
" Huek !" Tias memuntahkan seluruh isi perutnya begitu ia sampai ke rumah. Perutnya benar benar tidak bisa menerima makanan yang namanya roti sumbu atau ubi kayu itu.
" Huek ! Huek !" Tias muntah kembali, ia segera menghidupkan kran di wastafel lalu berkumur mencuci mulutnya.
" Huek !"
Tetapi sayangnya Tias masih memuntahkan kembali isi perutnya. Kali ini yang keluar hanyalah air saja tanpa ada makanan halus seperti sebelumnya.
" Astaga Tias !" nenek Ruwi yang baru saja pulang dari pengajian segera meletakkan Al-Qur'an dan telekungnya begitu saja. Ia berlari menghampiri Tias yang terlihat pucat dengan menunduk ke arah wastafel dapur.
" Kamu kenapa sayang ?" nenek Ruwi membantu mengurut tengkuk Tias dan memegang rambut cucunya itu. Pandangannya begitu khawatir saat melihat wajah Tias yang begitu pucat.
Akhirnya setelah lima las menit lamanya, Tias bisa menghentikan muntahnya.Tapi sekarang tubuhnya malah terasa begitu lemas dan juga berkeringat dingin. Nenek Ruwi yang melihat itu segera membantu cucunya berjalan ke kamar.
" Kamu tunggu di sini ya, nenek panggilan dokter dulu." nenek Ruwi mengusap lembut kepala Tias yang sudah basah dengan keringat.
Saat ini sudah tidak mendengar apapun lagi. Rasanya tubuhnya sudah sulit untuk digerakkan karena sangking lemasnya. Nenek Ruwi berjalan keluar kamar dengan tergesa gesa. Tias melihat itu, ia tahu neneknya pasti cemas melihatnya dalam keadaan seperti ini. Hah, andai saja ia tidak memaksakan diri memakan ubi kayu itu.
" Iya loh Sil, ini cucu nenek muntah muntah kayak orang keracunan. Takutnya kenapa napa kan ya ?"
" Mungkin ada yang salah dimakan atau diminum nek. Atau kalau nggak dek Tias ini punya alergi juga bisa."
" Nenek kurang tahu kalau itu Sil."
Tias membuka matanya perlahan mendengar percakapan dan langkah kaki menuju kamarnya. Ia menoleh ke samping saat mendengar suara pintu kamarnya yang di buka dari luar. Ah, itu pasti nenek dan orang yang bernama Sil itu.
" Loh Tias ?" nenek Ruwi terkejut melihat mata cucunya yang terbuka.
Namun bukan itu yang menjadi fokus Tias saat ini. Melainkan seorang gadis wanita cantik berhijab di sebelah neneknya. Dia adalah dokter Silla yang pernah Tias lihat waktu di warung Juminten dulu.
__ADS_1
" Sil tolong nenek minta tolong bantu obatin cucu nenek ini ya." pinta nenek Ruwi yang dibalas senyuman menenangkan dari dokter Silla.
" Iya nek, tenang aja. Silla pasti bantu kok."
Dalam hati Tias berdecak tidak suka. Terlihat sekali kalau dia itu sedang pencitraan di depan neneknya saat ini.
" Dek, mbak izin periksa dulu ya. Maaf loh kalau ini kurang sopan."
Tias tidak bisa menjawab dan hanya bisa menatap dokter Silla karena tenaganya yang habis terkuras.
" Wah, ini mah karena makanan ya pasti ?" dokter Silla menekan sedikit bagian tengah perut Tias yang membuatnya meringis kesakitan.
" Tekanan darahnya rendah dan juga hampir terkena gejala demam, mungkin itu karena habis kebanyakan muntah tadi. Tapi nggak apa apa, nanti kalau minum obat dan vitamin terus sama rajin makan lama lama juga bisa sembuh kok." dokter Silla menjelaskan dengan tangan yang sibuk memilih obat di dalam tasnya.
" Nah, sekarang tolong buka mulutnya sedikit biar mbak kasih vitamin dulu buat nambah tenaga."
Tias membuka mulutnya menuruti permintaan dari dokter Silla. Setelah selesai, dokter Silla menatap nenek Ruwi dengan sedikit segan.
