
Tias berdiri memandang bangunan tingkat satu yang bertulis 'Sahara Cafe'. Menurutnya Cafe ini cukup besar juga, dan tentunya mewah untuk ukuran Cafe yang digunakan untuk perkumpulan anak muda. Tias kira Cafe bernama Sahara itu hanyalah bangunan biasa yang sering dijadikan tongkrongan anak muda. Tapi ternyata tidak seperti pemikirannya selama ini.
Tetapi baguslah, itu berarti Tias tidak perlu lagi memulai usahanya dari bawah dulu. Ia hanya tinggal menikmati dan mengelolanya saja. Pamannya memang tahu apa yang terbaik untuknya kecuali nama Cafe itu. Sudah jadi mantan saja namanya masih terus dikenang, mana dijadikan nama usaha lagi. Tias menjadi kesal sendiri akhirnya.
" Mbak Tias ?" seorang gadis berjilbab navi memanggil Tias dengan pandangan ragu.
Tias menoleh kemudian tersenyum ramah. Ia tahu siapa gadis berjilbab navi itu. " Iya, kamu Sella kan ?"
" Iya bener mbak, mbak kok di sini. Kenapa nggak masuk aja langsung ke dalam ? Padahal saya udah nunggu dari tadi loh." ucap Sella.
" Saya baru sampai Sel. Lagian saya mau lihat lihat dulu." Tias menjawab sambil melihat lihat sekitarnya.
" Mau aku temani mbak ?"
Tias menggelengkan kepala menolak. " Ayo kita masuk ke dalam. Udah pada dikasih tahu kan yang lainnya ?"
" Udah mbak, cuma ya gitu. Mbak harus nunggu sampai tengah hari dulu. Soalnya kemarin itu udah terlanjur di sewa untuk rapat beberapa pengusaha." Sella menjawab dengan sabar.
" Ya udah kalau gitu saya mau lihat lihat pembukuannya aja." pinta Tias.
" Udah saya taruh di meja kerja mbak. Mari saya tunjukkin jalannya."
" Ya, terimakasih."
" Sama sama mbak." Sella tersenyum dan berjalan perlahan menyesuaikan langkah Tias di sebelahnya. Mereka masuk bersama ke dalam Cafe menuju ruang kerja yang sebelumnya sudah Sella siapkan untuk Tias.
__ADS_1
" Ruangannya ada di lantai atas mbak. Bersebelahan sih sama ruang khusus yang disediakan untuk para pelanggan yang mau privat di sini." lanjutnya berbicara.
" Berisik nggak ?" Tias bertanya singkat.
" Nggak kok mbak, malah sepi kali. Apalagi ruang kerja mbak kan kedap suara. Nah..., ini dia ruang kerjanya mbak." Sella membuka pintu dan menunjukkan sebuah ruangan minimalis yang terlihat nyaman untuk bekerja.
Tias memandang ruangan itu dengan seksama lalu menganggukkan kepalanya. Itu bisa membuat Sella mengerti kalau Tias menyukai ruang kerja ini. Untung saja sebelumnya Sella itu sudah konsultasi dulu dengan arsitektur terkenal, dan akhirnya usahanya tidak sia sia juga. Tias menyukai ruang kerjanya.
" Pembukuan beberapa tahun terakhir sampai sekarang udah semuanya di meja kan ?" Tias bertanya sambil menuju meja kerjanya.
" Udah mbak." jawab Sella yang masih terus mengikuti Tias.
Tias membuka satu persatu buku di mejanya secara kilat. Nanti ia akan membacanya ulang lebih teliti lagi. " Bagus, nanti kalau semuanya siap tolong kasih tahu saya."
" Siap mbak." Sella tersenyum ramah menatap Tias yang sebentar lagi akan resmi menjadi bos barunya.
Sella terkejut mendengar itu sebelum tersenyum lebar karena merasa senang. " Sama sama mbak, kalau gitu saya izin lanjut kerja lagi."
" Iya." Tias menatap kepergian Sella hingga pintu ruang kerjanya tertutup. Setelah itu, raut wajahnya berubah menjadi kebingungan dan juga cemas.
