Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Gadis Tidak Jelas


__ADS_3

Tias menatap dua orang di depannya. " Mari makan."


" Iya duluan aja." jawab Dara.


Tias tersenyum tipis menyadari sesuatu, mereka tidak berniat baik datang menemuinya. Terlihat dari hadis bernama Lia yang sejak tadi melihatnya dengan pandangan iri. Dari luar mungkin ia terlihat biasa dan tidak perduli tetapi di dalam hati lama kelamaan Tias merasa risih juga. Makanya pak RW itu seperti tidak tahu cara beretika kepada orang yang baru saja dikenalnya.


" Kamu dekat sama pak Kades ?" ucap Lia yang bertanya langsung pada Tias.


Tias mengehentikan makannya lalu menatap anaknya pak RW itu. " Kamu pacarnya pak Kades ?"


" Bukan, tapi aku keponakan dari calon istrinya pak Kades." jawab Lia.


" Siapa ?"


" Kamu kenal dokter Silla kan ? Dia cukup terkenal di Kampung ini."


Tias memainkan lidahnya di dalam mulut. Melihat Lia saat ini membuatnya ia ingin sekali tertawa. Betapa polosnya gadis itu sampai melupakan rasa malu yang kapan saja bisa mendatangkan bumerang untuk dirinya sendiri. " Jadi ?"


" Kamu seharusnya cukup tahu buat nggak usah terlalu dekat dengan calon suami orang." jawab Lia.


Tias terkekeh mendengarnya, lucu sekali anaknya pak RW itu. Apa dia terlalu banyak dimanja oleh orang tuanya sampai tidak tahu apapun tentang lingkungannya sendiri. Namun meski begitu Tias tetap menganggukkan kepalanya. Diam diam ia tersenyum licik pada kedua gadis itu. Karena kesulitannya selama ini Tias merasa mereka seperti sedang menghadapi dua gadis kecil yang tengah memperebutkan sebuah mainan.

__ADS_1


Tias tidak melanjutkan makannya, padahal ia baru saja makan sedikit sekali dari satenya. Mau dibungkus bawa pulang tapi ia malu, tidak dibungkus itu sama saja dirinya telah menyia nyiakan makanan. Tias menjadi sedih hanya karena memikirkan satenya.


Lia tersenyum puas melihat wajah Tias yang terlihat sedih setelah gadis itu menganggukkan kepalanya. Dia pasti merasa kalah karena ternyata pak Kades yang selalu mendekatinya sudah memilki calon istri. Dara yang sejak tadi diam menatap Tias prihatin, ia kasihan dengan gadis kota itu. Bahkan dari pada mereka yang tinggal di Kampung, Tias terlihat jauh lebih polos dibandingkan mereka.


" Nggak usah sedih, cowok itu kan banyak." ucap Lia dengan masa yang setengah mengejek.


Tias mengerutkan keningnya saat merasa ada kesalahpahaman di sini. Tetapi ia tidak terlalu memikirkannya dan segera beranjak dari tempat duduknya. Bisa bahaya kalau Tias terus terusan berada di sini. Bisa bisa jika mereka bertengkar Tias akan menyeret si Kades itu dan mengikatnya bersama Lia nanti.


" Duluan." setelah mengucapkan itu Tias langsung beranjak pergi membayar satenya tanpa menunggu respon Lia dan juga Dara.


" Dasar gadis nggak jelas." Tias bergumam sembari mengendarai motornya pulang ke rumah. " Gue kira cuma Mawar aja gadis teraneh di Kampung ini. Enggak tahunya masih ada yang lebih dari dia. Mana mereka cantik cantik semua lagi. Sayang banget kalau punya tingkah yang mengecewakan kayak gitu." lanjutnya berbicara sendiri.


Tias memarkirkan motornya di depan rumah dan segera masuk ke dalam. Jujur saja perutnya sekarang terasa masih lapar karena kedatangan dua gadis tadi. Tias berjalan ke ruang tamu, tetapi langkahnya menjadi perlahan lebih pelan saat mendengar suara tawa dari arah ruang tamunya.


