
Tias mengusap tengkuknya karena malu. Apa jawabannya tadi salah ? Tias melihat wajah neneknya yang tidak sedap dipandang mata. Sedangkan si penjual sayur itu masih saja menertawainya.
Ruwi menepuk keningnya karena baru menyadari cucunya itu bodoh. Percuma intelektualnya tinggi tapi hal kecil seperti ini saja tidak tahu. Ruwi memicingkan matanya menatap Tias untuk mengintimidasi.
" Tias jawab jujur sama nenek. Kamu bisa masak apa nggak ?"
Tias mengangguk yakin. " Bisa tapi nggak banyak sih nek."
" Huh ! Syukurlah." Ruwi mengusap dadanya dengan perasaan lega. " Kamu bisa masak apa aja emangnya ?"
" Hm.., masak air sama masak mie."
Seketika wajah Ruwi terlihat tegang dan kembali tercengang. Inikah cucu kebanggaannya yang ia agungkan selama ini ?.
Tawa si penjual sayur bertambah kencang.
" Mbak bisa diam nggak sih ? Saya tersinggung ini loh. Kalau mbak kayak gini bisa bisa nggak ada pembeli yang datang karena tersinggung sama kayak saya ini." Tias memandang kesal si penjual sayuran itu. Benar benar orang tidak tahu etika. Tidak kenal tetapi berani terang terangan menertawakannya begitu saja. Mana kencang sekali lagi suara tawanya itu.
" Ehem ! Ma..maaf dek." si penjual sayur itu tersenyum canggung.
Ruwi mencubit lengan Tias hingga membuatnya mengadu kesakitan. " Kamu sopan sedikit sama yang lebih tua. Jangan malu maluin nenek."
" Iya iya ! Mbak maaf ya tadi saya kelepasan. Salah mbaknya juga yang ketawa nggak liat situasi." Tias yang masih merasa kesal dengan si penjual sayur itu terpaksa meminta maaf tanpa mau disalahkan.
Ruwi mendelik kesal, dengan gesit tangannya bersiap ingin mencubit lengan cucunya lagi. Namun sebuah sapaan ramah dari suara maskulin seorang pria membuatnya berhenti dan tidak jadi mencubit lengan cucunya.
" Assalammualaikum nek."
Ruwi menoleh ke belakang dan melihat seorang pria muda yang sangat dikenalnya tengah tersenyum kepadanya. " Wa'alaikum salam pak Kades."
" Sudah selesai belanjanya nek ?" tanya Risam.
" Belum, baru juga datang tadi. Ini mau beli bayam dulu tapi cucunya nenek bingung mau milih yang mana."
" Cucu ?" tanya Risam.
Ruwi tersenyum lalu menunjuk Tias yang tengah memandang kearah lain. " Itu cucu nenek."
Risam menatap Tias penasaran namun gadis itu sedang tidak memandang kearahnya. Ruwi yang merasa tidak enak langsung menepuk pundak cucunya.
" Ada apa sih nek ? Tias mau beli es cendol sama putu itu. Nenek udah siap belum milih bayamnya ?" Tias bertanya pada neneknya tanpa memperhatikan sekitarnya.
__ADS_1
Ruwi tersenyum memandang cucunya dengan pandangan peringatan. " Tias ini nenek lagi ngomong sama pak Kades."
" Pak Kades ?" Tias mencari sesosok tua yang memakai baju dinas cokelat dan berpeci didekat neneknya. Tetapi ia tidak menemukannya, Tias malah melihat seorang pria tampan yang sedang memegang beberapa plastik belanjaan.
" Mana nek ?" lanjutnya bertanya.
Mata Ruwi terlihat berkedut berusaha menahan diri untuk tidak melotot. " Tias yang di depan kamu nak."
Tias menatap ke depan dan melihat pria tampan yang sedang membawa beberapa plastik belanjaan di tangannya. Jadi dia yang dimaksud neneknya.
Aduh ! Bagaimana cara menyapanya ini ? Tias bertanya bingung di dalam hati.
" Selamat pagi dek." Risam yang menyapa duluan akhirnya.
