Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Pakaian Baru


__ADS_3

Tias memasukkan sepeda ke dalam garansi. Akhirnya setelah menguras cukup tenaga mereka bisa pulang dengan selamat dan diakhiri dengan habisnya tenaga Tias.


Ruwi tertawa melihat cucunya yang terlihat lemas setelah sampai di rumah. " Katanya tadi kuat bawa ke pasar naik sepeda. Sekarang pulang kok loyo kayak gitu sih ?"


" Capek nek." Tias menjawab singkat.


" Masa sih ? Perasaan badan nenek nggak gemuk gemuk kali. Langsing malah, terus dosa nenek juga nggak banyak banyak amat."


Hah ! Apa neneknya ini tidak sadar diri ?.


Tias menghela napas mencoba sabar lalu memandang tubuh neneknya yang memiliki besar tubuh dua kali lipat dari pada tubuhnya sendiri. Kalau ia bilang gemuk pasti neneknya itu akan mengamuk karena tidak terima dibilang begitu. Tias berjalan lemas mengambil semangka jumbo di keranjang sepedanya dan memberikannya kepada neneknya.


" Ini beban nek, ambil aja. Tias udah nggak selera lagi liatnya." ucapnya sebelum beranjak pergi menuju kamar sambil membawa beberapa pakaian barunya.


Ruwi melotot merasakan seberapa berat semangka di tangannya itu. Ini bukan hanya berat tapi sangat sangat berat. Bisa kambuh asmanya kalau membawa semangka seperti ini. Pantas saja cucunya itu terlihat lemas seperti orang yang hidup segan matipun tak mau.


Tias meletakkan semua kantung kresek berisi pakaiannya di atas ranjang. Dilihatnya kembali satu persatu pakaian yang baru dibelinya itu. Mana tahu kan ada yang salah atau yang tertinggal di pasar tadi. Lagi pula semua pakaian barunya ini harus ia cuci terlebih dahulu sebelum dipakai.


Kalau tidak Tias mana mau memakainya karena masih jorok. Juga dirinya ini bukanlah tipe orang yang kalau memiliki baju baru langsung dipakai tanpa dicuci dulu.


Bukan karena sok bersih. Tapi jujur saja Tias pernah melihat robongan ibu ibu membeli pakaian obral yang didiskon. Dari sana Tias melihat salah satu diantara mereka ada yang tengah mengelap keringat di wajah dengan menggunakan pakaian obral yang didiskon itu. Padahal pakaian yang digunakannya untuk mengelap keringat itu bukanlah pakaian yang akan dibelinya.


Nah, dari sana Tias merasa jijik setiap kali membeli pakaian baru namun langsung dipakai tanpa dicuci terlebih dahulu. Kecuali Tias membeli pakaian dibutik terkenal. Barulah mungkin ia mau memakainya secara langsung.


" Loh kok pakai baju yang semalem ? Kenapa nggak yang baru dibeli tadi aja ?" tanya Ruwi saat melihat Tias yang membawa setumpuk pakaian ke mesin cuci.


" Jorok nek harus dicuci dulu." jawab Tias.


Ruwi mengerutkan keningnya heran. " Jorok dari mana ? Baru itu loh Tias, kamu yang beli tadi di pasar."

__ADS_1


" Justru karena aku yang beli, aku juga yang pakai bajunya. Aku yang tahu baju ini bersih apa nggak. Aku jijik kalau harus dipakai tapi belum dicuci dulu nek." ucap Tias sambil mulai memasukkan pakaian barunya ke dalam mesin cuci.


" Terserahlah nak, terserah. Nenek nggak nyangka kamu besarnya jadi gini." Ruwi sudah pasrah dan membiarkan cucunya itu melakukan segalanya sesuka hatinya sendiri. Lebih baik ia memasak dulu dan mengisi perut agar pikirannya bisa lebih jernih. Mana tahu dengan perut terisi cucunya itu bisa menjadi lebih normal lagi.


" Memangnya aku besar jadi apa nek ? Perasaan bentukku nggak pernah berubah. Masih tetep jadi manusia yang punya satu hidung, dua mata, dua tangan, dua kaki, dua telinga, dua lubang hidung, satu mulut, satu muka, dan satu badan utuh dengan organ yang lengkap. Makanku juga masih nasi dan aku jug..."


