
" Calon adik ?" Tias menatap dokter Silla tidak mengerti. Berbeda dengan nenek Ruwi yang malah tertawa mendengar hal itu.
" Gini loh Tias, Silla ini udah nenek anggap kayak kamu. Begitu juga sama Risam, mereka ini sama sama anak tunggal. Mangkanya bisa berteman dan mereka ini dulu kan murid kesayangannya nenek sebelum rombongannya Hilman."
Secara tidak langsung neneknya bilang kalau ternyata dokter Silla dan pak Kades bisa dekat karena mereka sama sama anak tunggal. Tias cukup paham dengan makna yang tersirat dari ucapan neneknya.
" Iya, mangkanya mbak mau kamu jadi adiknya mbak." ucap dokter Silla sembari meniup bubur yang ada di sendok.
" Tapi ada Lia mbak ?"
Dokter Silla mengarahkan sendok bubur itu ke depan mulut Tias. " Aaa..,"
Tias membuka mulutnya menerima suapan itu. Mengunyah perlahan sembari menunggu jawaban dari pertanyaannya.
" Cuma saudara jauh." tidak seperti tadi, kali ini jawaban dokter Silla terdengar singkat dan tersirat rasa malas.
Tias tidak berani lagi bertanya tentang gadis yang bernama Lia anaknya pak RW itu. Ia tidak mau menyinggung perasaan dokter Silla yang sudah merawatnya dengan baik. Dilihat dari sini saja Tias yakin kalau dokter Silla sedikit tidak menyukai Lia. Ia menjadi penasaran tentang apa benar yang dikatakan Lia saat di tempat sate waktu itu.
" Mbak kata orang orang mbak ini calon istrinya pak Kades ya ?" Tias memutuskan untuk bertanya karena sangat penasaran tentang kebenaran yang Lia katakan tempo hari.
Dokter Silla menahan diri agar tidak tertawa mendengar pertanyaan itu. Ia menatap Tias dengan binar jenaka. " Memangnya kamu boleh ?"
" Hah ?" Tias menatapnya tak mengerti. Kenapa dokter Silla malah bertanya seperti itu kepadanya. Seakan akan dia sedang meminta izin kepadanya.
Dokter Silla tertawa melihat wajah Tias yang seperti kebingungan. Tangannya mencubit pelan pipi Tias yang sudah tidak sepucat tadi. " Masih anak kecil, belum tahu apa apa."
Tias merengut kesal sembari mengusap pipinya. Tidak sakit sih, tetapi ia tidak suka kalau ada orang yang menyentuh wajahnya. " Udah besar ya aku ini mbak."
" Masa sih ? Tapi kok masih gengsian ?" tanya dokter Silla.
__ADS_1
" Dari mana gengsiannya ?!" Tias balik bertanya dengan nada yang setengah kesal. Bagaimana tidak ? Dokter Silla berbicara seakan akan dia tengah menjahilinya.
" Dari segalanya." dokter Silla menaruh mangkuk bubur yang sudah kosong ke atas meja, lalu mengambilkan segelas air hangat untuk Tias. " Tapi cuma kamu sendiri yang tahu tentang itu." lanjutnya berbicara.
Tias meminum air hangat itu hingga habis setengah gelas kemudian memberikannya kembali pada dokter Silla. " Mbak bicaranya pakai teka teki, aku nggak tahu ini ngarahnya kemana pembicaraan kita."
" Kalau gitu jangan dicari tahu. Karena kalau kamu tahu mbak yakin kamu pasti punya pemikiran yang berbeda." balas dokter Silla.
" Mbak kayak gitu seakan akan udah kenal aku lama banget."
Dokter Silla tersenyum lembut sambil menatap mata indah bermanik cokelat milik Tias di depannya. " Kalau mbak bilang kita ini udah kenal lama, kamu percaya nggak ?"
Tias mengerutkan keningnya lalu terkekeh tak percaya. " Ya nggak lah, orang aku aja baru lihat mbak waktu itu dari Mawar saat di warungnya Juminten."
" Kalau gitu nggak anggap aja mbak tahu dari mata kamu."
