
TENG ! TENG ! TENG !
" Aduuuh ! Berhentiiii !" Tias menutup telinganya rapat rapat menggunakan bantal. Tapi bantalnya itu malah ditarik begitu saja dan berganti dengan suara kencang.
TENG! TENG ! TENG !
" Ya Allah !" spontan Tias langsung terduduk di atas tempat tidurnya. Matanya terbuka lebar dan menoleh pada asal suara itu. Namun niat kesalnya segera sirna saat tahu bahwa suara itu berada dari panci dan sendok yang neneknya pukul.
" Apa ?!" nenek Ruwi melotot kesal dengan wajah galaknya.
Tias langsung menggelengkan kepalanya. " Eh ! Ne..nenek ngapain di sini ?"
" Nenek mau bangunin kerbau tidur. Ada apa ? Kami mau pergi ke alam mimpi lagi ?!" tanya nenek Ruwi.
" Ng..nggak, Tias kan cuma nanyak aja. Ya udah, Tias mandi dulu ya nek." setelah mengatakan itu Tias langsung melompat turun dan berlari ke dalam kamar mandi untuk melarikan diri.
Jangan sampai ia terkena semprotan rohani dari neneknya yang galak itu. Kalau masalah bangun pagi, neneknya pasti akan berubah menjadi orang yang disiplin tiba tiba. Padahal tadi malam Tias hanya bisa tidur selama empat jam saja. Untungnya ia kuliah dari rumah, kalau tidak mungkin hari ini ia sudah tidak diperbolehkan masuk kelas lagi.
Tias keluar dari kamar mandi lalu memilih pakaian santai. Setelah itu ia cepat cepat memakainya dan mengikat rambutnya asal. Kemudian berlari keluar kamar menghampiri neneknya. Kalau ia terlalu lama, takutnya neneknya itu malah bertambah marah dan siraman rohaninya benar benar terjadi.
" Bersih mandinya ?" nenek Ruwi bertanya sinis.
Tias menggelengkan kepalanya. " Enggak tahu, Tias tadi kan cepat cepat."
" Lama lama panuan kamu."
Tias tertawa lalu merangkul lengan neneknya yang gemuk. Dalam hati ia merasa sangat senang karena neneknya tidak mengeluarkan siraman rohaninya.
" Mau makan ?" tanya nenek Ruwi.
" Enggak ah, nanti aja. Tias belum merasa lapar."
" Iya tap..."
" Tias ! Tias ! Main yok !"
__ADS_1
Teriakkan kencang dari luar rumah membuat ucapan nenek Ruwi terhenti. Tias menahan tawanya melihat wajah kesal neneknya. Ia tahu siapa pemilik suara teriakkan itu.
" Tias ! Main yok !" lagi lagi teriakkan itu terdengar di luar rumah.
" Astaga, anak itu." nenek Ruwi keluar rumah diikuti Tias di belakangnya.
" Tias ! Ma..., eh nenek." Mawar tersenyum mengusap telinganya karena merasa takut melihat nenek Ruwi ternyata masih ada dan rumah. Yah begini ia tidak akan datang ke rumah Tias sebelum menelponnya tadi.
Nenek Ruwi berkacak pinggang menatap Mawar. " Ada apa hah ?!"
" Ma...mau ngajakin Tias main nek." Mawar berucap pelan karena ketakutan.
Tias yang melihat wajah Mawar tersenyum diam diam. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang takut dengan neneknya.
" Ya udah sana, tapi nanti kalian mampir dulu makan di warung. Si Tias belum sarapan dari tadi gara gara ngebo dulu." kata nenek Ruwi yang diakhiri dengan sindiran.
Mawar langsung tersenyum senang mendengarnya. Tanpa takut lagi ia berlari menghampiri Tias dan merangkul lengannya. " Jalan jalan yuk, kita ke warung soto mang Koko. Sekalian foto foto terus ngeliat perguruan silat abangku yang lagi rame di sana karena ada ajang perlombaan ilmu bela diri." ajaknya.
" Masih pagi ini loh." ucap Tias.
Tias melototkan matanya menatap Mawar. " Sabung ayam ?"
