Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Ambil Alih


__ADS_3

Tias memutar mata bosan, si Kades itu banyak bicara ternyata. Padahal ia sengaja menjawab begitu agar dia bisa merasa bahwa jawabannya tadi adalah usiran halus dari Tias karena malas berbicara lagi.


Sebenarnya Tias mau bilang pada Kades itu untuk jangan bicara dengannya karena ia tidak suka. Tapi Tias tidak berani karena dia memiliki jabatan yang yah cukup penting di Kampung ini.


Mana kata neneknya dia itu agen sawit di sini lagi. Nanti kalau dia marah mau dijual kemana buah sawitnya kalau sudah waktunya panen.


Kalau sudah begini, rasanya Tias ingin menjadi kaya raya seperti papanya agar ia bisa bertingkah semaunya sendiri. Tidak perlu menahan diri dihadapan orang lain karena masih merasa membutuhkannya.


" Dek Tias ada kegiatan nanti malam ?" tanya Risam.


Tias tersentak kaget lalu menggeleng namun beberapa saat kemudian ia mengangguk. Risam mengerutkan kening bingung melihatnya.


" Jadi..., ada atau nggak ?" Risam bertanya ragu.


Tias menggigit bibir bawahnya merasa kesal. Kenapa bisa bisanya kepalanya menggeleng lalu mengangguk begitu saja seperti orang bodoh. Kalau sudah seperti ini Tias jadi ragu kalau ingin berbohong.


" Dek Tias ?"


" Tergantung seberapa lama kegiatannya pak."


Risam mengangguk mengerti. " Sebenarnya saya ingin mengajak dek Tias keperkumpulan pemuda pemudi Kampung. Ini kan hari minggu biasanya kami mengatur ulang jadwal ronda, bersih masjid, pengajian, gotong royong, dan Kersani. Sekalian mengenalkan dek Tias kepada pemuda pemudi Kampung supaya lebih mudah berinteraksi."


Tias merasa terkejut mendengar satu persatu kegiatan yang diucapkan Kades muda itu. Apakah semua orang Kampung melakukan hal yang sama juga ?.


Kok kelihatannya orang Kampung lebih sibuk dibandingkan orang orang di Kota sepertinya. Tias juga baru kali ini mendengar bersih masjid, pengajian, gotong royong, dan Kersani di jadwal ulang.


" Pak, Kersani itu apa ?"


" Kersani itu singkatan dari Kerjasama Bertani. Kami biasanya menanam bahan bahan pangan atau kacang kacangan untuk membantu orang orang lansia yang sudah tidak memiliki keluarga lagi di sini." jelas Risam.


Tanpa diduga Tias tersenyum mendengar penjelasan itu. Bekerja untuk membantu orang yang membutuhkan. Tias sangat menyukai kegiatan seperti itu. " Saya mau ikut."

__ADS_1


Risam tersenyum lalu mengangguk sekilas sembari menatap dalam senyuman manis yang terus Tias tampilkan di wajahnya. Sangat cantik dan juga manis disaat bersamaan. Risam baru kali ini melihat gadis secantik Tias. Pantas saja bundanya langsung menyukai gadis itu dipandangan pertama tadi.


" Kalau begitu jam tujuh selesai magrib saya jemput."


" Iya."


Risam menaruh piring terakhir ke rak di depannya. " Ini piringnya sudah selesai."


" Ya udah berati udah siap semua pak. Saya ke depan duluan." tanpa menunggu jawaban Tias berjalan cepat keluar dari dapur.


Risam terkekeh melihat Tias yang cepat sekali menghilang dari pandangannya. Padahal kalau itu gadis lain mereka pasti lebih banyak mencari alasan agar terus bersamanya. Tidak seperti Tias yang langsung pergi dan menghilang sampai Risam bingung mendekatinya.


Risam mencuci tangannya di wastafel lalu berjalan kearah kulkas. Dipandanginya foto seorang pria gagah berpakaian tentara lengkap dengan pangkat yang terlihat jelas di topi dan pakaiannya.


" Aku pasti menjaga kesayanganmu kak."


