Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Bertarung Dalam Diam


__ADS_3

" Weh, apa nih bisik bisik sampingan ?" tanya Ilham yang melihat Silla dan Risam saling berbisik, dan Tias dengan Mawar yang saling berbisik juga. Padahal posisi mereka itu sedang berhadapan, berbeda dengan posisinya yang berada di samping mereka.


Mawar menatap Ilham tidak suka. " Berisik kamu Ham."


" Yah, War ! Baru juga ini aku ngomong, udah kamu bilang berisik. Kali kali kek bilang I love you gitu." Ilham tersenyum sembari menaik turunkan alisnya menggoda Mawar.


" Mimpi kamu." balas Mawar dengan wajah yang mulai kesal.


" Mimpi juga nggak apa apa, mana tahu bisa jadi cita cita terus kesampaian kan alhamdulilah." jawaban Ilham itu mengundang tatapan jahil dari teman temannya yang lain termasuk Silla, Tias, dan juga Risam.


" Wah ! Apa ini ? Bibit bibit virus merah muda di tengah Corona ? Wow !" Diki berucap dengan nada yang dilebih lebihkan.


Dion meraup wajah Diki dengan tangannya. " Enggak usah lebay Ki, Corona juga udah usai masih aja dibahas."


" Memangnya udah dikasih tahu kalau Corona itu udah hilang seratus persen ? Belum kan ? Nah, berarti kita ini masih Corona." balas Diki.


Reno menepuk lengan Dion. " Biarin aja dia Corona sendirian. Sekalian suruh dia suntik vaksin yang keempat, kelima, dan terus keenam kalinya, biar mampus sekalian."


Diki langsung terdiam mendengar Reno berbicara. Kalau calon dokter sudah mengeluarkan suara, alamat siapapun tidak akan bisa menang berdebat dengannya.


" Reno kamu manis banget ngomongnya. Mau mbak bilangin sama bunda kamu nanti ?" Silla yang sedikit tidak suka dengan ucapan kasar Reno menjadi ikut berbicara.


Reno menghela napas lalu mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah pada Silla. Kemudian menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa ia akan diam kali ini. Diki yang melihat itu langsung tersenyum sumringah, ternyata si mulut tajam itu anak bunda.


" Ehem ! Yang anak bunda mah langsung kalem ya. Per..."


" Diki, Abah kamu nanti datang ke rumah saya buat nonton bola." Risam memotong ucapan Diki dan menatapnya penuh ancaman dibalik kata katanya yang baik.

__ADS_1


Ilham dan Mawar tertawa melihat itu. " Yang anak Abah mah kalem ya ?!" mereka berucap bersama lalu bertos ria ala anak remaja. Tanpa sadar tingkah mereka itu tengah menjadi tontonan yang lainnya.


" Merah muda, memang warnanya para remaja. Yang sering merasa berdua dan mengacuhkan sekitarnya.. aaa..., merah muda." Diki bernyanyi menggunakan nada lagu milik Roma Irama yang berjudul darah muda. Dengan penuh percaya diri Diki menukar beberapa bait liriknya namun nadanya tetap sama.


Dion bersiul menggoda Ilham. " Harus tahan banting Ham, abangnya Mawar pesilat terkenal. Kena sedikit adiknya, habis badan kamu dibikin remuk."


" Jangan nakutin Ilham, Yon. Kalau dia berhasil terus dapat hadiah dari bang Satria. Kan masih ada Reno yang selalu siap sedia." ucap Diki.


" Kubedah sekalian." ujar Reno yang membuat Ilham, Diki, dan Dion melebarkan mata mereka setelah mendengarnya. Sedangkan Reno hanya memandang datar ketiga pemuda itu.


" Kalian tolong jangan berfitnah ya, tapi kalau mau berfitrah bolehlah aku dibagi setengahnya." Ilham menanggapi perkataan Diki dan Dion dengan candaan untuk mencairkan suasana. Entah kenapa setiap kali Reno berbicara suasana di sekitar mereka langsung terasa sunyi dan juga tegang.


