
" Selamat pagi dek Tias."
Tias menghentikan larinya lalu menghela napas sembari memejamkan mata. Berusaha semaksimal mungkin mengumpulkan semua stok kesabarannya untuk yang kesekian kali. Benar benar sekali orang ini, masih subuh begini tapi dia sudah ada disekitarnya. Apa dia tidak memiliki kegiatan lain ? Apa dia juga tidak sibuk ?.
Padahal Tias sudah mengambil jalur yang tidak melewati rumahnya Risam agar tidak bertemu dengan pria itu. Tetapi malah dia sendiri yang datang menghampirinya.
" Dek Tias."
Suara itu kembali memanggilnya. Tias berbalik dengan enggan dan berusaha tersenyum. Ingatan akan kemarin Risam yang sudah bersedia membantunya membuat Tias sedikit tidak enak kalau mengabaikannya.
" Dipanggilin dari tadi tapi dek Tias-nya nggak dengar dengar. Saya sampai lari nyusul ke sini loh." Risam berhenti tepat di sebelah Tias dengan setelan training hitam dan kaos abu abu.
Tidak ada yang memintanya ! Tias menjawab dalam hati. Lagi pula dilihat dari wajahnya Tias yakin kalau Kades muda itu habis berlari. Wajahnya saja tidak berkeringat sedikitpun, bahkan napasnya masih normal seperti biasa. Masa iya dia lari menyusulnya barusan, mana percaya Tias. Tapi kalau seandainya Kades itu bilang kalau dia sejak tadi menunggunya, mungkin Tias akan percaya. Secara kan dari tadi Tias lari ia tidak mendengar apapun.
Tias melihat lihat sekelilingnya untuk menebak dimana sebelumnya Kades itu bersembunyi. Ia tidak akan percaya kalau Risam berlari mengejarnya sejak tadi.
" Dek Tias."
Tias kembali beralih menatap Risam. " Iya ?"
" Diajak ngobrol kok malah melamun. Kesambet jin lewat nanti, mana masih pagi lagi ini." ucap Risam yang membuat Tias memutar mata malas.
" Ada apa pak Kades manggil saya ?" Tias bertanya karena sudah jenuh mendengar Risam yang terus berbicara.
" Itu loh dek Tias tentang manen sawit. Kalau mau diambil uangnya udah ada di rumah."
" Kok cepet banget ?" Tias bertanya lagi.
" Kemarin saya suruh orang orang saya untuk manen hari minggu. Jadi sekarang udah tinggal ngambil hasilnya aja, dek Tias bisa datang ke rumah kan ? Soalnya saya nanti masih ada tamu juga yang mau datang ke rumah. Jadi saya nggak bisa ngantar uangnya ke rumah dek Tias." ucap Risam menjelaskan.
Tias menganggukkan kepalanya tanpa berpikir buruk lagi. Lagipula di sini ia yang sudah merepotkan, jadi tidak masalah kalau seandainya datang ke rumahnya si Kades muda itu. " Saya mau sore aja ke rumahnya pak Kades. Bapak ada kan di rumah kalau sore ?"
" Ada." jawab Risam.
Entah mengapa Tias merasa keputusannya ini memang hal yang diinginkan Risam. Terlihat dari senyum pria itu yang lebih bersinar dari biasanya. " Ya udah kalau gitu saya mau lanjut lari. Saya duluan ya pak Kades."
__ADS_1
" Kenapa nggak barengan aja ? Kebetulan saya juga belum olahraga." ucap Risam.
" Jadi dari tadi pak Kades ngapain ?" Tias bertanya balik, sebenarnya ia enggan kalau harus berolahraga bersama Risam. Tahu kalau dia belum berolahraga, tadinya Tias tidak akan bilang kalau mau melanjutkan olahraganya.
" Loh, tadi kan saya buru buru lari ngejar dek Tias." jawab Risam.
Sudah terlanjur begini terpaksa Tias mengangguk setuju. Mau ditolak pun tidak mungkin karena dia sudah membantunya kemarin.
" Ya udah."
