Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Tuan Muda


__ADS_3

Mobil Albert berhenti di depan sebuah tempat pemakaman umum. Karena penolakan Tias, Albert terpaksa kembali ke Jakarta dengan membawa hasil yang mengecewakan. Jika tuan mudanya melihat ini, dia pasti akan sangat merasa sedih. Ia merasa tugasnya kali ini tidak bisa membuat tuan mudanya bahagia. Albert gagal menjalan tugasnya kali ini.


Albert keluar dari dalam mobil sembari membawa sebuket bunga Mawar putih. Kakinya melangkah melewati makam makam yang tersusun rapih di sana. Banyak makam dengan berbagai ukuran yang berbeda. Namun Albert masih tetap hapal dengan satu makam yang terletak di pinggir pagar. Albert berjalan mendekati makam itu dan meletakkan buket bunga Mawar putih di atasnya.


" Saya datang tuan muda."


Albert mengusap nisan makam itu yang bertulis nama ' Aditya Kalingga'. Tatapannya memandang sendu ukiran nama itu. Bahkan matanya tengah berkaca kaca menahan tangis. Sudah sangat lama, namun Albert masih merindukan tuan mudanya ini meski ia sering datang kemari.


" Bagaimana kabar anda di sana tuan muda ? Apa anda masih suka melihat nona muda Tias diam diam ?"


Albert bertanya sendiri tanpa takut dipandang aneh oleh orang orang yang melihatnya. Ia berbicara seakan akan tuan mudanya seperti masih ada.


" Nona muda marah kepada saya tuan muda. Dia tidak ingin dijaga lagi oleh saya." adunya di depan makam itu.


" Maafkan saya yang tidak bisa menjalankan tugas terakhir dari anda." Albert lanjut berucap, semilir angin dengan langit mendung menandakan akan turunnya hujan.


Tetapi Albert tidak memperdulikan itu. Ia masih sibuk menatap makam tuan mudanya, rumah terakhir milik tuan mudanya, yaitu Aditya Kalingga.


*


Seorang pemuda tampan tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya yang terlihat tirus dan tampak pucat itu tak membuat ketampanannya memudar sedikitpun. Bahkan saat hanya satu matanya saja yang dapat melihat ia masih dapat tersenyum tegar. Dipandanginya kakinya yang rata tanpa memiliki jari kaki.


" Tuan muda."


Pemuda itu menoleh menatap Albert yang datang dengan ponsel yang bergetar di tangannya. Ia membaca nama yang tertera di layar ponsel itu saat Albert menunjukkannya.


" Matikan saja."


" Tapi tuan muda Aditya, ini panggilan yang kedua puluh enam kali dari nona hari ini." ucap Albert.


Aditya tersenyum dan berujar pelan. " Biarkan."


" Baik tuan muda." dengan berat hati Albert menantikan panggilan itu begitu saja. Kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku.


" Tuan muda ingin buah ?" lanjutnya bertanya.


Aditya menggeleng lemah dan menatap Albert dengan seksama. Wajah itu terlihat lesu karena terlalu banyak menjaganya beberapa hari ini. Ia banyak menyusahkan Albert akhir akhir ini.

__ADS_1


" Paman." panggilnya yang membuat Albert segera menghampirinya.


" Iya tuan muda ?"


Aditya ingin memegang tangan Albert andai saja ia masih memiliki tangannya seperti dulu.


" Tuan muda ?" Albert bertanya lagi saat melihat tuan mudanya yang melamun tiba tiba.


" Paman.., kalau aku meminta sesuatu. Apa paman mau memenuhinya ?"


" Tentu saja tuan muda." Albert menjawab cepat yang membuat Aditya tersenyum.


" Tolong jaga dan perhatikan Tias paman. Aku sangat menyukainya melebihi apapun. Aku juga sudah melanggar janjiku kepadanya dan itu pasti akan membuatnya marah. Berikan kotak putih yang ada di dalam lemariku saat akhir tahun nanti. Paman bisa melakukannya kan ?"


Deg !


