
" Assalamualaikum."
" Wa'alaikum salam, wah nenek sama Tias udah datang. Ayo silahkan masuk." Sinta tersenyum lebar sembari merangkul akrab lengan nenek Ruwi.
Tias yang melihat itu diam diam berdecih sinis. Pasti wanita paruh baya itu sekarang merasa bahagia sekali.
" Tias ayo masuk dan anggap aja kayak rumah sendiri ya." ucap Sinta.
Tias tersenyum menanggapi itu. Rasanya malas hanya untuk sekedar membuka suara. Bahkan ucapan berupa pujian yang entah apa isinya dari Sinta tidak Tias dengarkan karena malas. Saat ini ia hanya mengikuti kata pepatah yang berkata kalau 'diam itu adalah emas'. Jadi terserah mereka mau membicarakan apa karena Tias tidak akan menanggapinya.
" Nah, silahkan duduk." Sinta menarik kursi untuk nenek Ruwi dan Tias duduk.
" Terima kasih Sinta." ucap nenek Ruwi.
Sinta tersenyum sambil duduk di sebelah suaminya yang sejak tadi memandang Tias dalam diam. Sinta menyenggol lengan suaminya sambil memberikan isyarat melalui tatapannya.
" Selamat malam nek." Risam datang dengan pakaian santainya dan menyalami nenek Ruwi.
" Selamat malam nak Risam." balas nenek Ruwi.
Risam beralih memandang Tias lalu tersenyum manis. Malam ini Tias menggunakan dress putih sederhana dengan rambut cokelat madunya yang digerai bebas. Sangat cantik namun sederhana, ditambah lagi pakaian mereka terlihat sama karena malam ini Risam menggunakan kemeja bewarna putih. Seakan sebelumnya mereka sudah janjian untuk memakai warna baju yang sama. Risam mengambil tempat duduk di depan Tias agar dapat lebih leluasa memandangi gadis itu.
" Malam dek Tias." Risam menyapa ramah dengan senyuman terbaik miliknya.
" Malam pak." Tias membalas sesopan mungkin demi neneknya. Ia tidak mau setelah pulang dari sini ada kabar bahwa cucu nenek Ruwi ternyata adalah gadis yang tidak sopan.
" Pff.., pak ? Yang benar saja !" suara berat yang datang tiba tiba dari seorang pria dewasa mampu membuat Tias mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.
" Bram jangan kayak gitu." ucap Sinta menegur suaminya.
Bram berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri nenek Ruwi. Ia bersimpuh sambil menyalami nenek Ruwi layaknya seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. " Assalamualaikum nek, bagaimana kabar nenek ?"
" Alhamdulillah baik." nenek Ruwi mengusap kepala Bram dengan penuh kasih sayang.
Tias segera mengalihkan perhatiannya setelah melihat itu. Namun sepertinya ia salah target perhatian kali ini. Karena yang ada di depan pandangannya saat ini adalah Risam yang sedang bertopang dagu menatapnya. Juga senyuman sok ramah yang membuat Tias muak melihatnya.
Tias mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya. Tetapi Risam menggelengkan kepalanya tanpa menghilangkan senyumannya. Bisa dibayangkan kalau si Kades muda terus tersenyum seperti itu maka Tias akan mengira kalau dia itu sudah gila.
" Ayo silahkan dinikmati makanannya." ucap Bram yang sudah kembali ketempat duduknya.
__ADS_1
Bahkan pria itu tidak menyapanya ! Hebat sekali kan dia ? Bram si bajingan itu mungkin menganggapnya hantu yang tak kasat mata. Atau orang yang tidak penting diacara makan malam ini. Memikirkan itu tanpa sadar genggaman di sendok makannya mengencang.
Ruwi yang sesekali memperhatikan cucunya melihat hal itu. Ia menatap Sinta yang ternyata juga memperhatikan Tias dengan tatapan khawatir.
" Tias gimana makanannya, enak nggak ?" Sinta sengaja bertanya untuk mengalihkan pikiran Tias.
Tias menoleh perlahan dan memaksakan senyumannya. Sebisa mungkin ia menampilkan raut wajahnya agar terlihat seperti biasa. " Enak." jawabnya.
