
Ilham mendorong Rahmat agar bergeser ke samping. " Kelamaan kamu Mat, mending geser aja dulu kita gantian."
Ilham kemudian tersenyum menatap Tias lalu memberikan bungkusan besar plastik hitam. " Ini jeruk, semoga cepat sembuh ya Tias."
" Iya, terima kasih ya Ham." Tias tersenyum menerima bungkusan plastik itu.
" Sama sama Tias." jawab Ilham.
Mawar yang mendengar kata jeruk segera menoleh dan mengambil bungkusan plastik hitam itu. Ia membukanya dan mengambil lima buah jeruk sekaligus kemudian mengembalikan bungkusan itu lagi pada Tias.
Ilham yang melihat itu mendelik kesal. " Untuk yang sakit loh itu, bukan buat yang rakus." sindirnya.
" Minta sedikit aja ribut kamu Ham. Lagian ini kan udah dikasihkan sama Tias. Kamu udah nggak hak lagi buat ngatur karena ini udah bukan milik kamu lagi." Mawar membalas dengan lirikan tajam dan juga sinis.
Ilham langsung mengangkat tangannya ke atas sebagai tanda mengalah. Bukan karena takut tetapi kalau dilanjutkan lagi yang ada mereka akan bertengkar pada akhirnya. Mana kata orang perempuan itu selalu harus benar lagi, yang berarti itu mau bagaimanapun Ilham berusaha berbicara dirinya tetap akan kalah diakhirnya. " Terserahlah War, terserah."
Setelah itu Ilham menghampiri Hilman dan duduk di sebelahnya. Dion berganti mendekati Tias dan memberikan parsel berisi roti dengan berbagai macam rasa.
" Karena udah banyak yang bawa buah, aku bawakan roti Yas." ucap Dion sembari tersenyum ramah yang membuat Tias ikut tersenyum juga.
Apa Tias sudah pernah bilang kalau senyum Dion itu menular ? Seperti yang terjadi pada saat ini. Tias kira awalnya itu karena baru pertama kali melihatnya. Tetapi setelah mereka bertemu beberapa kali, barulah sekarang Tias yakin dengan penilaiannya ini. Kalau ternyata Dion memilki senyuman yang bisa membuat siapa saja ikut tersenyum juga.
" Terima kasih Dion."
" Sama sama, udah seharusnya juga teman sakit dijenguk." balas Dion.
__ADS_1
Tias menganggukkan kepalanya paham. Ia cukup senang karena memiliki teman teman seperti Dion dan yang lainnya. Reno dari belakang menepuk pundak Dion untuk memberinya isyarat agar menyingkir, dan untung saja pemuda itu mengerti sehingga berjalan mundur untuk memberikan Reno giliran.
Reno menatap Tias sambil tersenyum tipis dan memberikan paper bag yang dibawanya pada gadis itu. " Tias ini obat demam sekalian sama obat herbal tambah tenaga. Mana tahu kamu masih lemas karena habis sakit kemarin jadi kamu bisa minum obat herbalnya. Kalau obat demamnya untuk siap siap aja mana tahu kamu badannya kerasa nggak enak. Oh iya, aku juga tadi beli obat mual sama madu. Dipilih aja sendiri yang mana yang mau kamu minum."
Mendengar itu sontak saja teman temannya yang lainnya pura pura batuk berjamaah. Mereka yang kenal lama dengan Reno belum pernah diperlakukan seperti itu. Karena itulah muncul ide ide jahil diantara mereka yang merusak suasana.
Rahmat memegang lehernya pura pura kesakitan. " Aduh No tenggorokan aku kok sakit ya tiba tiba ?"
Reno memutar mata malas melihat itu. Ia sudah hapal betul dengan sikap tengil Rahmat. " Diminumi Baygon sembuh nanti Mat."
" Jahat banget sih No, orang ini beneran sakit juga." ucap Rahmat kesal yang membuat teman temannya tertawa mengejek.
" Sakit tenggorokan kok masih bisa ngomong." ujar Diki.
