dekat jendela merasakan angin sepoi-sepoi yang sejuk di cuaca panas.
"Apa di cek lagi ya?" gumam Alia menatap perutnya. Apa ia harus mengecek lagi dengan alat tes kehamilan untuk mengetahui positif atau tidak? Tapi, ia takut sedih lagi seperti kemarin-kemarin saat tau hasilnya negatif.
"Kayaknya nunggu seminggu lagi aja deh, mana tau telat datang bulan kayak orang-orang yang mau hamil." Alia belum sanggup untuk menerima kenyataan pahit.
Lama Alia melamun memikirkan nasib pernikahannya jika tak dikaruniai anak, sampai-sampai wanita itu tak menyadari kedatangan Reza yang sudah pulang dari kampus.
Reza tersenyum melihat istrinya yang melamun, semenjak perkara hamil di bahas, istrinya jadi sering melamun.
"Assalamualaikum sayangnya mas," ucap Reza mencium pipi Alia membuat wanita itu terkejut dan langsung menoleh.
"Wa'alaikumusalam," jawab Alia setengah berteriak.
"Loh kok marah-marah sih sama mas?" tanya Reza pura-pura ngambek.
"Eh, bukan marah, mas. Adek cuma kaget aja tadi, lagian mas sih ucapin salam kok ngendap-ngendap, mana pas lagi di telinga adek." Alia langsung memasang wajah cemberut membuat Reza gemas.
"Makanya jangan suka ngelamun, nanti kesurupan baru tau." Reza pun berjalan menuju meja belajarnya lalu meletakkan tas kuliahnya.
"Sayang mas pengen yang seger-seger," pinta Reza saat ia tengah membuka sepatunya.
"Mau adek buatin?"
"Iya sayang." Alia pun langsung bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman segar sesuai keinginan suaminya. Memang kalau panas-panas begini paling cocok minum yang segar-segar.
Sebenarnya, Reza tak terlalu haus sekali karena ia juga baru saja minum minuman dingin sebelum masuk kamar. Ini semua ia lakukan agar istrinya berhenti melamun dengan melakukan kegiatan lain yang menyibukkan diri dari pikiran buruk.
Setelah berganti pakaian, Reza langsung turun kebawah untuk menikmati minuman buatan sang istri.
"Loh adek kirain mau minum di kamar," ucap Alia yang sudah membawa minuman berserta cemilan di atas nampan.
__ADS_1
"Makan di bawah pohon yuk, kayaknya lebih seger." Reza mengambil alih nampan itu.
"Bentar ya, adek bawa jilbab dulu." Reza mengangguk membiarkan sang istri membawa jilbab dan juga gamis yang biasa dipakai di rumah.
"Mas tunggu di sana ya," ucap Reza saat Alia tengah menaiki anak tangga.
"Iya, sayang."
Setelah merasa pantas dan menutup aurat, Alia pun keluar menyusul suaminya yang sudah menunggunya di halaman depan di bawah pohon yang rindang.
Di sana, memang sudah ada tempat duduk dan meja khusus bersantai. Jadi, tak perlu membawa kursi atau membentangkan tikar untuk menikmati panasnya terik matahari dan segarnya hembusan angin.
"Bosan gak?" tanya Reza saat Alia baru saja mendudukkan diri di kursi.
"Bosan kenapa?" tanya Alia balik.
"Maksudnya, kamu bosan gak di rumah terus? Pengen kemana gitu, atau liburan kemana gitu?" jelas Reza memakan cemilan buatan sang istri.
"Eum, bosan sih. Tapikan kita juga lagi sibuk-sibuknya kuliah, jadi gak bisa kemana-mana." Alia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami sembari ikut memakan cemilan.
"Memangnya mas pengen kemana?" tanya Alia menatap sang suami.
"Eum, mas pengen ke puncak. Camping ala-ala gitu," jawab Reza antusias.
"Adek gak suka camping, takut ada hewan buas atau ada ulat kecil masuk ke tenda." Membayangkannya saja sudah membuat Alia bergidik ngeri.