" Udah Bun." Tias menghampiri wanita itu kemudian mencium punggung tahannya. " Assalamualaikum."


" Wa'alaikum salam." balas Sinta yang terlihat sangat senang.


Tias menghampiri neneknya dan melakukan hal yang sama. " Assalamualaikum nek."


" Wa'alaikum salam, kamu mau mandi apa makan dulu ?" tanya nenek Ruwi.

__ADS_1


Maunya makan sih, tapi melihat ada Sinta di sini. Tias memilih untuk tidak menyebut kata makan demi menghindari Sinta. " Tias mau mandi dulu gerah soalnya."


" Ya udah, jangan lupa ke sini lagi ya."


Tias hanya mengangguk tidak perduli lalu berjalan menuju kamarnya. Jangan harap kalau setelah ini ia mau menemui Sinta lagi, anda saja kalau mereka tidak berpapasan tadi mungkin ia tidak akan mau menyapa wanita itu. Tias mengunci pintu kamarnya dari dalam dan menaruh kuncinya itu di atas meja nakas di dekat ranjang.


Ia kemudian duduk di lantai dengan kepala yang tertidur di pinggir ranjang. Rasanya lelah sekali, selain sejadah dan tuhan-nya tidak ada lagi yang bisa ia jadikan tempat mengadu. Di Jakarta ia dijadikan budak, di sini ia malah bertemu dengan orang orang yang sangat diperlukan bencinya.


Apa ini adil untuknya ? Mereka tertawa sedangkan ia menangis sendirian di sini. Mereka menikmati hidup yang enak sedangkan ia harus membanting pikiran dan tenaganya. Tidak bisakah Tias seperti mereka juga ?.


Bahkan Tias merasa neneknya berubah dan berbeda karena tidak seperti dulu lagi. Setiap kali ia membicarakan keluarga pria itu, neneknya pasti akan selalu membelanya. Banyak alasan yang diutarakan neneknya termasuk hutang Budi dan kebaikan mereka. Bukankah hutang yang paling besar adalah hutang nyawa kepada seseorang ?.


Lalu kenapa di sini malah neneknya yang merasa berhutang bukan mereka. Bram itu pria yang licik dan juga penuh perhitungan. Dia seorang angkatan sekaligus pembisnis yang sudah memiliki banyak pengalaman. Tidak ada pembisnis yang memiliki pemikiran biasa saja, mereka pasti penuh perhitungan dan juga hal yang menguntungkan. Sama seperti keluarganya yang ada di Jakarta juga.


" Ditya gue kangen sama lo." ucapnya lirih.


Tias tersenyum sendu kala bayangan wajah tampan yang tengah tersenyum menatapnya dengan lembut. Dia juga tengah duduk di depannya dengan kepala yang juga bersandar di pinggir ranjang menghadapnya. Tias terkekeh dengan setetes air mata yang mengalir.


" Lo selalu datang disaat kesedihan gue. Tapi lo nggak menepati janji untuk terus ada buat ngebebasin gue. Gue marah sama lo tapi gue juga kangen sama lo." ucap Tias yang membuat senyuman di wajah tampan itu semakin mengembang.


Menurut Tias tidak ada yang lebih bersinar selain senyuman milik pria berwajah tampan itu. Senyumannya sehangat sinar mentari dan secerah matahari. Tias belum pernah menemukan orang yang memiliki senyum seperti itu selain yang ada di depannya saat ini.

__ADS_1


" Gue nggak izinin lo pergi sebelum lo tepati janji lo sama gue, Aditya Kalingga. Kalaupun itulah nggak bisa, bawa gue sama lo."


Bayangan itu menggelengkan kepalanya seakan menolak tetapi wajahnya masih tersenyum lembut. Tias mulai memejamkan matanya perlahan untuk mulai tertidur. Ia ingin sejenak melupakan semua masalahnya. Jika pun takdir tidak bisa memberinya keadilan, biarkan saja. Setidaknya dikehidupannya ini Tias masih diizinkan tertidur dengan ditemani bayangan wajah seseorang yang sangat berarti untuknya. Meski ia tahu bayangan itu akan menghilang nantinya.


__ADS_2