
"Mas?" panggil Alia saat ia melihat Reza sedang makan dengan lahap di tengah malam. Ia terbangun ketika menyadari suaminya sudah tak ada di sampingnya, karena penasaran Alia pun mencari Reza hingga ke dapur.
Uhuk...Uhuk...
Mendengar panggilan Alia laki-laki itu sontak tersedak dan terbatuk-batuk. Ia sudah ketahuan, bagaimana ini? Masih ada satu potong ayam lagi di piringnya.
"Kok makannya berhenti mas?" tanya Alia duduk di sebelah suaminya.
Ekhem..ekhem
Reza pun melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Alia. Ia dengan cepat menghabiskan sisa nasi dan ayam di piringnya.
Setelah selesai, laki-laki itu meletakkan piring kotor di wastafel lalu mencuci tangannya.
"Biar adek aja yang cuci," ucap Alia saat melihat Reza ingin mencuci piring bekas makanya tadi.
"Gak usah! Mendingan lo pergi tidur aja sana!" ketus Reza menepis tangan Alia.
Wanita itu pun hanya diam saja dan memilih kembali duduk di kursi sembari menunggu suaminya sampai selesai mencuci piring.
"Gulainya habis ya? Mas suka kan?" tanya Alia tersenyum manis di belakang Reza
"Gue cuma lapar aja, karena gak ada lauk yang lain yah terpaksa gue makan itu!" jawab Reza jutek.
"Oh, padahal adek tadi nyimpen udang balado deh, apa udah habis ya? Apa dimakan sama mereka ya?" ucap Alia berjalan menuju lemari penyimpanan. Melihat itu Reza langsung bereaksi.
"Alia!"
"Iya mas?" Alia langsung menatap sang suami.
"Lo cuci piring ini, gue mau ke kamar." Reza harus kabur karena di lemari penyimpanan masih banyak lauk lain selain ayam gulai.
"Oh, oke." Alia pun langsung mengambil alih piring yang sudah di cuci Reza lalu membilasnya.
Melihat itu, Reza langsung pergi ke kamar. Jujur ia malu, takut Alia tau kalau ia suka masakannya. Ia tak mau Alia besar kepala nanti, lagi pula sulit untuknya bisa jujur dan mengakui kehebatan istrinya dalam memasak.
Setelah selesai mencuci piring, Alia pun kembali ke kamar. Di sana, Reza tampak duduk sembari bersandar di kepala ranjang.
"Mas, adek tidur lagi ya." Alia pun membaringkan tubuhnya, sebenarnya ia sangat mengantuk, hanya saja ia penasaran kemana suaminya pergi tadi.
"Hm."
Alia pun kembali memejamkan matanya meninggalkan Reza yang masih fokus pada ponselnya. Dengan perut yang kenyang membuat laki-laki itu enggan tidur ataupun berbaring karena takut perutnya berlemak nanti.
*****
Di sisi lain, Bima kini baru saja akan pergi tidur. Laki-laki itu sudah biasa bergadang dan tidur larut malam hanya untuk main game.
Di saat ia berbaring, tak lupa ia kembali menatap ponselnya melihat pesan dari teman-teman dan juga barisan matan gagal move on darinya.
Bima kembali membuka pesan nya untuk Alia dimana wanita itu telah memblokir nomornya.
Lebih tepatnya, suami Alia yang memblokir.
"Apa gue hubungi pakai nomor baru aja ya?" tanya Bima memilih kembali untuk duduk.
"Sekarang udah jam setengah satu, berarti dia udah tidur kan. Tapi coba aja deh," ucap Bima mengambil SIM card lain di dalam laci. SIM card yang digunakan untuk menelpon para pacarnya yang kini sudah jadi mantan.
Setelah memasukkan SIM card, Bima pun langsung memasukkan nomor ponsel Alia lalu mencoba menghubungi nomor tersebut.
Nada masuk terdengar, panggilan Bima tersambung. Dengan hati yang berdebar, Bima menunggu Alia menjawab telepon nya.
"Halo, assalamualaikum."
__ADS_1
Deg!
Jantung Bima seperti mau copot saat mendengar suara serak Alia dan itu sangat menggemaskan baginya.
"Halo, siapa ya?"
Bima masih terdiam tanpa berniat menjawab pertanyaan Alia. Mendengar suara Alia saja ia sangat senang.
"Halo," ucap Alia dari seberang sana.
Bima pun langsung memutuskan panggilan lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Akhirnya," sorak Bima kegirangan.
"Malam ini gue bakalan tidur nyenyak karena udah denger suara bidadari," lanjut Bima menarik selimut lalu memeluk guling nya.
"Semoga Alia masuk ke mimpi gue," ucap Bima tak henti-hentinya tersenyum.
Di sisi lain, Alia tampak bingung dengan si penelepon barusan. Nomor baru dan tak ada jawaban.
