
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar !.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar !.
.
Kencangnya suara adzan berhasil membangunkan Tias yang tanpa sengaja tertidur di lantai kamarnya. Ia melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Berarti yang barusan itu adalah adzan magrib. Tias beranjak bangun mengambil kunci kamarnya dan berjalan keluar. Ia lapar dan merasa ingin makan karena sejak tadi siang dirinya belum memanjang apapun selain buah nanas.
Tias menghampiri ruang tamu yang terdengar suara siaran TV dari sana. Dan benar saja neneknya sedang menonton dengan beberapa cemilan di atas meja. Tias menghampiri lalu ikut duduk di sebelahnya.
" Nek." panggilnya.
Nenek Ruwi menoleh menatapnya. " Apa ?"
" Tias laper."
" Ya makan sana." suruh nenek Ruwi dengan pandangan yang kembali melihat tayangan film favoritnya.
" Tapi Tias males ngunyahnya." jawab Tias tidak masuk akal.
Nenek Ruwi mengerutkan keningnya mendengar itu. Ia menatap lagi cucunya yang baru saja bangun tidur. " Coba kamu tidur lagi terus siapin mimpinya baru bangun."
" Buat apa ?" tanya Tias yang tidak paham.
" Mana tahu kan kamu masih ngelindur ?"
Tias berdecak kemudian merebahkan di atas sofa dengan berbantal paha nenek Ruwi. Hal itu tentu saja membuat nenek Ruwi terkejut dan mengusap rambut Tias.
" Nek, Tias ngerasa aneh deh."
" Aneh kenapa ?"
__ADS_1
" Tias kan laper, tapi Tias males makannya. Gimana dong ? Apa nggak ada gitu makanan yang bisa langsung sampai ke dalam perut Tias tanpa harus Tias susah payah ngunyahnya dulu ?"
TAK !
Nenek Ruwi menjitak kepala Tias untuk menyadarkannya. Dari tadi perasaanya Tias selalu bertanya yang tidak jelas seperti orang yang masih bermimpi saja.
" Sakit nek !" Tias mengusap kepalanya sembari meringis kesakitan. Neneknya ini sungguh tega sekali kepadanya.
" Biar sadar."
Tias memanyunkan bibirnya kesal. " Tapikan Tias udah bangun nek. Lihat ini mata Tias udah kebuka semuanya."
" Mangkanya jangan tanya yang ngawur kayak gitu." nenek Ruwi menarik pelan bibir Tias yang dimanyunkan hingga membuat cucunya itu kembali berteriak kesakitan. Dalam hati ia ingin sekaki tertawa karena melihat wajah kesal Tias yang terlihat lucu.
Tetapi nenek Ruwi takut kalau cucunya itu akan merajuk dan tidak ingin bertegur sapa dengannya. Nanti kalau itu terjadi, siapa yang akan mengantarnya ke pasar dan ketempat mengajarnya lagi.
" Nenek mah gitu sama Tias. Penyiksaan kali pun sampai sakit ini rasanya." Tias beranjak duduk dengan wajah menahan kesal.
Tanpa bisa ditahan lagi nenek Ruwi tertawa kencang. Wajah kesal Tias memang selalu hal yang paling ia sukai karena itu terlihat lucu dan menggemaskan menurutnya. Tias menatap datar neneknya yang tertawa bahagia setelah menyiksanya. Untuk itu neneknya, kalau saja itu orang lain Tias pasti sudah menjambak rambutnya dan juga mencakar wajahnya.
Bunyi suara perut Tias membuat nenek Ruwi tiba tiba menghentikan tawanya. " Kamu beneran laper ?"
" Tadinya iya tapi sekarang udah kenyang. Kenyang makan penyiksaan." jawab Tias setengah menyindir.
Nenek Ruwi terkekeh dan beranjak bangun berjalan menuju dapur. Tias membiarkannya saja, ia malah mengambil remote untuk mengganti tayangan menjadi film dua anak kecil kembar berambut botak yang. Biasanya orang menyebut kedua tokoh anak kecil kembar botak itu sebagai Upin dan Ipin.
