
Risam mengerutkan keningnya saat mendengar kata calon istri yang disebutkan Tias barusan. Dengan cepat ia menangkap kedua tangan Tias untuk menghentikan pukulannya. Andai saja gadis itu tidak terus menghindarinya, Risam mungkin tidak akan sesulit ini.
" Pak Kades apa apaan sih ! Lepasin tangan saya !"
" Dek Tias." Risam memanggil dengan nada tegasnya yang membuat Tias langsung terdiam menatapnya.
Ini pertama kalinya Tias mendengar Risam memanggilnya dengan suara itu. Suara yang bahkan terdengar lebih menyeramkan dibandingkan amukan papanya dulu. Tias merasa tubuhnya bergetar karena mulai merasa takut. Ini yang tidak ia suka dari tubuhnya, keluarga itu membuatnya merasa lemah seperti ini.
" Dengerin saya, saya nggak punya calon istri dari manapun itu. Karena saya belum mendapatkan gadis yang saya inginkan."
" Bo..bohong." Tias membalas bercampur dengan rasa takutnya.
Risam menatap mata bermanik cokelat milik Tias. Tersirat rasa takut di sana, dan Risam langsung menyadari kalau ternyata suaranya barusan sudah membuat gadis itu merasa ketakutan. Padahal Risam tidak sengaja melakukannya. " Maafkan saya tapi saya benar benar nggak punya calon istri. Jangankan itu, saya bahkan nggak punya seorang kekasih."
" Tapi kata Lia, dokter Silla itu calon istrinya pak Kades."
" Lia ? Anaknya pak RW ?"
" Iyalah, jadi siapa lagi di Kampung ini yang punya nama Lia selain dia ?" rasa takutnya perlahan menghilang seiring suara Risam yang sudah kembali seperti biasa.
Sekarang Risam tahu siapa yang membuat Tias selalu terus menuduhnya. " Saya nggak ada hubungannya sama siapapun. Kamu bisa tanya sama bunda saya kalau nggak percaya."
" Saya tetep nggak percaya." kukuh Tias dengan pendirian. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah percaya pada Risam, meski pria itu berkata jujur sekalipun.
Risam menghela napas untuk mencoba lebih bersabar. Gadis cantik namun sayangnya sangat keras kepala, itulah yang saat ini Risam lihat dari Tias. " Dek coba kamu pikir, kamu percaya sama dia yang baru kamu kenal atau sama saya yang sudah kenal lama sama keluarga kamu ?"
" Apa bedanya ?" Tias balik bertanya dengan kening berkerut. " Meski pak Kades orang yang sudah kenal lama sama keluarga saya, tapi kan saya baru beberapa kali ketemu sama pak Kades. Sedangkan Lia, dia orang yang udah lama tinggal di Kampung ini dan tahu tentang pak Kades selama bertahun tahun. Jelas saya lebih percaya sama Lia bandingkan sama pak Kades."
Risam menatap Tias tak percaya, sebegitu keras kepalanya gadis itu sampai mempercayainya pun tidak mau. Risam sampai tidak habis pikir dengan cara Tias memilih. Dibandingkan dengannya, bagaimana bisa dia malah memilih orang lain. Padahal Risam jelas berkata yang sebenarnya tanpa berniat membohongi Tias sedikitpun.
__ADS_1
" Tapi saya ngomong jujur sama kamu." kali ini nada bicara Risam lebih rendah dari biasanya. Bahkan bahasanya pun diperhalus agar Tias tidak lebih salah paham kepadanya.
Tias tersenyum sinis menatap Risam di depannya. " Pak Kades sebenarnya.., untuk apa bapak menjelaskan hal ini kepada saya ? Kita hanya sebatas kenalan saja karena saya adalah cucu nenek Ruwi. Seandainya saya bukan cucu nenek Ruwi saya yakin, kita pun nggak akan kenal seperti sekarang ini."