Mungkin salah nomor.
Alia pun kembali tidur menghadap Reza yang juga sudah tidur juga. Ternyata rasa kantuk laki-laki itu mengalahkan rasa takut akan perut berlemak.
******
Keesokan harinya.
"Tuan ada kiriman dari nyonya," ucap salah satu pembantu memberikan sebuah amplop pada Reza.
Reza yang hendak ke kampus pun mengambil amplop itu lalu membukanya sembari berjalan menuju mobil.
Ada surat di sana dan juga tiket.
"Untuk anak mama yang ganteng dan juga menantu mama yang cantik, mama tau kalian gak lama lagi ujian semester dan bakalan libur kan. Nah, setelah ujian semester nanti kalian pergilah bulan madu yang sempat tertunda. Mama sudah pesankan tiket dan juga tempat tinggal kalian semua sudah di siapkan di sana, kalian tinggal bawa baju dan badan serta cinta kalian berdua, wkwkwkwk.
^^^Selamat berbulan madu sayangku ❤️"^^^
"Apa-apaan ini?" Reza pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi sang mama.
Panggilan tersambung.
"Assalamualaikum, Ma."
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, anakku yang tampan sejagat kota. Tidak ada penolakan kalau kamu masih ingin dianggap anak, pergilah berbulan madu setelah ujian semester nanti. Semoga pulang-pulang dari sana sudah membawa kabar baik ya, mama tutup ya. Assalamualaikum," ucap mamanya langsung menutup panggilan tanpa mendengarkan penolakan dari Reza terlebih dahulu.
Reza pun menatap kesal tiket bulan madu itu.
Memang benar satu Minggu lagi mereka akan ujian semester, setelah itu akan ada libur semester seperti biasanya.
"Bulan madu? Bersama Alia? Yang benar saja?
Reza tak henti-hentinya menggerutu sembari mengemudikan mobilnya menuju kampus.
******
Dua Minggu kemudian.
Ujian sudah usai dan kini sudah waktunya libur semester, Reza masih bimbang mengajak Alia pergi bulan madu seperti arahan Mamanya.
Apa dia pura-pura saja ya? Dia akan membuat seperti mereka sedang bulan madu, padahal tidak.
Ah itu ide bagus, pikir Reza.
__ADS_1
"Mas, mama tadi nelpon katanya....
"Ayo kita bulan madu," ucap Reza memotong ucapan Alia.
Alia tampak kaget dengan penuturan suaminya itu.
"Jangan salah paham dulu, gue ngajak lo juga terpaksa karena mama yang maksa." Reza melemparkan tiket bulan madu itu ke depan istrinya.
Alia pun memungut tiket bulan madu itu lalu melihatnya dengan teliti.
"Mama tadi bilang itukan sama lo?" tanya Reza bingung saat melihat ekspresi Alia.
"Enggak, mama tadi cuma nanya kabar aja terus sama kegiatan di rumah apa aja," jawab Alia membuat Reza tertegun.
Gagal sudah rencananya untuk memanipulasi bulan madunya.
"Akhhh!" teriak Reza membuat Alia kaget dan mendekati suaminya itu.
"Jangan di ambil pusing mas, adek bakalan ikut kok." Alia mengelus-elus bahu Reza membuat laki-laki itu semakin frustasi.
"Adek janji kali ini bakalan jadi deh," lanjut Alia. Alhasil laki-laki itu menatap bingung ke arah Alia.
"Maksud lo apa?" tanya Reza.
"Malam pertamanya, adek janji bakalan jadi. Adek kan udah haid bulan ini, jadi semuanya akan lancar," jawab Alia tersenyum manis sembari mengedipkan sebelah matanya.
Hal itu membuat Reza langsung memalingkan wajahnya.
"Siapa juga yang mau malam pertama sama lo," gumam Reza masih bisa didengar oleh Alia. Wanita itu terkekeh geli mendengar gumaman suaminya yang menurutnya masih salah satu sifat gengsi dari suaminya.
"Semangat mas," ucap Alia mengangkat sebelah tangannya.
"Semangat buat apa?" tanya Reza ketus.
"Bulan madu," jawab Alia tertawa bahagia lalu meninggalkan Reza yang masih terpaku dengan tawa Alia.
"Ngebet banget pengen malam pertama sama gue," gumam Reza tersenyum.
Ia tak tau, di luar sana Alia memegang dadanya sembari melotot.
"Bulan madu, ya Allah. Gimana ini? Aku masih takut," ucapnya mulai kepikiran. Kebahagiaan yang ia tunjukkan tadi hanyalah sebuah trik agar suaminya tak grogi dan juga semakin melunak padanya.
_
_
_
_
_
_
_
Bulan madu🎉
Ada yang mau ikut?
Jangan lupa like, komen dan juga votenya. Dukungan kalian sangatlah berharga bagi author 💚
TBC.
__ADS_1