Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 25. Bulan madu #part 4


__ADS_3

Malam harinya.


Reza terus saja memperhatikan gerak-gerik Alia dari ketika istrinya itu pergi mandi hingga menyisir rambut. Kini, hari sudah malam. Setelah shalat Isya, Reza memilih duduk di sofa sembari memikirkan cara untuk minta maaf pada Alia.


Ya, dia sangat mengakui kesalahannya itu, hanya saja ia tak tau harus bagaimana. Lagipula, ia memang belum bisa mengakui Alia sebagai istrinya di depan orang lain, kecuali si laki-laki yang mau memotret istrinya waktu itu.


"Alia," panggil Reza sudah tak tahan dengan sikap diam Alia. Ia pun mendekat dan menghadang istrinya itu yang hendak keluar dari kamar.


"Kenapa mas?" tanya Alia menatap suaminya dengan tatapan tenang.


Melihat itu, Reza menjadi salah tingkah.


"Masih marah?" tanya Reza menatap bola mata hitam milik istrinya itu.


"Marah kenapa mas?" tanya Alia membuat Reza kembali merasa tak enak hati. Istrinya ini pasti masih marah dan bodohnya ia karena masih menanyakan itu.


"Masalah kemarin," jawab Reza menunduk.


"Oh, kenapa adek harus marah mas? Memangnya adek berhak ya marah? Siapalah adek ini bagi mas, hanyalah seorang teman saja," ucap Alia sembari tertawa. Tawa yang lebih mengutarakan rasa sakit karena tak diakui.


"Aku minta maaf soal yang kemarin," ucap Reza pelan. Kembali Alia tertawa pelan, sembari mengusap ujung matanya yang berair.


"Gak apa-apa kok mas, adek udah maafin sebelum mas minta maaf," sahut Alia.


"Alia.....


"Oh ya mas, mas tetap pakai kosa kata lo-gue aja, jangan pakai aku-kamu. Adek lebih suka kalau mas ngomong sama adek pakai lo-gue, biar semakin jelas dan adek gak perlu mengharap lebih dari pernikahan ini," sela Alia lalu pergi meninggalkan Reza yang lagi-lagi hanya bisa diam.


Laki-laki itu menghela nafas berat lalu mengucek-ngucek matanya yang berair.


"Alia, aku minta maaf," ucap Reza lirih. Sungguh ia tak akan menyangka efek dari kata-katanya kemarin, ia pikir Alia akan mengerti kalau dirinya belum bisa mengakui status mereka.


*****


Di sisi lain, Bima kini tengah berada di sebuah kafe sembari menatap selembar kertas yang diberikan salah satu temannya.


"Lo yakin ini semua benar?" tanya Bima dengan rahang mengeras.


"Gue dapat itu dari teman gue juga, dia mah ahli nyari biodata orang yang udah nikah, belum nikah, janda atau duda sekalian," jawab temannya.


"Oke, makasih ya. Bayaran Lo bakalan gue transfer langsung," ucap Bima membuka m-banking di ponselnya lalu mentransfer sejumlah uang untuk harga biodata.


"Oke, makasih ya Bim," ucap temannya lalu pergi meninggalkan Bima.


"Awalnya, gue kira gak mungkin lo laki-laki itu, Za. Tapi, setelah gue lihat biodata ini, ternyata memang lo suaminya Alia. " Bima pun meremas kertas itu lalu memukul meja dengan keras hingga beberapa pengunjung melihat ke arahnya.


"Hahahaha, aneh banget sumpah. Ternyata lo yang blokir nomor gue juga dan lo sok-sokan peduli. Munafik! Lo tertawa di atas penderitaan gue, Za. Lo teman bangsa*!" Bima benar-benar tak habis pikir dengan kebenaran yang ia dapatkan hari ini, bagaimana bisa ia tak menyadari kalau Reza lah laki-laki yang selama ini ia cari.


"Gue pastiin Alia bakalan jadi milik gue, apapun bakalan gue lakukan untuk dapatin istri lo itu, meski pertemanan yang bakalan jadi korbannya," ucap Bima pelan sembari tersenyum licik menatap jalanan malam yang di penuhi lampu jalan.


Ia tak akan menyerah sampai titik terakhir rasa lelah di hatinya.

__ADS_1


****


Keesokan harinya.


Alia kini tengah duduk di depan teras sembari menikmati segelas jus segar. Semalaman ia bersikap biasa saja pada Reza dan alhasil laki-laki itu tampak frustasi. Biarlah ini berlanjut sejenak, Alia ingin melihat, apakah benar suaminya tak menganggapnya atau hanya sekedar gengsi saja untuk mengakuinya.


"Alia," panggil Reza yang kini sudah berdiri di sampingnya.


"Iya mas," jawab Alia tanpa menatap suaminya itu.


"Aku duduk di sini boleh?" tanya Reza. Tak biasanya laki-laki itu meminta izin padanya terlebih dahulu, apalagi hanya sekedar duduk.


"Duduklah, ini kan juga di sewa pakai uang nya mas, mana mungkin adek larang mas duduk di sini," jawab Alia tersenyum kecil.


Reza pun duduk di sebelah Alia dengan canggung. Sejak semalam, laki-laki itu tidak lagi menggunakan kosa kata lo-gue melainkan aku-kamu.


"Alia, kamu masih marah ya?" tanya Reza menatap sendu istrinya yang bersikap biasa saja.


