
Sinta tertawa mendengarnya. Tapi kalau dilihat dari wajahnya pun ia juga tahu kalau Tias adalah gadis yang jauh dari kata banyak bicara. Bukan sombong namun gadis itu lebih seperti pendiam dan juga kalem. Matanya juga teduh dan cerdas namun Sinta lihat ada ketajaman di sana. Semacam emosi ketegasan, mandiri, amarah, dan juga tertekan di sana. Tidak terlalu terlihat sih karena mungkin Tias tipe orang yang pintar menyimpan perasaannya sendiri.
Yah maklum saja, pekerjaannya yang sebagai seorang dokter psikologi membuatnya selalu menilai diam diam karakter orang lain.
" Hai Tias, nama saya Sinta. Ibunya si Kades jelek itu salam kenal ya."
Tias tersenyum sopan. " Salam kenal ibu..."
" No no no ! Jangan panggil saya ibu. Saya belum tua kali, tolong panggil saya bunda." ucap Sinta setelah memotong ucapan Tias begitu saja.
Tias tercengang mendengarnya. Ibu sama bunda apa bedanya ? Bukannya itu sama juga tua ya ?.
" Bun jangan kayak gitu. Lihat dia jadi bingung dan tertekan gitu." ucap si Kades.
Sinta tertawa lalu berjalan menghampiri Tias dan memeluknya. " Maaf ya, saya memang suka bercanda kelewatan. Tapi untuk panggilan bunda itu saya nggak bercanda sama sekali."
" Ng..nggak apa apa ib..." Tias berhenti berbicara saat melihat neneknya yang memelototinya penuh peringatan.
" Bunda, Tias tahu kok." lanjutnya berbicara.
" Aduh.., kamu baik banget sih. Pengen tak jadiin mantu biar jadi anak bunda. Tapi bunda nggak mau kalau kamu sama si Kades jelek itu. Nanti nggak ada yang bisa diambil dari dia selain uangnya."
Si pak Kades itu memutar mata malas melihat Sinta yang mulai memancing rasa kesalnya. " Bunda udah itu masakannya udah mateng. Nanti gosong kalau dibiarkan terus."
" Oh iya !" Sinta melepaskan pelukannya dan beralih pada masakannya lagi.
Ruwi tertawa dan menepuk kepala Tias yang terlihat kebingungan sekarang. " Sebelum nenek jelasin ayo kenalan lagi sama pak Kades."
__ADS_1
" Loh tapi udah tadi di pasar nek ?" Tias mengerutkan keningnya merasa tidak senang.
" Memangnya kamu tahu siapa nama aslinya pak Kades ?" ucap Ruwi balik bertanya.
Tias menggeleng lemah kemudian memandang si Kades itu. Menatapnya bingung karena sebelumnya mereka sudah berkenalan saat di pasar tadi.
" Nama saya Abrisam dan biasa dipanggil Risam di sini. Saya jangan dipanggilin pak Kades terus kalau ketemu. Saya merasa sudah tua padahal saya nggak sedang memakai baju dinas. " Risam memperkenalkan dirinya terlebih dahulu dengan kalimat setengah bergurau.
Tias hanya menganggukkan kepalanya. Mau menolak sih sebenarnya tapi Tias tidak berani. Jadinya ia hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Nak Risam dan Sinta itu biasa datang ke rumah buat nemenin nenek sebelum ada kamu. Mereka juga kadang nginap di sini dan sudah seperti keluarga kita sendiri. Jadi kamu jangan sungkan sungkan sama mereka." jelas Ruwi.
" Iya nek." Tias menjawab singkat agar cepat selesai. Kalau ngobrol terus kapan mereka makan siangnya. Tias sudah keburu lapar setelah mengayuh sepeda bolak balik dari rumah, ke pasar, dan ke kebun sawitnya. Apalagi harumnya masakan sudah tercium sejak tadi.