Kekehan Tias berhenti dan wajahnya berubah kaku. Ia cukup terkejut saat lagi lagi ada orang yang tahu tentang dirinya melalui matanya. Apa begitu mudah membaca arti tersirat dari mata milik orang lain. Tapi kenapa Tias tidak bisa melakukannya juga.
Tias mengambil pil lalu menelannya satu persatu bersama segelas air putih. Jauh di dalam hatinya Tias sangat benci melakukan hal ini. Siapa sih orang yang senang meminum obat ?.
Tias rasa selagi orang itu masih waras, tidak akan ada orang yang senang meminum obat. Semua itu pasti dilakukan dengan terpaksa karena ingin sembuh dan terhindar dari penyakit.
" Alhamdulillah akhirnya selesai juga." ucap dokter Silla yang tersenyum lega saat Tias mau meminum obat tanpa diiringi drama seketika kebanyakan orang.
" Terima kasih ya mbak udah repot repot bantuin Tias."
" Mana ada mbak repot, kalau seneng malah iya. Kapan kapan datang ya ke Puskesmas tempat mbak kerja. Nanti mbak kenalin sama rekan rekan kerja mbak di sana sekalian mau pamer kalau mbak ini udah punya adik sekarang."
Tias tertawa lalu menganggukkan kepalanya. " Kalau aku udah sembuh mbak."
__ADS_1
" Iya, mbak tunggu loh ya."
" Iya."
" Ya udah kalau gitu kamu tidur dulu biar badannya lebih enakkan." ucap Dokter Silla.
" Iya mbak." Tias menggeser tubuhnya ke bawah untuk berbaring ke atas kasur.
Dokter Silla menarik selimut tebal dari ujung kasur lalu menyelimutkannya pada Tias. " Mbak pulang dulu ya, nanti kalau masih belum sembuh juga mbak datang lagi ke sini."
" Iya."
Dokter Silla mengusap lembut kepala Tias sebelum berbalik pergi keluar dari kamar dengan membawa tasnya. Setelah beberapa menit kemudian, Tias kembali membuka matanya lalu menghembuskan napas kasar. Ia beranjak bangun menjadi bersandar di kepala tempat tidur. Memandangi sekeliling kamar untuk melihat dimana ponselnya berada. Seingatnya ponselnya tadi ditaruhnya di meja rias. Tapi kenapa saat dilihat ponselnya tidak ada di sana. Apa Tias lupa dimana ia meletakkan ponselnya itu.
" Tias kok nggak tidur ?"
Tias menoleh melihat neneknya yang berjalan mendekatinya. " Tias nggak bisa tidur nek."
" Udah diminum obatnya ?" nenek Ruwi menempelkan punggung tangannya ke kening Tias untuk memeriksa apakah tubuh cucunya itu masih sedingin tadi.
" Udah mendingan nek, nggak sakit kayak tadi lagi." jawab Tias.
" Kamu bisa kayak gini kenapa memangnya ? Tadi pas olahraga pagi kamu sehat sehat aja nenek lihat. Tapi kenapa setelah pergi sore sore kamu malah sakit kayak gini ?" nenek Ruwi bertanya dengan wajah khawatir sekaligus kesal. Dulu waktu kecil cucunya itu tidak bisa memakan sembarang makanan. Bahkan ia dan anaknya harus bertanya kepada dokter tentang daftar makanan apa saja yang boleh dimakan oleh cucunya ini.
Jadi jika Tias sakit mendadak seperti saat ini. Nenek Ruwi yakin itu pasti ada hubungannya dengan makanan yang telah di makan oleh Tias. " Kamu pasti makan makanan yang nggak bisa dimakan kan ?"
Tias mengusap pelipisnya ketika mendengar pertanyaan neneknya yang begitu banyak. Belum sempat ia menjawab satu pertanyaan, pertanyaan lainnya sudah datang begitu saja.
" Kamu kenapa ?" nenek Ruwi menambah lagi pertanyaan saat melihat cucunya yang mengusap pelipisnya. " Apa kepala kamu sakit ?"
__ADS_1
Tias menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk tidak berdecak kesal. " Tias ini udah sembuh nek."