Tias berlari pelan melanjutkan olahraganya bersama Risam. Mereka berlari tanpa berbicara, Tias yang fokus dengan musik di handsetnya, sedangkan Risam sibuk memperhatikan Tias dari arah samping. Memandangi wajah gadis itu yang kadang kala sering membuat Risam tersenyum sendiri.
Namun sayangnya waktu terus berlanjut dan jalan yang mereka lalui ini adalah jalur singkat menuju pasar. Tak sedikit orang yang melihat mereka berlari bersama pagi ini. Para pedagang bahkan sengaja menyapa Risam dengan senyuman penuh arti mereka.
" Pagi pak Kades."
Risam tersenyum ramah seraya menganggukkan kepalanya sopan menyambut sapaan itu. " Selamat bapak bapak."
" Baru kelihatan ya pak Kades ?"
" Padahal masih pagi ini loh pak Kades. Rajin amat udah lari lari."
" Namanya juga lari sama masa depan pak Tono." sahut rombongan ibu ibu yang baru akan berangkat ke pasar.
Tias yang mendengar itu sontak saja mendelik tidak terima. Jahil sekali para pedagang dan ibu ibu ini. Tidak bisakah mereka langsung beraktivitas saja tanpa mengganggunya. Mana si Kades itu malah tersenyum lagi bukannya menyangkal. Kalau calon istrinya tahu, baru tahu rasa dia.
" Amin, doain ya ibu ibu, bapak bapak." balasan dari Risam itu sontak saja mendapatkan sorakkan ramai dari para pedagang dan ibu ibu itu.
Sebagian dari mereka yang mengetahui tentang Tias kembali menggodanya. " Tias nanti jangan lupa undang ibu ya."
" Saya lagi nggak mau hajatan ibu." Tias menjawab dengan setengah kesal.
" Kalau gitu sama pak Kades aja. Jangan lupa ya pak Kades, masakan saya enak loh. Cocok kalau buat banyak orang." ucap ibu itu dengan isyarat agar Risam mendukungnya.
Tentu saja Risam dengan sennag hati mengikutinya. " Beres itu buk, asal saya jangan disuruh bayar aja nggak masalah." guraunya.
__ADS_1
Para pedagang dan rombongan ibu ibu itu tertawa. Mereka yang sudah berusia lanjut tentu saja tahu maksud dari Kades mereka.
" Ya udah kalau gitu kami duluan ya pak Kades."
" Jangan lupa dipulangin habis ini pak Kades."
Gurau para pedagang itu yang membuat Risam tertawa kemudian menganggukkan kepalanya. " Pasti itu pak, kalau nggak nanti saya disembelih sama nenek Ruwi."
" Mangkanya harus hati hati pak Kades."
" Siap pak."
" Kami duluan pak Kades."
" Silahkan pak, jangan lupa semangat pagi biar banyak rezeki."
" Siap atuh pak Kades." para pedagang itu berlalu pergi dengan senyuman.
" Kami juga mau belanja dulu. Inget ya pak Kades harus manggil kami para ibu ibu ini." ucap salah satu ibu ibu dari rombongan itu.
Risam tersenyum seraya mengangguk. " Doain mangkanya buk."
" Ya iyalah pasti itu, kami duluan pak Kades, mari."
" Silahkan ibu ibu."
Tias yang sedari tadi diam memperhatikan kepergian ibu ibu itu dengan pandangan kesal. Setelah melihat mereka menjauh dari pandangannya. Tias barulah mengalihkan pandangannya pada Risam.
" Kenapa, kok kesal ?" tanya Risam yang memperhatikan Tias sejak tadi.
Tias mendelik kesal sambil mengepalkan tangannya. Ia langsung memukuli lengan Risam. " Iih ! Pak Kades resek kali sih ! Ngapain coba ngomong gitu sama mereka ? Udah punya calon istri masih aja keganjenan."
" Aduh dek !" Risam melangkah menjauh dari pukulan Tias. Meski sebenarnya itu tidak terasa sakit tetapi ia ingin mencari waktu untuk terus bisa berlama lama dengan gadis itu.
" Pak Kades ngeselin banget sih ! Kalau saya dilabrak sama calon istrinya pak Kades. Mau ditaruh dimana nama baik saya lagi !"
__ADS_1