
_Btw, covernya di ganti sama noveltoon. Bagus sih,cuma kurang sesuai aja karena kan Alia nya berhijab, sedangkan dalam cover, gak berhijab🙃_
*****
Happy reading.
Tepat di jam 10 pagi, Reza pun akhirnya membuka matanya. Laki-laki itu memegang kepalanya karena merasa masih pusing.
"Alia," panggil Reza dengan suara pelan. Ia pikir, ia sudah berada di penginapan.
"Kak Reza, kakak udah bangun?" tanya Nadia mendekat.
"Alia kepalaku pusing," ucap Reza masih belum jelas melihat siapa yang ada didepannya.
"Kak Reza pusing ya? Sini aku pijitin kepalanya," ucap Nadia menyentuh kepala Reza
Reza pun yang di sentuh kepalanya langsung tersadar, matanya terbelalak kaget melihat siapa yang ada di dekatnya sekarang.
Dengan kasar, Reza mendorong tubuh Nadia hingga jatuh ke lantai.
"Auw!" Nadia meringis saat ia di dorong dengan kerasnya.
"Kenapa kamu di sini, ha? Dimana Alia?" tanya Reza marah. Ia pun meraba dadanya dan lagi-lagi ia terkejut mendapati dirinya tak berpakaian.
"Keluar dari sini!" teriak Reza benar-benar marah. Ia baru ingat semalam ia di jebak di dalam taksi, apa itu adalah rencana dari Nadia.
"Kak, aku bisa jelasin. Aku cuma tolongin kakak kok karena kakak mabuk semalam," ucap Nadia berusaha memberi pembelaan.
"Aku gak percaya, set*n! Aku bahkan gak pernah minum alkohol, gimana aku bisa mabuk?" maki Reza berdiri lalu mendekati Nadia. Posisinya, Reza ini hanya menggunakan celana panjang saja.
"Ta-tapi.....
"Dimana bajuku?" tanya Reza mengepalkan tangannya. Bisa-bisanya ia di jebak.
"Di situ," tunjuk Nadia ke arah sofa. Reza pun langsung kesana dan mengambil bajunya lalu memakainya.
"Kakak, tadi istri kakak datang kemari. Aku udah coba jelasin kalau kakak mabuk terus aku gak bisa ngantar kakak, tapi dia malah marah terus pergi gitu aja," ucap Nadia tanpa rasa bersalah membuat Reza yang sedang memakai baju langsung menatap tajam ke arahnya.
"Apa kamu bilang?" tanya Reza kembali mendekat ke arah Nadia.
"A-aku ngangkat telepon dari istri kakak, mungkin dia khawatir. Jadi, aku kasih tau kalau kakak tidur di hotel bareng aku," jawab Nadia menunduk.
Plak!
"Auw!"
Satu tamparan keras mendarat di pipi Nadia, tamparan yang penuh dengan amarah itu bahkan berhasil membuat sudut bibir wanita hamil itu robek dan berdarah.
Plak!
"Kak!" teriak Nadia merasa nyeri di pipinya saat Reza tak henti-hentinya menamparnya. Mungkin, jika ia berkaca, maka wajahnya sudah tak cantik lagi.
__ADS_1
"Biad*b! Kamu sengaja kan? Kamu ngejebak aku! Dasar a*jing gila!" bentak Reza menjambak keras rambut Nadia.
"Ampun kak, ampun!" teriak Nadia saat Reza mencekiknya.
"Kalau sampai terjadi sesuatu sama istri aku ataupun pernikahan aku, akan ku buat kamu gak bisa melahirkan bahkan hamil lagi! Akan ku buat keluarga kami menderita! Dasar iblis!" teriak Reza menendang tubuh wanita hamil itu tanpa merasa iba dan kasihan.
"Sakit kak!" teriak Nadia histeris. Jujur, ia pikir akan beda ceritanya. Ia kira, Reza akan frustasi dan mau bertanggung jawab karena sudah tidur dengannya. Walau sebenarnya, mereka berdua tak tidur bersama, tapi, Nadia pikir semuanya akan berjalan mulus.
"Sakit? Cuih! Ini belum seberapa. Kalau mau mengadu ke polisi juga tak apa, karena aku banyak uang, jadi aku bisa membuat kamu yang mendekam di penjara bersama anak kamu itu," ucap Reza sinis meludahi wajah Nadia lalu berjalan ke arah nakas dan membawa ponsel serta dompetnya.
"Ini terakhir kalinya aku melihat kamu muncul bahkan berulah di hadapan ku! Kalau sampai ini terulang kembali, maka jangan salahkan aku bila aku tak punya belas kasih untuk membunuhmu dan anakmu itu!" tegas Reza lalu pergi meninggalkan Nadia yang terbujur lemah di lantai sembari meringis kesakitan.
