
Tias memandang lekat sekumpulan orang di depannya saat ini. Sungguh, ini adalah pengalaman pertamanya yang sangat menegangkan. Bahkan tangan kirinya sudah gemetaran tanpa sebab dan membuatnya harus menyembunyikan itu di balik tubuhnya tanpa disadari oleh siapapun.
" Mbak Tias." Sella memanggil pelan bermaksud menegur bos barunya itu yang ketahuan melamun.
Tias langsung menoleh menatap Sella kemudian mengangguk sekilas. Ia menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. Kali ini Tias akan mencoba mempraktekkan apa yang sudah ia tonton di YouTube sebelumnya.
" Selamat siang semuanya."
" Selamat siang mbak !" para pegawai di Cafe itu menyambut sapaan Tias dengan wajah yang ramah.
Hal itu cukup membuat Tias mengurangi rasa cemasnya. Melihat wajah para pegawai yang terlihat senang melihat kehadirannya membuat Tias tidak lagi merasa terlalu rendah diri. Meski tangan kirinya masih gemetaran sejak tadi, tapi itu bukanlah masalah. Karena baginya sambutan mereka yang ramah cukup membuat Tias merasa senang.
" Perkenalkan nama saya Sritias Nita Anggraini. Biasa dipanggil Tias, saya adalah cucu nenek Ruwi yang akan menggantikan beliau mengurus Cafe ini. Saya harap untuk ke depannya, kita bisa saling bekerjasama." setelah kata kata itu berhasil diucapkannya, Tias menghela napas lega. Akhirnya ia bisa mengenalkan dirinya tanpa kendala persis seperti video yang ditonton olehnya di YouTube tadi.
Para pegawai yang melihat Tias memperkenalkan dirinya segera menyambutnya dengan baik. Mereka tentu saja senang karena bos mereka kali ini adalah seorang gadis cantik yang masih muda.
" Selamat datang di Cafe mbak Tias !"
" Kami akan lebih bekerja keras lagi ke depannya !"
" Mbak Tias bisa mengandalkan kami !"
" Kami senang mbak Tias mau menjadi bos baru kami !"
Seperti itulah para pegawai itu membalas perkenalan Tias dengan antusias. Bos mereka sangat cantik dan juga muda. Baik pegawai perempuan maupun laki laki, mereka sama sama mengagumi Tias hanya dalam kurun waktu perkenalan singkat ini. Dulu sewaktu mereka masih menjadi pegawai baru di Cafe ini. Nenek Ruwi sering kali menceritakan tentang betapa hebatnya Tias yang memiliki kecerdasan di atas anak anak seumurannya. Bukan hanya itu saja, mereka juga sering diberitahu foto Tias sewaktu masih kecil dulu.
__ADS_1
Jadi, sekarang mereka tidak merasa kaget lagi sewaktu Tias memperkenalkan dirinya. Hanya saja mereka merasa senang karena orang yang selama ini ingin mereka temui sekarang telah menjadi bos baru mereka.
" Terima kasih, saya juga akan berusaha sebaik mungkin di masa depan." Tias tersenyum manis memandang setiap wajah para pegawainya.
Ternyata ketakutannya tadi tidak seseram apa yang dibayangkan olehnya saat berada di ruang kerja. Rasa malunya hanya diawalan saja, sedangkan sekarang meski tangan kirinya masih gemetar tetapi ia sudah tidak merasa canggung lagi. Kalau begini terus, sepertinya Tias bisa dengan mudah mengatasi kekurangannya ini. Tias menjadi semakin tersenyum mengetahui itu. Semoga saja ia bisa mengatasi kekurangannya ini dan dapat lebih percaya diri lagi.
Tias ingin cepat cepat menjadi pengusaha sukses yang dapat menyaingi papanya. Karena dengan cara itu ia bisa membuktikan kalau dirinya bisa berhasil tanpa uang papanya. Kemampuannya mungkin tidak diragukan lagi, tetapi kepercayaan dirinyalah yang malah bermasalah. Karena itu Tias belum berani untuk melangkah maju ketujuannya.
" Kalau begitu, kita rayakan khusus untuk hari ini. Kita masak besar besaran untuk makan bersama, gimana ? Kalian setuju atau nggak ?" tanya Tias.