Mawar menganggukkan kepalanya. Tias berdecak setelah mendengarnya, ia tidak menyangka kalau di Kampung ini masih ada orang yang melakukan dosa seperti itu. Tias menjadi berpikir kalau seandainya mereka yang diadu seperti ayam ayam itu dikemudian hari, barulah mereka tahu rasa sakitnya.
" Aku nggak mau lihat sabung ayam." ucap Tias.
" Yah..., padahal seru loh Yas." Mawar menatap lesu pada Tias dari samping.
" Makan aja yuk, aku laper. Sekalian kita lihat lihat sawah entah apalah gitu. Yang penting kita nggak lihat sabung ayam."
Mawar tempak berpikir sebelum kemudian menjentikkan jemarinya. " Ke warung Juminten yuk, dia jualan lontong sayur sama pecel. Enak loh dia masakannya, tapi yah harus tahan sama orangnya."
Tias menoleh menatap penasaran. " Kenapa memangnya ?"
" Nantilah kamu pasti tau sendiri." jawab Mawar yang enggan menjelaskan.
__ADS_1
" Ya udah ayo kita berangkat sekarang aja." Tias meminta karena sangat penasaran dengan si penjual lontong sayur dan pecel yang bernama Juminten itu. Mungkin saja orangnya pelit atau sangat galak kepada pembeli.
" Ya ayo, nek kami berangkat dulu." Mawar menghampiri nenek Ruwi yang malah duduk santai sambil menunggu mereka selesai bercerita.
" Hm, jangan lupa suruh cucu nenek itu makan. Harus yang terbuat dari nasi sebelum mau makan yang lainnya." kata nenek Ruwi seraya mengulurkan tangannya.
Mawar mencium punggung tangan nenek Ruwi dengan sopan. " Assalamualaikum nek, nanti di jalan Mawar ingetin kok."
Nanak Ruwi menganggukkan kepala. " Wa'alaikum salam."
Tias melangkah maju setelah melihat Mawar selsai berpamitan. Ia segera mencium punggung tangan neneknya. " Tias berangkat, assalamualaikum."
" Wa'alaikum salam, inget ! Harus makan nanti di jalan." ucap nenek Ruwi memberi peringatan sekali lagi.
" Iya nek." setelah mengatakan itu, Tias segera menarik tangan Mawar untuk pergi bersama.
Bisa dibilang kali ini mereka sedang melakukan jalan jalan pagi. Dengan dandan seadanya, Tias mencepol rambutnya ke atas dan menyisakan beberapa anak rambutnya. Ia bermaksud memperbaiki penampilannya agar tidak terlalu memalukan.
" Yas tentang tadi malam pas di pasar malam itu. Aku rasa pak Kades suka sama kamu lah." ucap Mawar tiba tiba yang membuat Tias menoleh kepadanya.
" Mana mungkin ! Tadi malam itu cuma bercanda aja dia. Lagian kalau dilihat dari orangnya, cewek yang cocok buat pak Kades itu ya kayak wanita karir yang sukses. Bukan masih remaja yang mau beranjak dewasa kayak kita ini." balas Tias.
Mawar menggelengkan kepalanya tidak setuju. " Aku lihat sendiri loh Yas. Gimana pandangannya pak Kades ke kamu. Dari situ aja udah kelihatan tahu, kamunya aja yang nggak peka."
Tidak peka katanya tadi ? Tias sudah sangat peka, seandainya mereka tidak terhalang oleh rasa tidak sukanya ini kepada keluarga Kades itu. Mungkin Tias pun akan sedikit membuka diri untuk berteman dengan Risam si Kades muda itu.
" Udahlah, ngapain bahas itu. Biarkan aja itu jadi misteri. Nggak usah dibahas atau dicari tahu lagi." balas Tias.
Mawar berdecak mendengarnya. " Ngeles aja kamu bisanya. Nanti giliran keadaan kebalik baru kamu yang nyesel. Kan jarang jarang tuh ada cowok yang ganteng, pinter, kaya, anak tunggal, dikagumi banyak orang, terus punya jabatan Kades lagi."
" Nggak perduli." Tias menjawab ketus.
" Awas loh, nanti benci jadi cinta kayak di novel."
" Nggak bakal !" jawab Tias lagi.
__ADS_1