Nenek Ruwi mengangguk mengerti dan langsung bergegas keluar kamar untuk mengambilkan maka cucunya. Sedangkan dokter Silla melirik jam di dinding kamar Tias.
" Udah lima menit, mau minum ?"
Tias berusaha mengangguk yang kali ini sudah memiliki sedikit tenaga. " To..tolong." ucapnya tanpa suara namun perkataannya itu masih mampu dimengerti oleh dokter Silla.
" Sini biar mbak." dokter Silla membantu Tias yang tengah berbaring meminum airnya. Dengan sabar dokter Silla juga mengusap lembut bibir Tias dengan tissu yang ada di meja nakas.
Perlahan Tias bisa merasakan tubuhnya yang sudah tidak selemas sebelumnya. " Terima kasih dokter Sil..."
" Eh, jangan panggil dokter. Panggil mbak aja biar kita akrab. Mbak ini dulunya muridnya nenek kamu, dari mulai murid sekolah sampai murid ngaji. Kedengarannya juga kurang enak kalau mbak dengar kamu manggilnya dokter. Kayak apa aja, padahal mbak ini cuman bisanya bantu orang sakit." ucap dokter Silla panjang lebar.
__ADS_1
Tias tersenyum lalu mengangguk lemah. Ada rasa bersalah dihatinya saat ia pernah berpikiran buruk tentang dokter Silla dan sempat menceritakan tentangnya dari belakang. " Terima kasih mbak, maaf ya ngerepotin."
" Mbak merasa nggak kerepotan sama sekali. Malah mbak seneng bisa jumpa dan kenalan sama kamu. Ternyata bener ya kata Risam kalau kamu itu anaknya pendiem dan polos banget. Gemesin lagi mukanya kayak boneka hidup." ucap dokter Silla.
Senyum di wajah Tias berubah kaku saat mendengar nama Risam yang dokter Silla ucapkan. " Mbak kenal pak Kades ?"
" Kenal lah, siapa yang nggak tahu dia. Kami dulu bahkan pernah main bola bareng waktu kecil. Tapi sam..." dokter Silla seperti mengingat sesuatu dan tidak melanjutkan ucapannya.
Tias mengerutkan kening bingung, terlihat aneh dan mencurigakan namun ia tidak mau perduli. Biarlah itu menjadi urusan pribadi dokter Silla saja. " Berarti mbak lahir di sini dong ?"
Sengaja Tias bertanya untuk mengalihkan pembicaraan mereka yang mulai terasa canggung ini.
" Iya, mbak sekolah di sini sampai SMA dan baru kuliahnya keluar kota. Kalau kamu kuliah jurusan apa sekarang ?" jawab dokter Silla.
" Bisnis."
" Wah, calon pengusaha berarti ya."
" Amin.., semoga aja mbak."
" Jangan semoga, ucapin harus kalau untuk cita cita. Biar kesampaian nantinya." ucap dokter Silla sembari memberi nasihat.
" Iya." Tias membalas patuh, rasanya ia sekarang seperti mendapatkan seorang sosok kakak baru. Mengobrol ke sana kemari seakan akan mereka ini adalah kenalan lama. Saling mengerti setiap kali tanpa sengaja mendapati pertanyaan pribadi yang membuat mereka menjadi canggung kembali.
Sekarang Tias mengerti kenapa Kades itu menyukai dokter Silla. Mereka terlihat cocok dipandangannya, si Kades menyebalkan yang bikin orang emosi itu dengan dokter Silla yang friendly dan juga penyabar. Pasangan yang lumayan karena yang satu Kades terpandang dan yang satunya lagi dokter idaman.
" Tias sini makan dulu, ini nenek buat bubur. Untung aja ada bahan instannya di warung." nenek Ruwi datang membawa penampan yang berisi semangkuk bubur ayam dan segelas air hangat.
" Sini nek biar Silla aja yang nyuapin." pinta dokter Silla yang membuat nenek Ruwi tersenyum berterima kasih.
__ADS_1
" Kamu baik banget."
" Biar pendekatan sama calon adik nek."