" Terserah kamu Tias, terserah. Nenek mau masak dan lebih baik kamu diem aja. Kamu bagus kalau nyanyi tapi bikin pusing kalau ngomong." ucap Ruwi yang membuat Tias terperangah.


" Nek ini Tias lagi jelasin loh biar nenek jangan salah paham."


Ruwi menggelengkan kepalanya. " Nggak perlu nenek udah tahu."


Tias memanyunkan bibirnya ke depan. Neneknya benar benar mengesalkan hari ini. Tidak lihat kalau cucunya sedang butuh pujian dan juga hiburan.


TOK TOK TOK !


" Assalammualaikum ! Nek, nek Ruwi !"


" Ah iya tunggu sebentar !" Ruwi menoleh menatap Tias. " Bukain sana, nenek lagi masak."


Tias mengangguk pasrah dan berjalan ke ruang tamu untuk membuka pintu.


CEKLEK !


" Assalammualaikum dek. Nenek Ruwinya ada ?" seorang wanita paruh baya datang bersama pak Kades yang tadi ditemuinya di pasar.


Tias tersenyum sopan membalas wanita paruh baya itu. " Ada kok buk, nenek lagi masak di dapur. Ayo silahkan masuk dulu."


" Terima kasih ya dek. Kamu baik banget sih." wanita paruh baya itu terlihat antusias setelah melihat senyumannya.

__ADS_1


Perasaan tidak enak langsung datang. menghampirinya perlahan. Tias sering melihat senyum yang seperti itu setiap kali ia menemani mamanya berkumpul dengan teman sosialitanya.


" Loh Sinta ? Ada apa Sin kok tumben ?" Ruwi datang dengan membawa celemek di tangannya.


Wanita paruh baya yang bernama Sinta itu semakin tersenyum melihat orang yang dicarinya sudah terlihat. " Ini loh nek, surat surat yang kemarin itu udah siap. Terus saya tadi baru aja manen sayuran. Karena keinget nenek jadi saya bawain ke sini sekalian nemenin Risam."


" Oalah iyanya ? Terima kasih ya Sinta. Nenek seneng banget sama sayuran. Ayo ke dapur sambil cerita cerita soalnya nenek lagi masak." ucap Ruwi.


" Saya bantu kayak biasanya ya nek ?" Sinta bertanya tanpa canggung.


" Iya sekalian makan siang di sini."


Tias mengerutkan keningnya melihat interaksi di depannya saat ini. Seperti biasa katanya tadi ?.


Berarti mereka sering melakukan hal yang sama sebelumnya. Tias berjalan acuh tanpa mau berbasa basi dengan si Kades yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Lebih baik Tias melanjutkan acara mencuci pakaiannya agar cepat kering dan bisa di pakainya nanti.


Tanpa memperdulikan sekitarnya Tias menyelesaikan dengan cepat menyiapkan pekerjaannya. Setelah itu menjemurnya di belakang rumah neneknya.


Selesai Tias kembali masuk dengan membawa keranjang kosong yang dipakai untuk membawa pakaiannya tadi. Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat neneknya, Sinta, dan si Kades itu malah memasak bersama sambil bercanda gurau.


Ini kenapa malah terlihat tamunya yang punya rumah ?.


Itu juga si Kades itu kenapa pula ikut ikutan masak bersama neneknya. Apa dia tidak punya pekerjaan lain ?.


" Tias udah siap belum nyuci bajunya ?" tanya Ruwi.


" Udah nek."


" Taruh keranjangnya terus datang ke sini."

__ADS_1


Tias mengikuti kemauan neneknya. Diletakkan keranjang pakaian itu di sebelah mesin cuci lalu berjalan mendekati neneknya.


" Sinta ayo kenalan dulu sama cucuku. Dia ini orangnya harus dipancing dulu baru mau ngomong. Kalau nggak ya kamu nggak bakalan pernah dengar suaranya." ucap Ruwi sembari tertawa jahil.


__ADS_2