Setelah itu Risam berbalik pergi menyusul Tias di ruang tamu yang mungkin lagi berbicara dengan bunda dan nenek Ruwi.


" Besok kalau manen biar bunda suruh si Risam buat bantu kamu ya ? Lagian kebun kita kan sebelahan. Nanti kalau kamu udah tahu cara ngolahnya baru bisa dikerjain sendiri." ucap Sinta.


" Kamu jangan bandel kalau dibilangin. Nurut sama yang tua lagian kamu kan selama ini tinggal di kota. Mana tahu hal hal kebun kayak gitu." ujar Ruwi.


Benar juga, walau kelihatannya sepele dan mudah dikerjakan. Tapi kalau Tias sendiri tidak tahu sama saja bodoh namanya. " Ya udah kalau nggak ngerepotin."


" Ada apa sih bun ?" Risam duduk di sebelah bundanya.


Sinta menepuk pelan pundak Risam lalu menatap Tias. " Ini loh si Tias, dia kan baru kali ini ngolah kebun sawit. Jadinya bunda suruh biar dia manennya dibantu sama kamu. Lagian kan kebun kita sebelahan, maksud bunda biar sekalian gitu."


" Oh gitu rupanya. Ya nggak apa apa kalau dek Tias nya mau." Risam tersenyum tanpa keberatan.


Namun tanpa mereka sadari. Di sini Tias yang sebenarnya tidak mau dibantu sama Kades muda itu. Entah kenapa rasanya Tias selalu risih bila berdekatan dengannya. Mungkin saja ini pertanda kalau ada maksud tersembunyi dari keramahannya itu.

__ADS_1


" Nah itu Risam nya mau. Kamu jangan ngeyel loh ya. Liat dulu gimana Risam ngatur orang buat manen sawitnya. Setelah itu baru kamu bisa sendiri ngurus itu kebun sawit." ucap Ruwi.


Dengan setengah hati Tias mengangguk setuju. " Iya nek."


" Oh iya nek, saya mau izin bawa dek Tias nanti malam ke perkumpulan pemuda pemudi." pamit Risam.


" Ya nggak apa apa asal dipulangkan lagi cucu nenek ya." Ruwi membalas dengan sedikit gurauan yang membuat Risam dan Sinta tertawa.


" Kalau nggak saya pulangkan mau saya kemanain cucunya nenek emangnya ?"


" Ya mana tahu kan." jawab Ruwi.


" Paling saya culik buat dijadikan mantu." ucap Sinta.


Ruwi tertawa mendengarnya. " Nggak apa apa sih kalau begitu. Tapi saya kasian sama Risam yang harus hidup sama batu."


" Ehem ! Bisa tolong sekarang aja tanda tangan suratnya ? Soalnya Tias mau pergi habis ini."


" Kemana ?" tanpa sadar Risam bertanya.


" Privasi pak."


Sinta menepuk pelan paha putranya lalu berbisik. " Cepat selesaikan urusan yang penting dulu. Baru nanti kita bergurau lagi."


" Ya udah." Risam mengambil beberapa map kemudian memberikannya pada Tias. " Dek Tias tanda tangan di atas materai. Setelah itu surat tanah dan tanda kepemilikan atas semua harta warisan bisa dek Tias ambil alih."


Tias membaca isi map itu satu persatu dengan seksama sebelum menorehkan tanda tangannya. Lalu diberikannya kembali beberapa map itu pada Risam. " Terima kasih pak."


" Nggak perlu berterima kasih, ini sudah kewajiban saya sebagai Kades di sini." jawab Risam.


Tias memandang map map itu di tangan Risam. Setelah semua urusan warisan itu selesai dan banyak orang yang mengetahuinya. Apa para om, tante, dan sepupunya yang gila harta itu bisa menerima hal ini ?.

__ADS_1


Tias takut kalau warisan yang ia ambil alih ini malah awal dari masalah perpecahan keluarga dipihak neneknya. Mereka yang rakus akan harta pasti tidak akan menerima jika semua harta pamannya malah diwariskan untuknya sendiri. Bahkan adiknya tidak ada dibagikan sedikitpun.


Bagaimana kalau hal itu benar benar terjadi ? Batin Tias bertanya.


__ADS_2