" Dek...," Risam tidak bisa lagi berbicara. Ucapan Tias benar benar menusuknya hingga membuatnya sulit hanya untuk sekedar mengeluarkan kata. Apa ini artinya gadis itu hanya menganggapnya sekedar orang asing yang baru dikenal saja. Risam tidak percaya ini bisa terjadi kepadanya, bahkan hubungan mereka lebih dalam dari pada itu.
Apa ? Apa sebenarnya yang telah terjadi selama ini sehingga Tias bisa berubah menjadi begini ? Risam menyelami makna di balik manik indah milik Tias. Namun belum sempat Risam sempat membacanya, Tias sudah memalingkan wajahnya lebih dulu.
" Saya rasa sudah cukup olahraga pagi ini. Saya duluan pak Kades, assalamualaikum."
" Wa'alaikum salam." Risam berucap pelan dengan pandangan yang tak pernah lepas dari punggung Tias yang mulai berjalan menjauh.
Setelah Tias tidak terlihat lagi barulah Risam beranjak pulang ke rumahnya. Kata kata yang Tias ucapkan tadi masih teringat jelas diingatkannya. Orang asing, kata itu membuat Risam tersenyum tipis menyadari ketidaktahuannya selama ini.
" Selamat pagi pak Kades."
" Habis olahraga ya pak ?" tanya Lia.
" Iya." bahkan dalam hati Risam menertawakan dirinya sendiri. Ingin sekali ia tidak membalas sapaan dari Lia, karena dia yang telah membuat Tias kembali salah paham kepadanya. Tetapi jabatannya di sini membuat Risam tidak bisa melakukannya.
" Mau ketemu dokter Silla pak ?"
Kening Risam terlihat sedikit berkerut mendengar pertanyaan dari gadis itu. Apa apaan dia ini, siapa yang ingin bertemu dengan dokter Silla. " Saya mau pulang karena ada tamu di rumah. Saya duluan ya Lia, assalamualaikum."
" Iya pak Kades."
Bahkan Lia tidak membalas salam darinya. Risam menggelengkan kepalanya merasa kalau anak pak RW itu dididik dengan kurang baik. Bahkan kesopanannya pun kurang menurutnya, dan yang lebih parahnya lagi dia berani menyebar berita palsu kepada Tias. Tetapi Lia masih memiliki muka untuk menyapanya dengan ramah seakan akan tidak merasa bersalah sama sekali.
Kalau karena ini Risam tidak bisa mendekati Tias. Ia akan berbicara kepada RW itu untuk mendidik anak gadisnya agar mulutnya lebih bisa dijaga lagi.
__ADS_1
" Abang gimana caranya aku bisa menepati janjiku ?" Risam bergumam pelan entah kepada siapa. Ia menghentikan langkahnya setelah sampai di depan gerbang rumahnya. Berdiam menenangkan diri sebelum masuk ke dalam.
" Loh, udah siap olahraganya ?"
" Udah." Risam mendekati Sinta kemudian mengecup pipi bundanya.
" Cepet banget ? Biasanya lama." ucap Sinta bertanya lagi.
" Nggak enak olahraganya."
Sinta menggelengkan kepalanya sambil mengusap rambut Risam. " Mangkanya olahraga di rumah aja. Biasanya juga begitu kan ? Lagian di rumah juga lengkap kok alat olahraganya."
Risam menganggukkan. " Lain kali lagi Risam olahraga di rumah. Oh iya bunda, Tias nanti sore mau ke sini."
" Beneran ? Mau ngapain ?" Sinta bertanya antusias.
" Mau ngambil uang manen sawit kemarin." jawab Risam.
Sinta tersenyum senang dengan mata berbinar. " Ya udah sekarang kamu mandi sana terus sarapan. Bunda mau belanja buat nyambut Tias nanti."
" Jangan berlebihan bunda, nanti anaknya bukannya seneng malah lari lagi karena nggak nyaman." ucap Risam.
" Iya nggak kok, bunda cuma mau buat yang sederhana aja. Ciri khas kampung kita yang jarang dimakan sama orang kota."
" Terserah bunda asalkan Tias nggak risih, Risam mau ke kamar dulu."
" Iya sana."
Risam tersenyum sekilas lalu berjalan ke kamarnya.
__ADS_1