Melihat raut wajah laki-laki itu, nampak sekali jika Reza tak cukup tidur karena wajahnya yang terlihat lelah.


"Enggak mas," jawab Alia tanpa menatap ke arah suaminya.


"Kalau kamu gak marah, terus kenapa kamu cuekin aku?" tanya Reza menyentuh tangan Alia.


Sentuhan itu membuat Alia terkejut dan alhasil wanita itu refleks menarik tangannya. Mendapat respon seperti itu, Reza hanya bisa tersenyum kecut dan kembali menarik tangannya.


"Eum, mas. Adek gak sengaja narik tangan tadi, adek kaget," ucap Alia tak enak hati. Meski ia masih sedih dan kecewa, ia tak berhak menolak saat suaminya menyentuhnya, ia tak mau melampaui batasnya sebagai seorang istri.


Melihat itu, Alia menjadi tak enak hati. Ia pun memegang tangan Reza lalu menggenggam tangan suaminya itu.


"Mas, adek gak marah kok sama mas, adek cuma kecewa aja karena mas gak ngakuin adek sebagai istrinya mas. Adek kecewa mas," ucap Alia dengan tatapan sendu. Reza pun kembali menatap sang istri, jujur ada sedikit rasa lega di hatinya karena Alia mau bicara lagi dengannya.


"Aku minta maaf," ucap Reza pelan. Hanya maaf lah yang rutin keluar dari mulut laki-laki itu tanpa memberikan penjelasan yang pasti pada sang istri.


"Iya, adek udah maafin kok." Alia tersenyum manis ke arah Reza membuat laki-laki itu pun ikut tersenyum juga.


"Jangan marah lagi ya," ucap Reza mengelus pipi istrinya dengan lembut.


"Iya, tapi mas juga jangan ulangi lagi ya," sahut Alia mengangguk. Reza pun mengangguk lalu mencium kening Alia sedikit lama membuat sang istri tersenyum senang.


"Permisi tuan," sapa seorang security. Untung saja Reza sudah kembali pada posisi awal.


"Iya?"


"Ada teman anda di depan yang ingin masuk," ucap security itu. Kening Reza pun berkerut. Teman yang mana ya? Semua temannya tak tau ia pergi ke sini.


"Biarkan dia masuk," ucap Reza. Lagi pula ia kan memang sedang ada di teras, jadi ia bisa melihat siapa yang datang setelah gerbang di buka.


"Hai kak Reza, pagi." Ketika gerbangnya di buka, seorang perempuan hamil datang dengan rantang di tangannya.


Melihat itu, senyuman di wajah Alia langsung hilang dan wanita itu kembali menarik tangannya yang digenggam oleh Reza.

__ADS_1


"Nadia," gumam Reza tak tau harus bersikap apa sekarang. Ini semua salahnya juga karena memberitahu wanita hamil itu tempat penginapannya.


Tapi ia tak menyangka kalau Nadia akan datang berkunjung. Ini diluar dugaannya.


"Pagi juga," sapa Reza tampak tak bersemangat.


"Apa aku mengganggu?" tanya Nadia sudah berada di dekat Reza.


"Aku ke dalam dulu ya, assalamualaikum." Alia pun tak mau mendengarkan obrolan mereka dan memilih untuk masuk. Namun, sebelum wanita itu beranjak pergi, Reza sudah menahan tangannya.


"Jangan pergi," ucap Reza tak mau terjadi salah paham lagi. Sudah cukup semalaman ia di acuhkan membuatnya frustasi.


"Oh iya, jangan pergi. Aku cuma sebentar kok, aku cuma mau ngantar makanan aja. Ibu mertuaku masak banyak tadi, jadi aku kepikiran mau berbagi untuk kalian," sambung Nadia lalu meletakkan rantang itu di atas meja.


"Lain kali tidak perlu mengantarkan makanan, itu akan merepotkan mu," ucap Reza tak menatap ke arah Nadia melainkan ke arah istrinya yang kini sudah kembali duduk.


"Eum, aku gak repot kok kak. Malahan senang karena sekalian bisa olahraga jalan kaki juga," ucap Nadia menatap tak suka saat Reza hanya fokus pada Alia.


"Kalian pacaran ya?" tanya Nadia.


Reza pun tersenyum mendengar pertanyaan itu lalu menggeleng membuat Nadia tampak menghela nafas lega, sedangkan Alia kembali membuang muka.


"Kami gak pacaran, soalnya kami udah nikah," jawab Reza membuat kedua wanita itu menatap terkejut ke arahnya.


Pipi Alia memerah merona mendengar pengakuan sang suami, lain halnya dengan Nadia yang kini meremas dress yang ia kenakan.


"Tapi kemarin kakak bilang hanya teman," ucap Nadia masih tak percaya.


"Iya, maksudnya teman sehidup-semati," jawab Reza tersenyum saat melihat pipi Alia yang merona.


Hanya dengan sebuah pengakuan membuat seorang wanita bahagia dan merasa di inginkan keberadaannya.


Hanya dengan sebuah pengakuan.


_


_


_


_


_


Kena mental gak tuh? 😂


Tapi kan biasanya orang seperti Nadia itu walau sudah kena mental tetap aja nekat😂😕


Jangan lupa like, komen dan juga votenya ya kawan-kawan, katanya mau dipanjangin part nya, kalau gitu jangan lupa beri dukungan ❤️ biar saya makin semangat update dan nulisnya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2