Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Undangan Makan


__ADS_3

" Tias baru pulang ?"


Tias menoleh melihat neneknya yang duduk di sofa sembari menonton TV. Sejak kapan neneknya itu pulang ke rumah ?.


" Iya."


" Sini duduk dulu, ada yang mau nenek omongin soalnya." Ruwi menepuk tempat di sebelahnya.


Tias berjalan mendekat dan duduk di sebelah neneknya dengan wajah penasaran. Apa itu omongan penting atau jangan jangan masih bersangkutan lagi dengan si Kades itu. Instingnya berkata kalau neneknya ini harus dijauhkan dari Kades itu secepat mungkin sebelum hal hal yang tidak ia inginkan terjadi.


" Kamu nanti malam dandan yang rapih ya." pinta Ruwi.


Tias mengerutkan keningnya bingung. " Kenapa memangnya ? Tumben kali."


" Tadi Sinta ke sini dan katanya dia mau kita makan malam sama sama hari ini. Kalau kamu mau kita ke sana tapi kalau nggak biar mereka yang datang ke rumah kita. Kamu mau kan ?"


Pikiran Tias langsung kosong mendengar itu. Benarkan instingnya tadi kalau omongan yang neneknya mau bicarakan pasti tidak jauh jauh dari si Kades itu. Buktinya ibu dari Kades itu datang kemari dan meminta untuk mereka makan malam keluarga.


" Tapi..., Tias udah janji sama Mawar buat ke rumahnya nanti malam." ucap Tias beralibi.


" Undur aja dulu kan bisa Tias. Nenek nggak enak loh kalau kamunya nggak ada." bujuk Ruwi.


Tias tidak bisa berbicara lagi. Kalau sudah begini bagaimana caranya dia bisa menolak ? Ia tidak mau harus bertemu pria itu. Mendengar namanya saja Tias sudah membencinya apalagi melihat wajahnya secara langsung.


" Tias kamu mau ya demi nenek."


" Hm, iya." jawab Tias dengan amat sangat terpaksa.


Entah bagaimana nanti jadinya tetapi yang Tias harus tahu untuk saat ini adalah belajar menahan diri sebelum makan malam itu terjadi. Lagipula wanita paruh baya itu kenapa sih sok akrab sekali sampai mengundang neneknya makan malam. Andai saja dia tidak begitu mungkin untuk sekarang Tias tidak memiliki banyak pemikiran negatif.

__ADS_1


Dan juga apa keluarga mereka tidak merasa malu setelah apa yang terjadi dulu ?.


Tias ingin sekali berteriak dan mengubur pria itu hidup hidup andai saja di dunia ini tidak ada penjara. Ia tidak takut di penjara tetapi Tias takut kalau seandainya dirinya di penjara. Maka neneknya pasti akan bersama keluarganya yang gila harta dan juga bersama keluarga dari pria itu.


" Yes ! Berarti nanti kita makan malamnya di mana ? Di rumah Sinta atau di rumah kita aja ?"


" Di rumah mereka aja." sebab kalau mereka makan malam di rumahnya ini. Pasti akan sangat lama mereka berada di sini dan entah sampai kapan pulangnya. Bisa bisa yang ada mereka akan menginap di sini.


" Ya udah, nenek mau nelpon Sinta dulu. Kamu mandi sana udah mau magrib." ucapan Ruwi dengan wajah bahagia.


Tias hanya mengangguk lalu beranjak bangun melangkah ke kamarnya. Sesampai di sana Tias tidak langsung mandi. Ia memilih berbaring dulu di ranjangnya sambil menatap langit langit kamarnya. Pikirannya teringat tentang percakapannya dengan neneknya beberapa hari lalu.


.


Tias mencuci piring sembari bersenandung. Sesekali ia melirik neneknya yang sedang mencicipi sayur lodeh yang sepertinya hampir matang.


" Tias gimana tadi malam ?" tanya Ruwi.


" Itu loh yang kumpulan pemuda pemudi kampung." jawab Ruwi.


" Biasa aja."


