
Setelah shalat Isya
Reza pun langsung masuk ke kamarnya, ia juga sudah selesai memaparkan rencana yang akan dijalankan oleh Doni di sana nanti. Reza merasa sangat beruntung memiliki teman seperti Doni yang mau membantunya kapanpun.
Sesampainya di kamar, dilihatnya Alia tengah menggantung mukenah. Laki-laki itu pun mendekat dan memeluk sang istri dari belakang.
"Mas pengen adek malam ini," bisik Reza.
Sudah berubah lagi panggilannya, dari lo-gue, aku-kamu, sekarang jadi mas-adek. Pikir Alia.
Alia pun tak terlalu merespon godaan dari sang suami.
"Sayang, pengen."
"Kalau pengen itu ya ke kasur jangan berdiri gini," sahut Alia kesal bercampur malu.
"Yaudah ayo," ucap Reza langsung menggendong sang istri ke ranjang.
"Jangan terlalu sering, mas. Nanti adek bisa hamil," tegur Alia memalingkan wajahnya.
"Itulah yang mas pengen, kamu hamil dan selalu terikat sama mas," sahut Reza tersenyum lebar.
Alia tak menanggapi itu dan memilih melayani suaminya dengan semestinya. Tak mungkin ia menolak untuk melayani sang suami sedangkan ia masih berstatus seorang istri.
"Mas," lirih Alia saat Reza menggigit lehernya.
Reza pun menatap wajah Alia yang sudah memerah menahan malu.
"Pelan-pelan aja," ucap Alia hampir tak terdengar karena saking pelannya suaranya.
"Oke, sayang."
Bukan ingin atau mengharapkan, Alia hanya tak ingin menjadi istri durhaka dengan menolak keinginan suaminya. Meski, ia masih marah dan sulit menata hati seperti dulu, ia tetap tak bisa menolak.
Walau sebenarnya, dalam hati kecilnya. Ia juga menikmati sentuhan lembut suaminya.
******
Keesokan harinya.
Alia bangun terlebih dahulu sebelum adzan subuh berkumandang, matanya melirik ke arah sang suami yang masih tertidur lelap.
Di pandangnya sang suami begitu lama, menatap mata yang tertutup oleh kelopak dihiasi bulu mata yang indah.
"Sekuat apapun aku mencoba memaafkan mu, tapi hatiku masih saja membencimu. Aku tak tau, jika semuanya benar, aku masih bisa memaafkan mu atau tidak. Aku harap semuanya memang hanya sekedar salah paham." Setelah mengatakan itu, Alia pun memungut bajunya lalu memakainya.
Tak membuang waktu lagi, Alia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah membersihkan diri nanti, ia baru membangunkan suaminya.
*****
Di sisi lain.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, Doni sudah bangun. Laki-laki itu pun segera menunaikan ibadah shalat Subuh. Meski ia terbilang tak begitu rajin bangun subuh, tapi, jika ia sudah bangun maka ia akan shalat.
Setelah selesai shalat subuh, Doni pun keluar dari kamarnya sembari membawa mochi di gendongannya.
Ia lapar.
Sesampainya di dapur, bukan makanan yang ia dapat melainkan Bima yang tengah minum sembari terus mengacak rambutnya. Doni pun memilih untuk bersembunyi dan mengintip apa yang dilakukan Bima di sana.
Bima tampak mengambil kembali ponselnya yang ada di atas meja makan.
Terlihat seperti tengah menghubungi seseorang. Tapi, sepertinya tak diangkat atau tak bisa dihubungi.
"Lo udah bangun, Bim?" tanya Doni keluar dari persembunyiannya. Percuma saja sembunyi kalau yang dilakukan Bima malah menonton acara mukbang.
"Eh, Lo ngagetin aja Don."
"Iya nih, gue tiba-tiba aja haus dan air di kamar gak ada," lanjut Bima menjawab pertanyaan Doni.
"Oh, ada makanan gak?" tanya Doni meletakkan mochi di atas meja lalu mencari makanan. Bima menatap mochi yang duduk tenang di meja makan.
"Siapa nama kucing Lo, Don? Gue lupa," tanya Bima menyentuh bulu lembut mochi.