Rasanya jantung Albert ingin berhenti detik itu juga. Tangannya terasa sangat dingin dengan perasaan yang tidak menentu. Mengapa ia merasa tuan mudanya itu akan pergi jauh darinya.


" Paman, paman keberatan ?" tanya Aditya dengan suara napas yang terasa berat.


" Ti..tidak tuan muda."


" Tapi.., siapa yang akan menjaga tuan muda di sini ?"


" Ada perawat paman, sebentar saja kok." pinta Aditya.


" Baik tuan muda. Saya akan kembali secepat mungkin." dengan berat hati Albert beranjak pergi mencari bunga Mawar putih yang tuan mudanya itu inginkan.


Aditya tersenyum dengan setetes air mata yang kembali jatuh. Dipandanginya kepergian Albert untuk yang terakhir kalinya.


" Selamat tinggal paman." setelah itu Aditya menutup matanya perlahan.


*


" Saya membawakan bunga Mawar putih yang anda inginkan tuan muda."


Albert tersenyum sembari mengusap air matanya. Katakan saja kalau ia ini cengeng dan lemah sebagai seorang lelaki. Albert tidak perduli sama sekali, karena yang ia pedulikan hanya tuan mudanya saja.

__ADS_1


BRES !


Hujan datang begitu saja tanpa di dahului gerimis. Albert meletakkan keningnya di pinggir batu keramik makam Aditya. " Saya akan memenuhi permintaan anda tuan muda. Meskipun nona Tias menolaknya."


Albert beranjak berdiri dengan tegak tubuh yang telah basah kuyup karena terkena hujan. Pandangan matanya yang sendu tiba tiba berubah tajam hanya dalam beberapa saat.


" Saya akan membalas orang yang telah membuat anda seperti ini tuan muda. Saya berjanji, dia pasti akan menerima akhir yang melebihi rasa sakit yang anda rasakan saat itu."


Albert berucap teguh penuh tekat. Ia akan membalas orang itu, tidak perduli jika nanti orang yang dijaganya selama ini akan membencinya. Albert akan menerima konsekuensinya. Andai saja ia gagal, setidaknya ia sudah berusaha semampunya selama ini.


" Tolong jangan benci saya karena keputusan saya ini tuan muda. Saya akan kembali lagi dilain waktu."


Kemudian Albert berbalik pergi meninggalkan area pemakaman. Ia menghela napas dan berjalan dengan langkah yang sangat berat. Rasanya Albert ingin tetap di sini saja andai tugasnya itu tidak ada. Kalaupun bisa ia ingin bisa bersama dengan tuan mudanya lagi walau itu harus berakhir di dalam tanah.


Albert masuk ke dalam mobil dan menyetir perlahan meninggalkan area pemakaman. Pakaiannya yang basah tidak membuatnya kedinginan sedikitpun.


DRRRT ! DRRRT !


Suara getaran ponsel membuat Albert berdecak kesal. Ia mengambil ponselnya itu lalu menekan tombol hijau dengan sebelah tangan yang masih tetap menyetir mobil.


" Halo tuan."


"....."


" Maaf tuan tapi saya sudah mengambil cuti untuk beberapa hari ke depan."


"....."


" Anak saya di Kampung sakit tuan. Jadi saya datang menemuinya sekaligus menemaninya untuk beberapa hari."


"....."


" Sudah tuan."


"....."


" Baik, terima kasih tuan."

__ADS_1


Tepat setelah Albert selesai berbicara, panggilan itu dimatikan sepihak oleh orang yang Albert panggil tuan itu. Entah sudah berapa kali ia berbohong dengan orang itu, yang pasti selama Albert bekerja dengannya. Ia tidak ada berbicara jujur sedikitpun kecuali masalah pekerjaan.


Setelah ini, andai saja kalau ia meninggal nanti. Semoga saja Tuhan masih berbaik hati mempertemukannya dengan tuan mudanya meski hanya sebentar saja. Setidaknya sebelum masa hukumannya datang karena perbuatannya yang terus berbohong selama ia hidup di dunia ini.


__ADS_2