" Se..selamat pagi pak Kades. Maaf saya kurang sopan barusan. Nama saya Tias, saya cucunya nenek Ruwi."
Tias mengenalkan dirinya meski sedikit aneh. Jujur saja ada rasa enggan berhadapan dengan pak Kades yang dimaksud neneknya ini. Entah karena apa, padahal seingatnya ini pertemuan mereka yang pertama.
" Yang dari kota Jakarta kan ?" tanya Risam.
Tias memandang Risam penasaran. " Kok pak Kades tahu ?"
" Semua orang di kampung ini tahu kalau cucu nenek Ruwi semuanya tinggal di Jakarta."
Risam terdiam beberapa saat memperhatikannya. Tidak lama karena Risam langsung tersadar kalau sekarang mereka sedang berada di pasar.
" Selamat datang di kampung ini kalau begitu. Semoga dek Tias bisa betah lama lama di sini."
" Terima kasih pak Kades."
Risam mengangguk dan tersenyum. " Saya masih ada keperluan. Nenek, dek Tias saya duluan ya ?"
" Ya silahkan pak Kades." jawab Ruwi.
Tias hanya diam saja tidak perduli. Ia lebih memilih mengambil satu ikat bayam tanpa akar dan satu ikat bayam yang ada akarnya. Dari pada disuruh memilih lagi lebih baik Tias mengambil keduanya saja.
" Nek ngambil bayam yang ini aja. Tias mau beli putu sama cendol nek. Udah kepingin kali ini Tias dari tadi. Tias beli dulu nenek beli bayam ini ya." Tias memberikan dua ikat bayam yang berbeda kepada neneknya lalu berlari ketempat tukang penjual es cendol dan putu.
Masa bodoh dengan bayam yang diikat itu yang penting Tias bisa membeli putu dan es cendol. Sudah sejak tadi ia melihatnya tetapi ada saja yang menghalanginya.
" Pak beli putunya dua puluh ribu."
__ADS_1
" Oke siap neng, tapi tunggu sebentar ya. Soalnya ini dibuat dulu."
Tias mengangguk semangat. " Nggak apa apa pak. Saya juga mau beli es cendol dulu nanti saya ke sini lagi."
" Siap neng."
Tias berjalan ketempat penjual es cendol. " Kak beli es cendolnya dua bungkus. Yang satu di kasih tape ya kak."
" Iya dek, tunggu sebentar ya."
" Oke." sambil menunggu Tias memandang sekelilingnya untuk melihat lihat makanan apa lagi yang diinginkannya.
" Dek ini esnya."
" Berapa ?" tanya Tias.
" Lima belas ribu."
Tias memberikan uangnya lalu mengambil es cendol miliknya dan berjalan lagi ke tukang jualan putu." Pak udah jadi belum ?"
" Oh udah neng, ini." bapak penjualan putu itu memberikan bungkusan yang berisi kotak putu.
Tias membayarnya kemudian pergi mencari neneknya. Ternyata masih ditempat tukang bayam. Tias pikir neneknya sudah pergi karena malas menunggunya.
" Udah nek ?"
Ruwi mengangguk sebagai jawaban.
" Terus ngapain masih di sini ?" tanya Tias bingung.
Ruwi mulai berjalan sambil memegang tangan Tias. Takut hilang karena cucunya itu hiperaktif sekali kalau melihat makanan.
" Nenek nunggu kamu. Takutnya kalau nenek pergi kamu bingung mau nyari nenek dimana."
Tias tersenyum manis lalu menyandarkan kepalanya di bahu neneknya untuk beberapa saat. " Ih nenek perhatian banget sih. Tias jadi pengen bagi bagi dosa."
" Heh mulutnya !" Ruwi melotot garang menatap cucunya itu.
Tias tersenyum tanpa rasa bersalah. Wajahnya ia buat sepolos mungkin untuk berpura pura tidak tahu.
" Sudahlah bisa bisa nenek sakit jeroan bicara sama kamu." ucap Ruwi.
__ADS_1
" Sakit jeroan ? Sakit apa itu nek, kok aneh ?"
" Anehlah orang nenek yang nyiptain barusan."