
Sudah hampir setengah jam Reza menunggu Alia keluar dari kamar mandi, tapi istrinya itu tak kunjung keluar juga.
"Alia, apa yang kamu lakuin di dalam? Kamu gak ngelukain diri sendiri kan?" tanya Reza khawatir sembari terus mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, Alia keluar dengan sudah memakai pakaiannya yang tadi lalu berjalan ke arah ruang ganti mengabaikan suaminya yang kini mulai mengikutinya.
"Alia, aku minta maaf." Tak henti-hentinya, Reza terus meminta maaf.
Alia pun hanya membisu tanpa merespon satu kata pun dari Reza. Ia butuh ketenangan dengan menyendiri dulu, ia tak mau di ganggu dulu.
"Keluar mas, adek mau ganti baju."
"Alia, tolong maafkan aku."
"Mas!"
Reza pun akhirnya mengalah dan keluar dari ruang ganti meninggalkan Alia yang kini kembali terisak.
Sakit sekali ketika melihat suami kita menyentuh wanita lain, sedangkan dengan kita dia cuek dan tak mau di sentuh.
Alia pun membuka kembali pakaian yang ia kenakan lalu menggantinya dengan yang baru.
Setelah selesai mengganti pakaian, ia keluar dan melihat suaminya yang ternyata berdiri di dekat pintu ruang ganti.
"Mas, adek capek." Alia meninggalkan Reza yang hendak membuka suaranya. Laki-laki itu kembali menunduk mengepalkan tangannya.
Semua ini gara-gara Nadia! Mau itu di sengaja atau tidak, itu semua tetap salah Nadia! Besok, Reza akan pergi menemui wanita itu dan memberikan peringatan, Reza akan meminta Nadia menjelaskan semuanya.
"Awas saja lo, Nadia! Kalau lo gak mau jelasin semuanya sama Alia, gue pastiin anak lo lahir sebelum waktunya!" gumam Reza dengan rahang mengeras.
"Argghhh!" teriak Reza melempar vas bunga yang ada di dekatnya.
Di luar kamar, Alia terkejut mendengar suara pecahan kaca dari kamarnya. Ingin ia masuk, takut kalau Reza melukai diri sendiri. Tapi, ia urungkan karena yakin Reza tidak akan melakukan itu.
Laki-laki itu cinta kesempurnaan, ia tak akan melukai tubuhnya yang indah itu.
Alia pun memilih untuk berada di dapur saja, ia akan memakan kentang goreng buatannya tadi. Mubasir jika ia membuang kentang goreng yang ia buat sepenuh hati itu.
******
Malam harinya.
Setelah selesai shalat Maghrib, Alia dan Reza sudah berada di meja makan menyantap makan malam. Tak ada yang bicara di antara mereka, hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring saja.
Setelah selesai makan, Alia memilih untuk langsung ke kamar, sedangkan Reza kini memilih duduk di pinggir kolam renang sembari merenung.
Lelah merenung, Reza pun beranjak pergi ke kamar. Hatinya terasa hampa tanpa adanya Alia, padahal wanita itu masih satu atap dengannya.
Bagaimana nanti jika Alia sudah tak satu atap dengannya? Reza tak sanggup memikirkan itu.
Ceklek.
Pintu terbuka, Reza langsung masuk ke kamar. Di sana, Alia tampak tengah bermain ponsel.
Reza pun berjalan mendekat dan duduk di samping Alia yang ada di atas ranjang.
"Alia, aku minta maaf." Hanya itu yang selalu lolos dari mulut Reza
"Alia, kalau kau tak mau memaafkan ku. Aku, aku akan melukai diriku sendiri!" ancam Reza membuat Alia menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Silahkan," ucap Alia kembali fokus pada ponselnya. Ia yakin itu hanya gertakan saja, mana mungkin suaminya itu melukai diri sendiri.
Mendengar respon Alia, Reza pun langsung pergi dari kamar. Hal itu membuat Alia langsung menatap pintu kamar yang sedikit terbuka. Mau kemana suaminya itu?
Setelah menunggu beberapa menit, suaminya tak kunjung kelihatan. Apa iya Reza mau melukai diri sendiri.
Alia pun khawatir, meski ia kecewa dan sakit hati, ia tetap tak mau suaminya terluka.
Wanita itu pun langsung keluar dari kamar mencari sang suami yang entah dimana sekarang.
Ternyata Reza tengah duduk di tepi kolam renang sembari memasukkan dua kakinya ke air.
Karena posisinya Reza yang membelakangi Alia sehingga wanita itu tak tau apa yang dilakukan suaminya selain memasukkan kaki ke air.