Dengan tergesa-gesa Reza melangkah keluar dari hotel dan mencari taksi. Ia masih terus berdoa di hatinya agar Alia mau mendengarkan penjelasannya. Ia masih berharap untuk itu.
*******
Sesampainya di penginapan, Reza langsung mencari-cari Alia. Ia kesana-kemari, mencari pakaian Alia di lemari dan semuanya
Tak ada.
Di mana istrinya? Kemana Alia pergi? Kemana ia harus mencari?
"Ya Allah," lirih Reza.
"Alia kamu dimana?"
"Kalian liat istriku kan? Dimana dia?" tanya Reza pada para pelayan di situ.
Argghhh.
Reza benar-benar frustasi.
Apa Alia pulang ke rumah mereka? Atau malah pulang ke rumah orangtuanya? Reza benar-benar tak habis pikir dengan ini semua, bagaimana bisa ia di jebak dan sekarang istrinya sudah salah paham padanya.
Dengan tergesa-gesa, Reza mengemas barang-barang nya. Ia akan pulang juga, tapi tidak menggunakan pesawat melainkan menggunakan travel saja.
Ia yakin, pesawat yang di tumpangi Alia sudah terbang karena sekarang sudah jam setengah 11 lewat. Biasanya, pesawat yang terbang ke kotanya itu akan berangkat di jam 9 pagi.
Setelah berhasil mendapatkan travel ke kotanya dari loket, Reza pun akhirnya sudah naik mobil dan juga sudah melaju menuju kotanya yang akan memakan waktu berjam-jam.
Semoga saja, saat ia sampai di rumah. Alia akan ada di sana, terserah jika wanita itu marah padanya, yang terpenting bagi Reza, Alia akan selalu ada di dekatnya.
*****
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, tubuh Reza rasanya remuk semua karena kelamaan duduk.
Reza pun segera turun dari mobil yang sudah masuk ke pekarangan rumah.
"Apa istriku pulang kemari?" tanya Reza pada security yang berjaga.
"Iya, tuan. Nona datang dengan travel tadi siang," jawab security itu. Ternyata Alia naik travel, bukan pesawat. Reza pun menghela nafas lega lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah. Hari sudah sore, ia benar-benar lelah dan sekarang ia harus berhadapan dengan amarah istrinya nanti.
__ADS_1
"Oh ya, tuan. Tuan besar dan nyonya juga ada di dalam," lanjut security itu saat membantu membawakan barang-barang Reza ke dalam.
Deg.
Bagaimana ini? Mengapa orang tuanya bisa datang disaat tidak tepat. Bagaimana jika Alia mengadu, bisa kacau semuanya.
Reza pun dengan cepat masuk ke rumah dan betapa terkejutnya ia melihat kedua orang tuanya sudah duduk di sofa bersama dengan istrinya, Alia.
"Assalamualaikum, Pa, Ma, Alia." Laki-laki itu mendekat lalu mencium tangan kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh."
"Duduk!" titah Hery, Papa Reza.
Reza pun langsung duduk di sofa yang kosong itu sembari menunduk. Entah kenapa, perasaan nya tak enak.
Bruuk!
Reza meringis ketika sebuah ponsel melayang mengenai keningnya. Laki-laki itu pun langsung mengangkat kepalanya menatap sang Papa.
"Kami semua sudah tau apa yang terjadi!" ucap Hery dengan rahang yang mengeras.
Reza pun mengarahkan tatapannya ke arah layar ponsel yang sudah retak itu.
Matanya seketika membesar melihat foto di ponsel yang dilemparkan papa nya tadi. Fotonya yang tidur di sebelah Nadia, itu pasti di kamar hotel yang tadi.
"Pa, Reza bisa jelasin. Ini semua salah paham," ucap Reza benar-benar takut. Takut orang tuanya membencinya, takut jika orang tuanya mengambil Alia darinya.
_
_
_
_
_
_
Waduh kenapa gitu sih Thor?
Sayang, setiap cerita itu ada konfliknya. Kan gak mungkin mesra² aja sampai tua, monoton namanya itu. Bahkan di kehidupan nyata tidak ada tuh yang mulus2 aja.
Lagi pula, dengan ini kalian bakalan bisa menikmati momen dimana Reza lah yang mengejar cinta Alia. Sesuai sinopsis 😘
Mereka gak bakalan cerai kok, kalau cerai gak sesuai judul dong😁😁
Jangan lupa, like, komen, dan juga votenya 😘
tbc.
__ADS_1