"Mochi," jawab Doni mengambil beberapa kue yang ada di kulkas.
"Kucing lo pernah jatuhin tong sampah di depan kamar gue," ucap Bima membuat Doni langsung berbalik menatap temannya yang tengah mengelus-elus lembut mochi.
"Dia memang sering gitu, ****** gue aja kadang-kadang diserakin sama dia," sahut Doni yang kemudian duduk di kursi.
"Hm." Doni menanggapi sekenanya saja dan kembali sibuk menyantap kue nya.
"Gue kira lo nguping atau mata-matain gue," lanjut Bima kembali tertawa.
"Memang lo pelaku kriminal apa? Ngapain juga gue mata-matain lo, yang ada mata gue sakit," sahut Doni tenang.
"Hahahaha, udah ah. Gue mau ke kamar, mau balik tidur. Barang-barang lo jangan lupa diberesin, sore nanti kita pulang," ucap Bima berdiri lalu mencium mochi.
Setelah Bima menghilang dari pandangan, Doni pun menghela nafas lega. Berpura-pura santai saat kebohongan hampir terbongkar, itu sulit.
"Mochi, dengerin papa ya. Jangan dekat-dekat sama dia, nanti kamu di cekik," ucap Doni pelan lalu mengusap bulu lebat kucing nya itu.
Setelah selesai makan kue alias sarapan dadakan, Doni pun meletakkan mochi di kamarnya lalu mengunci kamar itu.
Ia akan berkelana sebentar mencari janda yang sedang hamil tua.
******
Di sisi lain, setelah selesai sarapan, Reza dan Alia pun mengantarkan kedua orang tuanya ke bandara. Kali ini, papanya tak mau mengemudi ataupun naik mobil meski di supiri. Papanya ingin sampai dengan cepat.
"Kalau laki-laki itu macam-macam sama kamu, laporin papa." Alia mengangguk mengerti lalu menyalim papa mertuanya itu.
"Jaga diri baik-baik ya sayang, jangan dipaksakan jika sudah tak sanggup lagi," ucap Mela membelai lembut kepala Alia yang tertutupi jilbab.
__ADS_1
"Iya ma," jawab Alia kemudian menyalim Mama mertuanya.
Kedua insan itu pun menghilang dari pandangan setelah memberikan nasihat kepada sepasang muda-mudi yang tengah dilanda kegalauan.
"Ada yang mau dibeli?" tanya Reza menggenggam tangan Alia, namun, wanita itu malah melepaskan tangan suaminya.
"Gak ada, adek mau pulang aja."
Reza pun mengangguk dan kembali menggenggam tangan Alia dengan erat sehingga wanita itu tak bisa melepaskan lagi tangannya.
Sesampainya di mobil, Reza langsung melajukan mobil menuju rumah. Hari yang membosankan dan juga mengesalkan.
Sesampainya di rumah, Alia langsung masuk ke kamar, mengabaikan suaminya yang terus mengajaknya untuk bicara.
"Sayang, mas pengen."
Reza langsung memeluk Alia dari belakang saat mereka baru saja masuk ke kamar.
"Pengen lagi? Tadi malam kan udah," tanya Alia kesal.
Reza pun mengangguk dan membuka jilbab istrinya itu.
"Pengen lagi," pinta Reza manja sembari mencium leher Alia. Bukan karena maniak, selain ia ketagihan, ia pun punya alasan lain.
"Nanti malam aja mas," ucap Alia berusaha melepaskan pelukan suaminya.
Wanita itu bahkan sudah merasakan sesuatu yang bergerak-gerak di bawah sana.
"Gak mau, maunya sekarang."
Alia pun menghela nafas panjang lalu membalikkan badan dan menatap Reza dengan dalam.
"Mas, sebaiknya mas fokus nyari bukti. Kalau sampai dalam satu Minggu ini mas gak bisa buktiin ucapan mas waktu itu, adek bakalan tetap pergi meski nanti benih mas tumbuh di rahim adek."
Deg.
_
_
_
_
_
_
_
Typo ada di mana-mana, harap bantuannya komen di bagian typo ataupun kalimat yang tak nyambung.
__ADS_1
Tbc.