" Nah ayo makan ! Sayurnya udah mateng nasinya juga baru aja ikut mateng. Ayo bantu bantu bawa piring sama gelas." ucap Sinta
" Heh cucu, kamu bukannya bantuin malah mendongong nengokin orang kerja. Ini bawa ke kemeja makan sana !" Ruwi memberikan seteko air putih.
Tias menghela napas sabar. Dengan malas ia berjalan ke meja makan. Padahalkan Tias ingin terima bersih saja. Jalan ke meja makan, duduk, terus makan. Bukannya malah bantuin mereka bawa bawa peralatan makan seperti ini.
" Aduh kok kamu yang bawa airnya. Udah sini duduk biar bunda ambilkan makan. Yang lainnya biar Kades jelek itu aja yang bawa." Sinta menarik pelan Tias agar duduk di kursi.
Tias tersenyum senang dan dengan semangat mengikuti Sinta. " Terima kasih bun."
" Sama sama cantik."
" Loh Sinta itu Tias kok malah disuruh makan duluan. Nggak sopan, padahal yang tua sibuk kerja malah kamu tinggal enaknya aja makan." Ruwi datang membawa potongan buah semangka namun melihat Tias yang baru saja ingin memasukkan nasi ke dalam mulut ia langsung mengomel.
__ADS_1
" Tias kamu itu harusnya bantu dulu baru makan. Kalau nggak bantuin masak ya setidaknya bantuin bawa bawa apa gitu. Nggak malu sama nak Risam ? Dia laki laki aja dari tadi bantuin terus lah kamu ? Malah tinggal enaknya makan." sambungnya.
Jleb !
Rasanya ada yang sakit tapi nggak luka. Tias tidak jadi memasukkan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ia meletakkan kembali sendoknya dan tidak menyentuh piring makannya lagi.
Salah satu hal yang paling Tias benci adalah ada yang memarahinya saat makan. Baginya itu sama saja menelan racun. Lebih baik Tias tidak memakannya sama sekali.
" Nek yang nyuruh Tias makan itu saya tadi. Kan nggak apa apa makan duluan. Kalau masalah bantuin biarkan aja anakku yang nyiapin orang dia laki laki. Lagian udah biasa Risam di rumah kayak gitu." ucap Sinta.
" Ya nggak bisa gitu Sinta. Kamu jangan terlalu baik sama cucu nenek ini. Lihat jadinya ..."
Tias langsung beranjak bangun dari tempat duduk dan berjalan ke dapur. Entah apa yang diomongkan lagi oleh neneknya itu ia tidak perduli.
Di dapur Tias berjalan menghampiri Risam yang tengah mencuci buah apel. " Biar saya bantu pak."
" Eh dek Tias ? Nggak usah dek, ini udah hampir siap kok." Risam tersenyum canggung. Bukan karena apa tapi suara nenek Ruwi yang tengah mengomel bisa sampai ke dapur dan terdengar olehnya.
Padahal Risam tidak masalah sama sekali mengerjakan ini semua. Lebih baik mengerjakan sendiri dari pada harus melihat Tias si gadis cantik ini terdiam dengan mata yang menyorot dingin. Kasihan, pasti dia lapar sampai mau makan duluan.
" Udah nggak apa apa. Bapak ke depan aja, ini biar saya yang nyiapin." pinta Tias dengan senyum dipaksakan.
" Ya udah, saya duluan ke depan ya dek."
Risam yang bingung harus melakukan apa terpaksa menyerahkan pekerjaannya kepada Tias. Kemudian beranjak pergi ke ruang makan menghampiri bundanya. Sepertinya kali ini bundanya itu sudah kelewatan batas hingga perlu ditegur sedikit.
" Yah mau bagaimana lagi ? Dari dulu kerjaan gue itu dilayani bukan melayani. Lagian kalo udah laper apa salahnya makan ? Ini kan bukan kerajaan yang harus pakai tata krama meja makan." Tias bergumam dengan wajah kesal.
__ADS_1