Jawaban singkat itu ternyata mempu membuat Bram menghentikan kunyahannya untuk beberapa detik sebelum kembali melanjutkan kegiatannya. Sedangkan Risam yang memang sejak tadi memperhatikan Tias menjadi tersenyum tipis menyadari sesuatu.
" Dek Tias coba makan udang ini." Risam mengambilkan beberapa potong daging udang sambal manis ke piring Tias. " Rasanya enak loh kayak yang ada di Restoran berbintang." lanjutnya.
Tias memandang udang sambal manis itu di piringnya lalu mengangguk. " Terima kasih pak."
" Sama sama." Risam menjawab dengan senyuman manis.
Sinta meletakkan sendok makannya lalu meminum segelas air putih. Setelah selesai ia diam diam memandangi Tias tanpa gadis itu sadari. Kemudian beralih menatap anaknya yang terus memandang Tias meski diselingi dengan kegiatan makannya. Sinta menghela napas lalu menyentuh punggung tangan suaminya.
" Kamu masih mau kayak gitu terus ?" bisiknya.
Bram menoleh dan menatap mata istrinya cukup lama. Bisikkan yang sangat pelan namun ia bisa mendengarnya. "Itu urusanku." balasnya berbisik.
Bram mengangkat bahunya acuh tanpa niat menjawab. Hal itu tentu saja membuat Sinta bertambah kesal melihatnya.
" Jangan sampai kamu menyesal dan berujung anak kita yang kena imbasnya." setelah membisikkan kata kata itu, Sinta kembali memandangi Tias dan Risam.
" Dek Tias besok ada acara ?" tanya Risam.
" Ada." jawab Tias berbohong.
" Apa ?"
" Bernapas."
Sontak jawaban Tias itu membuat Sinta tertawa bersama nenek Ruwi. Sedangkan Bram tersenyum kecil mendengarnya. Berbeda dengan Risam yang terperangah tak menyangka dengan jawaban itu.
" Selain itu ?" tanya Risam kembali.
" Makan."
__ADS_1
" Yang lainnya ?"
" Minum."
" Yang lainnya lagi ?"
" Tidur."
Risam menggaruk pelipisnya yang tidak terasa gatal. Harus bagaimana lagi caranya bertanya agar Tias mau menjawab pertanyaannya dengan serius.
" Saya tanya serius ini loh dek."
Tias menatap Risam dengan wajah yang mulai kesal. " Saya juga serius, memangnya pak Kades nggak pernah ngelakuin itu ?"
" Ya.., pernah sih. Cuman yang saya maksud ini acara seperti jalan jalan sore, ngumpul bareng teman, dan kerja misalnya." nah, keluar juga akhirnya bahasa formal Risam karena merasa gemas dengan jawaban yang Tias berikan.
Tias mengangguk pura pura baru mengerti. Padahal sih aslinya ia sedang berpikir untuk mencari alasan lain. " Besok saya mau pergi sama Hilman."
Mendengar nama Hilman yang Tias sebutkan. Kening Risam berkerut samar merasa tidak suka. Namun hal itu terlihat samar karena tertutupi oleh senyum manisnya. " Hilman anaknya pak Sayur ?"
" Iya." Tias menjawab singkat lalu menghabiskan minumannya. Akhirnya, setelah ia memaksakan untuk tetap mengunyah makanannya. Makanan yang berupa nasi beserta lauk pauknya itu sekarang sudah berpindah ke dalam perutnya. Tetapi walaupun begitu bukan berarti Tias akan mau mengulang makan malam ini lagi ya.
Tidak akan !.
Dan tidak akan pernah lagi !.
Itulah jawaban Tias, cukup kali ini saja ia makan semeja dengan pria yang bernama Bram itu.
" Kalau hari Sabtu besok dek Tias masih sibuk ?"
" Nggak." jawab Tias keceplosan karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
Risam tersenyum sambil menjentikkan jarinya. " Saya ajak jalan ke pasar malam ya besok hari Sabtu."
" Hah ?! Say..."
" Saya datang langsung ke rumah besok Sabtu malam." ucap Risam memotong cepat ucapan Tias.
Tias menggigit lidah kesal, menyesali ucapannya barusan.
__ADS_1