" Beneran mbak ?"
Tias menganggukkan kepalanya menyakinkan para pegawainya. Tentu saja setelah itu para pegawai bersorak bersama merasa senang.
" Kami mau mbak !"
" Mbak Tias terima kasih ya !"
" Mbak kami like sama mbak Tias !"
" Terima kasih mbak !"
Tias tersenyum membalas keantusiasan para pegawainya. " Sekarang kalian bisa masak apa saja yang kalian mau di dapur. Untuk biaya minta sama Sella, dia yang mengatur keuangan di sini. Kalau bahan kurang, silahkan belanja dulu di luar."
" Baik mbak !"
__ADS_1
" Ya udah, kalian bisa mulai menyiapkan dan membagi tugas. Sella kamu atur semuanya, saya mau ke dalam dulu memeriksa beberapa menu dan pembukuan." ucap Tias.
" Siap mbak, percayakan saja sama saya." balas Sella dengan senyuman bahagianya.
Tias menepuk dua kali pundak Sella sebelum beranjak pergi menuju ruang kerjanya. Hari ini banyak yang harus ia kerjakan karena mulai besok Tias sudah mulai masuk kuliah. Masih di rumah sih, karena ia hanya akan datang ke Universitas setiap dua kali dalam waktu seminggu.
Tias duduk bersandar di kursi kerjanya. Kemudian memejamkan matanya kemudian menghela napas lega. Tidak ada kendala hari ini dan tinggal menunggu jam semuanya sudah selesai teratasi. Tias membuka matanya kembali lalu menarik buku agenda di meja kerjanya.
Ia mulai menuliskan satu persatu rencananya di buku itu. Mulai dari mengembangkan Cafe, mengurus kebunnya, mengumpulkan uang, mencari para pengusaha yang bisa ia investasikan, yang terakhir memulai usaha baru. Tias menghitung satu persatu rencananya yang berjumlah lima semuanya. Rencana satu dan dua sedang dijalankannya, sekarang Tias tinggal memikirkan rencananya yang ketiga yaitu mengumpulkan uang sebanyak mungkin.
Tapi bagaimana caranya ya ?.
" Nggak mungkin kan gue minjem uang sama Bank ? Ya kalau gue berhasil sesuai perkiraan gue, nah kalau nggak ? Habislah Cafe sama kebun gue yang dari warisan paman." Tias berucap sendiri.
" Apa gue pakai aja kemampuan gue ini. Tapi, kalau seandainya orangnya tahu gimana ? Dosa juga kan kalau ngambil tapi nggak bilang bilang sama yang punya ?" lanjutnya berbicara.
Tias mengambil laptopnya dan membuka internet. Ia mencari jajaran pengusaha di Riau dari yang tertinggi sampai yang terendah. Dilihatnya berita satu persatu dari perusahaan itu sembari berpikir segala kemungkinan yang terjadi.
" Nggak, gue nggak bisa makai kemampuan gue ini di sini. Bahaya kalau seandainya mereka tahu dan pastinya nenek yang akan jadi korbannya juga." ucap Tias setelah memperkirakan segala resiko dari perbuatannya.
Tias mematikan laptopnya dan memikirkan lagi jalan keluar dari rencana nomor tiganya. Terbesit sebuah nama yang membuat Tias tersadar seketika hingga menimbulkan sebuah senyuman licik darinya.
" Kenapa nggak gue ambil aja dari mereka ? Toh, selama ini mereka bisa senang karena hasil kerja keras gue." akhirnya Tias tahu dari mana ia bisa mendapatkan uang dalam jumlah banyak.
Sesekali berbuat kejam tidak ada salahnya asalkan jangan kepada orang lain. Setidaknya Tias tidak akan disangka pencuri karena ia mengambil sebagian hasil dari kerja kerasnya selama ini. Anggap saja mereka sedang melakukan balas budi kepadanya sekarang.
__ADS_1
" Gue sekalian ngambil banyak nggak apa apa kan ya ?" tanya Tias pada dirinya sendiri dengan wajah kesenangan karena membayangkan banyaknya uang yang akan segera ia dapatkan.