Mawar memukul lengan Ilham. " Jangan bercanda, bukannya ngomong yang bener malah ngelantur minta dibagi fitrah."


" Kan udah dibilang tadi my Rose." balas Ilham sambil meringis kesakitan akibat kencangnya pukulan Mawar.


" Mau jugalah dipanggil my Dion aku Ham." pinta Dion pada Ilham.


Ilham berdecak menatap kedua temannya itu dengan pandangan kesal. " Kalian lama lama menyebalkan."


Melihat pembicaraan yang tidak ada siapnya itu, Risam melangkah maju mendekati Tias. Tangannya mengulurkan sebuah paper bag untuk gadis itu. " Ini untuk dek Tias, ada daun mint dan juga teh lemon yang bisa mengurangi rasa mual. Juga di situ ada titipan cake pisang dari bunda saya. Kata bunda dek Tias suka sama cake pisang."


Tias menerima paper bag itu dengan kening yang sedikit mengkerut bingung. Dari mana ibunya si Kades itu tahu makanan kesukaannya yang satu ini ? Setahunya selain Aditya, orang lain tidak ada yang tahu termasuk nenek dan mendiang pamannya.


" Dicicipi ya, rasanya nggak terlalu manis. Sengaja bunda buat biar dek Tias nggak mual pas makan cakenya." ucap Risam.


Tias tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya. " Terima kasih ya pak Kades."

__ADS_1


" Kembali kasih buat calonnya pak Kades." Risam tersenyum menatap Tias. Gadis itu terlihat terbelalak karena tidak menyangka kalau Risam akan berbicara seperti itu kepadanya.


" Ehem !" Mawar berdehem cukup kencang.


Risam menghiraukan suara itu, matanya masih menatap Tias yang ada di depannya. Kenapa dalam keadaan sakit seperti ini Tias masih terlihat cantik dipandangannya. Namun sayang sekali Risam tidak bisa menatapnya lebih lama lagi. Karena Tias tanpa berbicara sepatah kata kepadanya langsung berbalik pergi dan duduk di samping Hilman sambil membuka paper bag yang diberikannya tadi.


" Yah.., ditinggal pergi. Kasihannya pak Kades kita ini, coba kalau sama aku. Bakalan aku jagain dan nggak pernah kutinggal pergi walau cuma selangkah." Silla berucap dengan sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Risam.


" Jangan lupa pakai rantai sekalian ya dok, biar nggak di colong orang." Mawar menyindir di tengah senyuman manisnya. Setelah itu ia berjalan mendekati Tias meninggalkan Risam dan Silla.


" Jangan aneh aneh Silla, aku nggak mau buat mereka salah paham." ucap Risam.


Silla tersenyum kemudian menghela nafas. " Mereka aja yang baperan."


" Tingkah kamu itu yang ambigu, buat orang salah paham ngeliatnya."


Silla memutar mata malas. " Udah jangan ceramah, sana jagain masa depanmu. Dia lagi dimodusin sama jodoh orang itu."


Risam langsung menoleh kearah Tias. Matanya melotot melihat Hilman yang sedang mengusap remahan cake di sudut bibir Tias. Risam segera beranjak mendekati Tias, lama lama ia cemas sendiri melihat keadaannya saat ini. Didekati Tias menjauh, tidak didekati Risam takut diambil orang, dan kalau dipaksa ia takut malah berujung dibenci nanti. Harus sebaik apa lagi Risam agar Tias mau didekati olehnya.


Risam memejamkan matanya kemudian menghela napas. Bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman manis seperti biasa. " Cake pisangnya enak dek ?"


" Enak banget, sampaikan terimakasih saya sama bunda ya pak Kades."


Risam menarik kursi ke sebelah Tias. " Iya." balasnya, ia menatap Tias yang sedang mengunyah cake.


Lalu beralih memandang Hilman dengan tatapan tajamnya yang malah dibalas tatapan datar dari pemuda itu. Berbeda dengan Rendi yang tersenyum miring kearahnya dan Reno yang menatapnya tenang sembari melipat tangan di depannya dengan duduk bersandar.

__ADS_1


__ADS_2