Rahmat melotot kearahnya. " Heh ! Aku ini sakit tenggorokan bukan bisu !"
Rahmat menyadari kebodohannya menjadi tertawa malu. Ia perlahan menyingkir dari dari pandangan Reno.
" Aduh No jantungku kok rasanya sakit ya. Gimana ini ? Kayaknya aku punya riwayat penyakit jantung dinilah." sekarang berganti Dion yang berulah.
" Ganti aja sama jantung pisang." jawab Reno tanpa perasaan.
Spontan Dion terdiam tidak mau mengeluh lagi. Reno benar benar tidak bisa diajak bercanda sedikitpun. Temannya itu selalu serius dan juga tidak bisa berbadan basa sedikit.
" Ehem ! Yang calon dokter tahu aja modusnya sama orang sakit ya." ucap Mawar menyindir Reno.
__ADS_1
Reno menatapnya malas, gadis ini kalau bicara membuatnya kadang merasa kesal juga. Pantas teman temannya sering bertengkar dengan dia. " Kamu sakit juga War ? Kebetulan aku masih ada serep suntikan hewan sama vitamin cacingan di rumah."
" Enggak, aku kan cuma ngomong aja tadi." Mawar melirik Reno kesal, mentang mentang satu keluarga dokter semua jadi kalau kesinggung sedikit ancamannya suntik sama obat obatan. Mana yang mau dikasihkan untuknya adalah suntikan hewan dan vitamin cacingan lagi. Dia kira dirinya ini binatang yang berpenyakit cacingan apa ?.
" Mangkanya besok hati hati kalau ngomong ya. Kamu kan tahu kalau lidah itu nggak ada tulangnya." ucap Reno.
Seketika semua orang yang ada di sana terdiam. Ucapan Reno benar benar membuat mereka tidak dapat berbicara lagi terutama Mawar yang semakin bertambah kesal. Tias yang merasa suasana mulai berubah canggung pun mulai tersenyum kembali.
" Reno ini madunya kayak bukan dari toko ya ?" Tias pura pura memandang madu yang ada di dalam paper bag. Ia sengaja untuk mengalihkan suasana seperti semula. Salahkan saja Mawar yang berbicara tanpa memandang orang. Reno bukanlah orang yang mudah disinggung, meski hampir sama dengan Hilman karena mereka sama sama pendiam. Tetapi Reno adalah orang yang anti jika terkena kata kata, dia kalau kena akan langsung membalas dengan kata kata menyinggung dengan wajah biasa dan nada suara yang datar. Berbeda dengan Hilman yang lebih suka pergi begitu saja dan memilih tidak memperdulikannya.
" Kamu dapat ini dari mana Reno ?" Tias lanjut bertanya.
Reno menoleh dan kembali menatap Tias. " Dari warungnya mang Septo, dia kan punya peternakan lebah."
" Masa iya ? Besok aku beli jugalah di sana, jarang ada madu asli kayak gini. Oh iya, terima kasih ya Reno."
Reno tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Iya."
" Nah.., kalau udah pada semua. Sekarang giliran aku ya." Diki muncul dari balik punggung Reno. Ia sudah sedari tadi mengantri dan menunggu teman temannya selesai memberikan buah tangan mereka. Sekarang sudah waktu gilirannya untuk memberikan buah tangan yang dibawanya sejak tadi.
Reno bergeser lalu beranjak pergi dan duduk di sebelah Rendi. Diki membawa kotak kardus berukuran sedang berjalan maju ke hadapan Tias. Tiba tiba terdengar bunyi suara dari dalam kardus itu. Tidak terlalu kencang namun orang orang yang ada di sana bisa mendengarnya.
" Diki kok makananmu ada bunyinya ?" Rahmat bertanya bingung.
" Namanya makanan yang kubawa ini spesial. Butuh waktu kalau mau makan yang kubawa ini." jawab Diki penuh teka teki.
__ADS_1
Rahmat mengerutkan keningnya bingung. Sedangkan teman temannya yang lain memalingkan wajah mereka karena malu.