Tias sangat menyukai kedua anak kecil botak di film itu. Sekaligus kasihan sih sepertinya, mana mereka hanya tinggal bersama kakak dan neneknya saja. Kalau seandainya mereka rindu pada orang tua mereka. Mereka hanya bisa mengenangnya lewat foto dan kenangan yang diceritakan oleh nenek mereka saja. Tapi itu masih lebih baik dibandingkan dengan dirinya.
" Masih beruntung lo cil nggak ketemu sama orang tua lo. Dari pada gue yang ketemu orang tua tapi malah jadinya kayak gini." gumamnya pelan.
" Ini makan, jangan gumam sendiri." nenek Ruwi meletakkan sepiring nasi dengan sayur tumis daun pepaya yang dicampur udang halus dan gorengan tempe. Juga segelas susu agar Tias tidak kesakitan perut karena terlalu lama menahan lapar.
__ADS_1
Tias memandangi makanan di depannya dengan pandangan penuh minat. Tapi kembali kepembahasan diawal tadi kalau dirinya ini tengah sedang malas menguyah. Tias menatap neneknya lalu menggelengkan kepalanya.
" Tias males nguyah nek." adunya setengah merengek.
" Nenek suapin."
Tias kembali menggelengkan kepalanya. " Tetep aja Tias yang nguyah makanannya. Tas maunya langsung masuk ke dalam perut biar nggak nguyah lagi."
Mendengar ucapan aneh itu, nenek Ruwi langsung mendelik kesal. Ia menyendok nasi dan menyodorkannya ke depan mulut Tias. " Makan atau kalau nggak kamu keluar dan tidur di luar."
" Nenek kok jahat kali sih sama Tias. Tias kan mal..."
" Makan." nenek Ruwi menegaskan suaranya yang membuat Tias berhasil menciut dan terpaksa membuaka mulutnya lebar lebar untuk menerima suapan itu.
" Kayak gini aja kok susah banget. Udah cepet dikunyah biar cepat juga kenyangnya." lanjutnya memerintah.
Tias mengangguk dengan mulut penuh. Ia setengah kesulitan dalam mengunyah makanan yang ada di mulutnya karena terlalu penuh. Beruntung ia biasa mengunyahnya meski harus sedikit demi sedikit. Tias kembali membuka mulutnya menerima suapan lagi namun kali ini dalam jumlah yang sedikit. Tias menggelengkan kepalanya menikmati makanan yang lama kelamaan terasa enak di lidahnya itu.
" Enakkan ?"
" Iya." jawab Tias yang kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan dari neneknya lagi.
Ia terus melakukan itu sampai makanan yang di piring habis tanpa tersisa. Tias mengambil susu dan meminumnya sampai habis kemudian menutup mulut untuk menghalau sendawanya. Tangannya menepuk perutnya yang terasa penuh dan membuncit. Kalau seperti ini terus Tias harus rajin berolahraga untuk menjaga bentuk tubuhnya.
" Kenyang ?" tanya nenek Ruwi setelah selesai menyuapi cucunya.
Tias menganggukkan kepalanya. " Iya."
" Mau lagi ?"
" Enggak udah kenyang." Tias merebahkan lagi tubuhnya ke sofa. Sedangkan nenek Ruwi berjalan ke dapur menyingkirkan piring dan gelas bekas makan Tias.
__ADS_1
Tias kembali menatap tayangan filmnya. Ia melihat kedua anak kecil botak itu tengah mengaji bersama teman temannya. Alangkah senangnya masa kecil itu, Tias membayangkan seperti apa masa kecilnya dulu. Kenapa ia tidak bisa mengingat apapun sekarang.
Bahkan teman temannya pun Tias tidak ingat. Hanya wajah nenek dan pamannya saja yang dia ingat. Itulah kenapa waktu ia berjalan menuju rumahnya neneknya dulu ia tidak tahu. Padahal waktu kecil ia tinggal bersama neneknya di Kampung ini. Itu semua karena kenangan masa kecil yang tidak ia ingat sam sekali. Beruntung waktu itu Tias tidak kesasar dan salah alamat. Berterima kasihlah pada yang maha kuasa karena masih melindunginya dan memberinya petunjuk untuknya bisa sampai ke sini. Tias merasa kalau ia juga harus segera memulihkan ingatan masa kecilnya juga Sekarang.