"Yah, sayang banget dong. Masa mas pergi sendiri sih, gak seru."
"Gimana kalau kita camping-nya depan rumah? Kan lebih terjamin mas," saran Alia tak ingin membuat suaminya kecewa.
"Eum, boleh juga. Lumayan lah daripada gak ngapa-ngapain," ucap Reza menerima saran dari sang istri.
"Kita camping-nya mulai dari besok malam ya, sayang. Malam ini, mas masih pengen tidur di kasur empuk sambil meluk kamu," lanjut Reza mencium pipi Alia.
"Okey sayangku." Mereka pun kembali melanjutkan menikmati minuman dingin dengan sepiring cemilan. Hingga tiba ke sebuah obrolan yang selalu mengusik momen apapun itu.
__ADS_1
"Oh ya mas, adek mutusin buat nunggu Minggu depan aja cek positif apa enggaknya. Yah, jaga-jaga biar adek gak sakit hati. Kan Minggu depan udah akhir bulan tuh. Jadi, kalau adek gak haid Minggu depan adek bakalan cek lagi, kalau haid berarti masih belum rezeki." Reza langsung memeluk sang istri tak mau Alia terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Meski berulang kali ia mengatakan tidak masalah dengan hasilnya, tetap sang istri semakin optimis ingin hamil.
"Sayang, jangan terlalu dipaksakan, jangan terlalu dipikirkan. Apapun hasilnya, mas bakalan nerima. Apapun itu," ucap Reza berusaha menenangkan sang istri yang mulai menunjukkan tanda-tanda kesedihan.
"Mas jangan ngomong gitu, adek tau kok kalau mas pengen banget punya anak. Adek tau kalau mas suka sama anak-anak, jangan ngomong kalau mas bakalan nerima apapun hasilnya. Jangan bohong sama adek biar hati adek bahagia," lirih Alia menekan dadanya yang sesak.
"Mas gak bohong kok, mas jujur apa adanya. Mas memang suka anak-anak, tapi kalau kamu belum bisa ngasih, mas bakalan sabar, sayang. Mas gak akan ngedesak kamu ataupun mengkhianati cinta kita hanya demi mendapatkan seorang anak."
"Tapi....
"Shutt. Udah, jangan nangis. Mas gak suka liat kamu nangis gini. Daripada kita nangis-nangis, melamun gak jelas, lebih baik kita memperbanyak do'a agar kita diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk memiliki anak." Reza mengelus punggung sang istri yang masih meluapkan kesedihannya. Ia akan tetap menerima Alia apapun itu hasilnya nanti dan seberapa lama mereka akan menunggu nantinya.
"Kalau gitu, mas nikah aja. Adek rela kok mas, adek mungkin gak bisa ngasih mas keturunan. Adek rela berba...
"Alia!" Alia langsung terdiam tak meneruskan perkataannya saat melihat tatapan marah sang suami.
"Sudah berapa kali mas katakan kalau tidak ada pernikahan kedua selain pernikahan kita! Ada atau tidaknya anak di pernikahan ini, mas tetap akan mencintai kamu seorang, tidak dengan wanita lain selain Mama dan kamu!" tegas Reza.
"Kalau nanti setelah kita menunggu beberapa tahun atau sampai kita menua, kita tetap tak diberi kepercayaan, mas tidak masalah. Mas akan tetap bersyukur. Mas hanya ingin anak dari satu rahim aja, yaitu rahim kamu. Selain itu, mas gak mau, kecuali adopsi. Itupun harus atas persetujuan kamu!" lanjut Reza menyeka air mata Alia dengan lembut.
"Stop bahas masalah ini, sayang. Mas gak mau sedih-sedih terus. Mas pengen menikmati hidup tanpa harus memikirkan kalau tanpa anak pernikahan tak bahagia."
_
_
_
_
_
Mulai update rutin dari hari ini. Terimakasih sudah menunggu dan terimakasih untuk doanya juga.🙏
Terimakasih.
__ADS_1