Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Sampai Jumpa


__ADS_3

Seperti yang ia ucapkan pada Risam kemarin sore. Saat ini Tias tengah berkutat dengan berbagai berkas pemasukan dan pengeluaran Cafe. Ditambah lagi tugas kuliahnya yang sedang menunggu untuk ia selesaikan. Tias tanpa lelah terus membolak balik kertas kertas itu tanpa jenuh. Matanya terus menatap fokus disetiap deretan angka dan menghitungnya dengan cermat.


TOK ! TOK ! TOK !


Tias mengangkat kepalanya memandang pintu yang masih tertutup. " Masuk !" pintanya.


" Maaf mbak Tias, ada orang di luar yang maksa ingin ketemu sama mbak." ucap Sella.


Tias mengangkat alisnya sebelah memandang Sella penuh tanya. " Siapa ?"


Sella menggeleng pelan. " Saya kurang tahu mbak, tapi orangnya udah bapak bapak."


" Suruh masuk aja ke sini." perintah Tias yang tidak memiliki pilihan lain selain meminta orang itu untuk masuk ke dalam ruangannya.


" Baik mbak." Sella berbalik pergi keluar menghampiri orang yang dimaksudnya itu.


Tak lama Sella datang bersama seorang pria paruh baya yang datang bersamanya. Tias langsung mendatarkan wajahnya saat mengetahui siapa pria paruh baya itu. " Sella bisa kembali bekerja."


" Siap mbak." Sella menunduk sopan pada Tias sebelum beranjak pergi melanjutkan pekerjaannya.


Melihat pintu kerjanya yang tertutup, Tias menatap tajam pria paruh baya yang masih setia berdiri di depannya. " Apa perkataanku kemarin kurang jelas paman Albert ?"


" Maafkan saya nona muda. Tetapi saya tidak bisa mengabaikan keselamatan anda begitu saja. Saya tidak ingin mengecewakan tuan muda saya." ucap Albert yang masih menatap Tias dengan sopan.


Mendengar kata keselamatan, Tias mengerutkan keningnya. Jantungnya bahkan mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. " Silahkan duduk paman."


Albert berjalan menghampiri dan memilih duduk di depan meja kerja Tias. Dalam hati ia sudah merasa lega karena kali ini dirinya tidak diusir lagi seperti sebelumnya.

__ADS_1


" Bisa paman jelasin ?" tanya Tias setengah meminta.


Albert menganggukkan kepalanya. " Nyonya Clara sudah mengetahui kepergian nona, dan tuan Gunawan meminta orang suruhannya untuk mencari anda di Provinsi Riau ini. Bahkan dia meminta pada anak buahnya untuk menelusuri setiap tempat ini tanpa terlewati satu tempat pun. Saya takut jika keberadaan nona diketahui dan anda kembali ke sana, nyonya Clara akan berbuat nekat kepada anda."


" Itu udah pasti." jawab Tias dengan dagu yang disangga oleh tangannya di atas meja. " Apa dia menampar papa ?"


" Iya nona."


Tias tersenyum mendengar jawaban Albert. Nenek tua dengan segala ambisinya itu tidak pernah berubah ternyata. Dia tidak pernah melihat kenyataan yang ada di depan mata dan selalu ingin mengendalikan segalanya. Lebih sialnya lagi, nenek tua itu ingin sekali mengendalikannya dan berusaha untuk membuatnya layaknya mayat hidup.


" Bagaimana kalau nona tertangkap oleh orang suruhan tuan Gunawan ?" Albert bertanya dengan wajah khawatir.


Tias memikirkan pertanyaan itu untuk beberapa saat sebelum mengangkat bahunya acuh. " Aku yakin pamanku nggak akan begitu aja ninggalin aku sia sia di sini. Entah siapa itu tapi kalau aku udah ada di sini mereka nggak akan bisa membawaku lagi kembali ke sana. Kecuali aku memang benar benar bersedia datang ke sana sendiri. Paman Albert pasti tahu gimana watak pamanku kan ?"


" Iya nona muda, tapi kalau dibolehkan saya ingin memberi penjaga bayangan untuk anda." ucap Albert meminta izin.


Albert tersenyum sopan menanggapi. " Sudah tugas saya nona."