" Masa sih ? Apa nggak ada kejadian yang berkesan ? Misalnya kamu berkenalan dan dapat teman baru atau kalau nggak ada laki laki yang muji kalau cucu nenek ini cantik sampai sampai terpesona pada pandangan pertama."


Tias tertawa mendengarnya kemudian menggeleng. " Nggak ada, mereka normal normal aja. Yah kecuali..., kekurangan Tias ini."


Ruwi langsung terdiam beberapa saat ketika merasa kalau omongannya barusan salah. Secepat mungkin Ruwi mencari pembahasan lain. " Terus gimana kenalan kamu sama nak Risam ?"


Tias mengerutkan keningnya bingung. " Kenapa jadi ke sana sih nek alurnya ?"

__ADS_1


" Ya kan mana tahu kamu suka berteman sama nak Risam walaupun dia lebih tua beberapa tahun dari kamu. Kayak menganggap dia abang baru. Kamu kan belum pernah ngerasain punya abang kan ? " jawab Ruwi.


Tias yang mendengar itu entah mengapa merasa pembahasan mereka kali ini melenceng kemana mana. " Nggak ada yang kayak gitu. Dia orang lain dan bukan keluarga kita jadi mana bisa Tias nganggap dia abang. Lagian pak Kades itu anaknya siapa sih nek ? Kok kelihatannya terpandang kali terus kaya juga kelihatannya."


" Dia anaknya Sinta sama Bram. Kamu pasti tahulah latar belakang keluarga Sinta sama Bram kayak mana. Jadi nggak heran lagi kalau mereka itu termasuk golongan orang kaya.''


Mata Tias terbelalak kaget mendengar nama Bram. " Bram ? Bramansyah maksud nenek ?!"


" Iya bener Bramansyah. Kok kamu tah..." Ruwi langsung membelalakkan matanya menyadari kalau lagi lagi ia telah melakukan kesalahan.


Ruwi segera berpaling menatap Tias yang sedang menahan amarah. " Ti..Tias ini..., dia..."


" Nenek udah tahu kejadian paman kayak mana dulu dan nenek sekarang malah dengan santainya bercanda gurau sama keluarganya ?!" Tias tanpa sadar berteriak kecewa. Ternyata pria itu ada di dekatnya sekarang, bahkan semalam Tias pergi bersama keturunannya. Si Kades muda itu adalah anak satu satunya dari pria itu, Bramansyah.


Ruwi menghela napas dan berjalan mendekati cucunya. " Tias kejadian dulu itu adalah takdir. Kegagalan paman kamu bukan dikarenakan Bram. Itu semua udah takdir dari Allah, Tias. Kamu nggak bisa menyalahkan hal yang..."


PRANG !


Tias melemparkan piring di tangannya ke lantai. Tanpa berbicara lagi ia berjalan meninggalkan neneknya yang terkejut melihat tingkah kasarnya. Tias tidak akan meminta maaf untuk itu karena hari ini ia benar benar merasa kecewa dengan neneknya.


Pantas saja saat makan kemarin Sinta istri dari pria itu memandangnya dengan mata yang menyiratkan penyesalan dan juga kasihan. Ditambah perilaku ramah si Kades itu yang terlampau aneh meski Tias sudah menatapnya tidak suka secara terang terangan.


Dasar tidak tahu malu !.


Tias mengepalkan kuda tangannya sebagai pelampiasan rasa marahnya. Apa pria itu mengingat Tias ? Mengingat tentang gadis kecil yang menangis di makam tanpa mengetahui bentuk terakhir dari pamannya ?.


Dia di sana juga saat itu tapi hanya menampilkan wajah datar memandang kesedihannya. Dia pria yang selalu dipuji pamannya sebagai atasan yang bijaksana dan sudah dianggap sebagai saudara. Karena nyatanya dia hanyalah seorang atasan yang tega mengorbankan bawahannya hanya untuk membuat dirinya sendiri selamat dari kematian.


.

__ADS_1


" Dasar bajingan." Tias mengusap air matanya yang tanpa sadar menetes begitu saja. Ia tidak akan memaafkan pria itu meski dia mohon kepadanya. Sampai kapanpun, selama Tias masih mengingat kejadian itu di pikirannya.


__ADS_2