" Astaga, gue nanti gimana kenalannya ?! Pasti malu banget nanti !" teriaknya panik, Tias takut kalau dirinya akan berakhir memalukan dirinya sendiri di depan para pegawainya.
" Huh ! Sabar Tias, sabar. Kuasai diri lo dan berusaha tetap tenang." Tias berbicara sendiri untuk menenangkan dirinya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Setelah dirasanya mulai tenang, barulah Tias mulai memikirkan kata kata dan caranya bertingkah di depan seluruh pegawai Cafe nanti. Andai saja ia tidak pemalu seperti ini, mungkin dirinya tidak akan merasa cemas sendiri. Kalau saja Tias tahu apa obat untuk menyembuhkan rasa malunya. Ia akan membelinya sekarang dengan harga berapapun itu.
__ADS_1
" Gue takut malu maluin nanti." gumamnya sedih.
Sulit sekali rasanya berubah. Tias yang terbiasa selalu disalahkan dan dijauhkan dari banyak orang membuatnya bingung harus melakukan apa saat di depan umum. Terkadang tangan kirinya bisa gemetar sendiri tanpa sebab atau kakinya yang akan terasa lemas. Kalau tidak wajahnya akan memerah karena merasa malu bila mendapatkan sedikit saja pujian dari orang asing di depan banyak orang.
Tias ingin dirinya bisa percaya diri seperti orang kota pada umumnya. Tidak merasa malu dan bebas berteman dengan siapa saja. Tapi sayangnya Tias belum bisa dan sekarang ini mungkin waktu yang tepat untuknya berusaha. Mungkin saja, kapan kapan Tias akan konsultasi pada dokter kalau ada waktu.
" Kenapa nggak gue cari aja di YouTube. Mana tahu di sana ada cara gimana memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri tanpa malu maluin." ucap Tias yang berbicara sendiri.
Ia mengambil ponselnya dan mulai mencari apa yang diinginkannya itu. Dengan raut wajah serius Tias memperhatikan setiap video yang ada di YouTube. Mulai dari caranya berdiri, berbicara, bahkan tersenyum, dan memandang. Semoga saja Tias nanti bisa mengikuti seperti yang ada di video itu saat perkenalan.
TOK ! TOK ! TOK !
Tias tersentak kaget saat mendengar pintu ruang kerjanya diketuk dari luar. Cepat cepat ia menantikan video di ponselnya dan mengubah posisinya duduknya.
" Masuk !"
Sella masuk ke dalam dan tersenyum ramah melihat Tias yang tengah membaca pembukuan di meja kerjanya. " Maaf mbak, Cafe udah tutup dan semua pegawai udah aku kumpulkan."
" Kok cepet banget ?" Tias bertanya heran. Belum juga ia sempat berlatih dan sekarang malah mau langsung praktek. Hari apa ini ? Kenapa rasanya Tias sial terus dari tadi.
" Ya karena rapat orang yang menyewa Cafe kita ternyata cepat siapnya mbak." jawab Sella.
Tias mengangguk terpaksa, tangannya mengambil ponsel di atas meja kemudian beranjak berdiri menghampiri Sella. " Ya udah ayo."
Sella berjalan terlebih dahulu diiringi Tias yang mengikutinya. Namun entah mengapa anehnya langkah Tias kali ini terlihat sangat lambat tidak seperti tadi. Sella mengerutkan keningnya heran tanpa berani bertanya. Ia menjadi memelankan langkahnya dan berusaha berjalan sepelan mungkin mengikuti langkah Tias.
__ADS_1
Ada apa dengan bos barunya itu, apa kakinya sedang sakit ? Atau dia memang sekarang sedang demam ?.
Tapi kalau dilihat lagi dari wajahnya, sepertinya dugaannya memang benar. Wajah Tias terlihat sedikit pucat dan tegang seakan akan tengah menahan sesuatu. Bisa saja saat ini Tias sedang merasakan sakit namun berusaha ditahan karena menjaga imagenya. Kalau perkenalan sudah selesai Sella akan segera mencarikan obat atau kalau tidak memanggilkan dokter untuk memeriksa Tias. Jangan sampai bos barunya itu jatuh sakit setelah sehari masuk kerja.