" Terserah paman aja, aku udah nggak tahu gimana lagi buat ngasih tahu paman untuk berhenti menjagaku."


" Saya menjaga amanah dari tuan muda anda."


Tias berdecak karena merasa bosan mendengar jawaban yang itu itu saja didengarnya. " Yah, terserah paman aja. Mau kusajikan minuman apa ?"


" Maaf nona, saya harus cepat kembali ke Jakarta sebelum tuan Gunawan curiga. Kedatangan saya ini hanya ingin menyampaikan hal tentang nyonya Clara sekaligus memberikan penjaga bayangan untuk anda." jawab Albert yang membuat Tias tertegun mendengarnya.


Dipandanginya wajah Albert yang mulai menampakkan keriput diumurnya yang hampir mencapai lima puluh tahun itu. Tias terdiam untuk beberapa saat memikirkan sesuatu. " Paman."

__ADS_1


" Ya nona ?"


Tias lagi lagi terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya ia tersenyum tipis menatap wajah Albert. " Terima kasih, jika kita berhasil. Ayo hidup seperti dulu lagi dengan ikatan keluarga."


Mendengar itu mata Albert mulai berkaca kaca. Rasanya menyedihkan sekali mendengar kata keluarga dari gadis itu. Apalagi sekarang tanpa ada tuan muda di sisi mereka. " Sa..saya akan berusaha." ucapnya terbata bata.


Albert berdiri dan membungkuk memberi salam. " Sampai jumpa dilain waktu nona muda. Saya akan mengawasi anda dari Jakarta."


" Ya sampai jumpa paman Albert."


Albert beranjak pergi dari ruang kerja Tias dengan wajah yang mengeras menahan sedih. Begitupula dengan Tias yang masih setia memandangi kepergian Albert hingga pria paruh baya itu menghilang di balik pintu.


" Sampai jumpa paman, semoga disaat kejumpaan kita selanjutnya. Kita bisa bebas dari keterikatan yang mencekik ini." ucap Tias.


Dan di sinilah pertahanan Tias runtuh. Perlahan air matanya menetes begitu saja membasahi pipi putihnya. Begitu sulit untuknya menghadapi nasibnya ini. Mereka keluarganya tetapi mereka juga yang mencoba merusaknya. Mengubahnya menjadi seperti peliharaan yang kapan saja bisa mereka kendalikan. Memaksanya untuk memiliki kepribadian yang mereka inginkan. Dan membuatnya terkurung di dalam genggaman mereka tanpa diperbolehkan melangkah keluar sedikitpun.


Bahkan orang yang melahirkannya ikut memperlakukannya seperti itu juga. Kadang Tias berpikir benarkah dirinya ini anak mamanya ?.


Kalau iya, kenapa Tias diperlakukan berbeda ? Kenapa dari sekian banyaknya keturunan yang ada di keluarga papanya. Hanya ia yang mereka jadikan tumbal kekuasaan mereka ?.


Pertanyaan pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sampai Tias sendiri pun bingung untuk menghentikannya. Sulit sekali rasanya untuk ia hidup normal layaknya anak seumurannya. Tias sudah mencoba menekan rasa takutnya dan belajar untuk lebih percaya diri lagi. Tetapi ketakutannya tetap saja masih ada, apalagi mereka bukanlah orang yang mudah untuk dihadapinya. Mereka keluarganya, mereka adalah rumahnya, dan mereka adalah orang orang yang disayanginya. Tetapi terpaksa ia harus mereka demi kebebasannya.


" Apapun yang terjadi aku akan tetap pada jalanku ini. Demi paman, nenek, dan kehidupan bebasku." tekad Tias dengan mata memandang tajam ke depan.


Ia mengusap air matanya dengan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dari dalam hati Tias terus mengucapkan kata bahwa jalan yang ia ambil ini memang sudah yang terbaik. Apapun resikonya nanti ia tidak akan menyesalinya. Tias harus berani menguatkan diri menghadapi mereka yang telah membuatnya menjadi seperti ini.


Tetapi terlepas dari itu semua, siapa orang rahasia yang akan melawan orang suruhan papanya nanti ? Apakah pamannya benar benar melakukan itu untuknya ?.

__ADS_1


__ADS_2