Alia pun berjalan mendekat.
"Mas?"
Reza langsung menoleh ke belakang. Dengan mata yang sembab, laki-lak itui menatap sendu ke arah Alia.
Melihat itu, Alia menjadi sedih. Apa ia sudah keterlaluan marahnya? Tapikan belum juga semalaman ia marah, ia masih mau marah.
"Mas ngapain di situ?" tanya Alia menghentikan langkahnya menatap suaminya yang tak jauh darinya.
"Duduk," jawab Reza pelan.
Alia pun mengangguk dan memilih kembali masuk ke kamar, ia menjadi terlalu overthinking pada suaminya sekarang.
Sepeninggalan Alia, Reza kembali menatap air sembari terus menyesali perbuatannya.
"Ya Allah," lirih Reza.
Tapi, kenapa sekarang Reza merasa sakit ketika melihat Alia mendiaminya dan marah padanya?
Apa ia sudah jatuh cinta pada istrinya dan kini sedang menjilati ludahnya sendiri?
Ia bingung.
******
Keesokan harinya.
Semalam Reza tak tidur di kamar, ia tak ingin Alia kembali kesal padanya. Ia pun memilih tidur di sofa dekat kolam renang.
Dingin. Tapi tak sedingin hati Alia padanya.
Setelah selesai shalat subuh, Reza memilih untuk keluar dari penginapan.
Ia akan menghilang sebentar dari pandangan Alia, ia akan memberikan ruang sebentar untuk Alia menenangkan diri sampai ia bisa menjelaskan semuanya dengan baik.
Di sisi lain, Alia yang sudah selesai shalat subuh pun mencari keberadaan Reza. Ia baru mengetahui kalau suaminya tak tidur di kamar ketika ia bangun subuh tadi.
"Kemana mas Reza?" tanya Alia mencari-cari suaminya.
Hatinya sudah mulai membaik, ia akan memilih berdamai untuk masalah ini. Lagi pula, ini memang tidak di sengaja, Alia ingin berdamai saja dengan suaminya.
"Mas," panggil Alia. Tak ada sahutan darimana pun.
"Nona cari tuan ya?" tanya security saat Alia berjalan ke teras.
"Iya, kalian lihat suami saya?"
__ADS_1
"Tadi saya lihat tuan keluar, katanya dia ingin jalan-jalan pagi."
Alia pun mengangguk lalu keluar mencari suaminya. Ia ingin minta maaf karena sudah marah semalaman.
"Mas," panggil Alia saat melihat Reza tengah berjalan pelan di pinggir laut sembari menendang-nendang air laut.
Reza pun menghentikan langkahnya lalu menatap sang istri yang berjalan kearahnya.
Kenapa Alia mencarinya? Padahal ia sengaja memberikan ruang agar Alia bisa menenangkan diri.
"Mas ngapain di sini? Pagi-pagi kok main air sih?" tanya Alia sudah ada di dekat Reza. Kaus kakinya jadi basah terkena sapuan air laut.
Reza pun menggeleng dan kembali fokus pada air laut yang naik surut.
"Mas, ayo sarapan." Alia memegang tangan Reza membuat laki-laki itu kembali menatapnya.
"Kamu masih marah, Alia?" tanya Reza menggenggam tangan istrinya itu.
Alia menghela nafas panjang lalu kemudian menggeleng.
"Adek gak marah lagi kok," jawab Alia tersenyum.
Betapa lapang nya hati Alia yang selalu memaafkan kesalahan suaminya meski itu membuat hatinya terluka berkali-kali.
Reza pun langsung memeluk Alia dengan erat, menciumi kepala Alia yang tertutup oleh jilbab.
"Makasih, sayang." Reza menyeka ujung matanya yang berair, ia sangat senang karena Alia sudah tak marah padanya.
Ia berjanji, tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ia berjanji akan menjaga hati Alia agar tak tersakiti.
Jujur, ia katakan di hatinya. Sepertinya, ia sudah jatuh cinta pada istrinya sendiri dan kini perasaan takut kehilangan menyelimuti hatinya.
"Aku mencintaimu," ucap Reza dalam hati.
Reza masih saja memeluk Alia dengan air laut yang terus membasahi kaki mereka.
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan kemesraan mereka sembari tersenyum licik.
"Menyebalkan," ucapnya pelan lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan santai.
_
_
_
_
_
_
_
Loh, kok dimaafin sih? kapan kapoknya Reza kalau gitu?
Untuk sekarang kita maafin ya, untuk nanti ya terserah Alia lah😭😂
jangan lupa like, komen dan juga votenya yah.
tbc.
__ADS_1