Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Sate


__ADS_3

DRRRT ! DRRRT !


Tias mengambil ponselnya dengan pandangan yang masih terarah pada layar laptopnya. Kali ini tugasnya lebih penting dari apapun juga, jadi tanpa melihat siapa orang yang menelponnya Tias langsung menjawab panggilan itu.


" Halo ?"


TAK !


Ponselnya terjatuh begitu saja ke meja saat mendengar suara dari orang yang menelponnya. Ia tahu betul siapa pemilik dari suara itu. Suara halus sekaligus manja yang membuatnya terkadang bertanya tanya benarkah di balik suara itu tersimpan pisau yang tajam ?.


Tias menenangkan dirinya dan mengambil kembali ponselnya yang terjatuh. Ia membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


" Hallo kakak, gue tahu lo masih ada di sana ?"


Tias tidak menjawab, ia hanya diam dengan fokus membaca nama di layar ponselnya itu.


" Bisa kita bicara ? Ini penting ! Kalau kakak setuju tolong hubungi gue balik nanti. Sampai jumpa, gue nggak bisa bicara lama lama di sini."


Setelah itu panggilan itu terputus karena si penelpon yang mengakhiri panggilannya. Tias tertegun sejenak karena kata tolong yang diucapkan oleh adiknya untuk pertama kalinya. Ia mengeja dalam hati setiap huruf dari nama orang yang baru saja menelponnya untuk keyakinan dirinya, dan benar saja kalau nama itu memang benar milik adiknya-Via. Ada apa dia sampai menelpon nomornya yang bahkan Tias pun ragu adiknya mau menyimpan nomornya ini.


Tias menggelengkan kepalanya mencoba tidak perduli. Biarkan saja, mungkin adiknya itu salah memencet nomor telepon tadi. Tias mencoba membuang jauh jauh pemikirannya bahwa orang yang baru saja menelponnya benar benar adalah adiknya.


" Nggak mungkin, Via nggak sebaik itu buat bisa bicara normal sama gue." ucapnya menyakinkan diri.


Tias kembali berkutat dengan laptopnya menyelesaikan tugas kuliah yang menurutnya tidak terlalu sulit. Jemarinya berusaha secepat mungkin untuk mengetik setiap kata di keyboard dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari layar laptopnya. Siapapun yang melihatnya mereka pasti tidak akan ragu lagi kalau melihat Tias yang begitu ahli dalam mengetik tanpa melihat tombol hurufnya. Seakan akan Tias sudah terbiasanya melakukannya, dan itu benar.


Tias sudah mulai mengetik sejak ia berumur lima tahun. Sampai sekarang umurnya yang kedua puluh dua tahun ini, ia sudah terbiasa mengetik keyboard tanpa harus melihat tombol hurufnya.

__ADS_1


Sampai akhirnya tugas kuliahnya pun bisa terselesaikan juga. Tias tersenyum lalu merenggangkan otot punggungnya yang kalau serta jemarinya yang sedikit kebas. Setelah tiga jam lamanya akhirnya Tias bisa menyelesaikan tugasnya. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, pukul tiga lebih dua puluh delapan menit. Sudah waktunya Tias pulang ke rumah sebelum neneknya itu mulai mengeluarkan ucapan mutiaranya.


Tias memasukkan laptopnya ke dalam tas dan membawanya keluar dari sana. Di pertengahan jalan ia tanpa sengaja bertemu Sella yang membawa tiga map di tangannya. Sepertinya gadis itu berniat masuk ke dalam ruangannya.


" Mbak mau pulang ya ?" tanya Sella yang baru saja ingin menemui Tias di dalam ruangannya.


Tias mengangguk. " Ada apa ?"


" Ada kerjasama dan pengajuan izin untuk menyewa Cafe serta..., ini yang satunya lagi saya kurang tahu." jelas Sella yang membuat Tias mengambil ketiga map itu.


Tias memasukkannya ke dalam tas bersama laptopnya kemudian menatap Sella. " Aku pulang dulu, assalamualaikum."


" Wa'alaikum salam mbak Tias." balas Sella.


Tias kembali berjalan keluar dari parkiran. Ini sudah hampir jam empat, kalau lebih lama lagi takutnya ia akan sampai malam pulang ke rumahnya. Karena sebenarnya jarak kota ke Kampungnya jika ditempuh dengan kendaraan pribadi membutuhkan waktu hampir menghabiskan tiga jam lamanya.


Berbicara tentang penjaga bayangan, mereka merupakan para bodyguard terpercaya yang sering mengawasi dari jarak jauh dan berupa penyamaran. Mereka akan keluar jika kita benar benar menghadapi musuh yang sulit dan mengancam. Tetapi kalau tidak, mereka tidak akan mau menapakkan diri mereka untuk membantu.


" Ck, gara gara nenek tua itu gue harus diikuti kayak buronan sekarang." ucapnya.


Tias menghela napas lega saat telah memasuki perbatasan Kampungnya. Ia sudah sampai di Kampungnya dengan selamat. Namun sebelum pulang Tias mampir terlebih dahulu ke warung penjual sate yang tidak jauh dari rumah neneknya. Tias memarkirkan motornya di depan tukang penjual sate serta mengambil kuncinya sebelum turun.


" Mas pesan sate kambingnya satu, makan di sini saya ya."


" Siap neng ? Baru pulang kerja ?" tanya penjual sate yang memang merupakan tetangga Tias di Kampung ini.


" Iya, tadinya mau langsung pulang. Tapi harum satenya sampai jalan jadinya saya mampir aja dulu."

__ADS_1


Mas si tukang sate itu tertawa merasa senang. " Neng mah bisa aja."


" Bumbu banyakin ya mas, saya pengen yang pedes."


" Oke neng, siap itu."


Tias berjalan ke pinggir dan memilih tempat duduk yang belum dihuni oleh siapapun. Tepat setelah ia duduk tidak lama, dua orang gadi datang menghampirinya.


" Hai." sapa kedua gadis itu yang langsung duduk begitu saja.


Tias mengangkat alisnya merasa sedikit tidak suka melihatnya. Mereka seperti tidak memiliki etika sopan santun pada orang yang baru saja kenal. " Maaf ?"


" Kenalin aku Lia and..., ini temanku Dara. Kamu cucunya nenek Ruwi yang dari Jakarta kan ?" tanya Lia.


Tias memandang gadis bernama Tias itu. Kalau tidak salah dia adalah anaknya pak RW dan disebelahnya adalah anak juragan Sapi. Apa maksud apa mereka mendatanginya tiba tiba seperti ini.


" Neng Tias ini pesanannya." Mas si penjual sate meletakan sering sate dengan bumbu kental dan sepiring lontong.


" Terima kasih ya mas." Tias menatap penjual sate itu sekilas sebelum memasang makanannya.


" Sama sama neng." balas mas si penjual sate dengan senyum ramahnya. Ia kemudian menatap Lia dan Dara yang belum memesan. " Kalau kalian mau pesan atau tidak tidak ?" lanjutnya bertanya.


Dara mengangguk. " Pesan, jangan yang terlalu pedas mas dua porsi."


" Oke."


Lia hanya diam mendengarkan saja, karena matanya yang masih asik meneliti Tias sejak tadi. Gadis yang katanya orang cantik itu memang ternyata benar adanya. Wajahnya terlihat bercampur keturunan orang luar yang membuat Lia merasa iri setelah melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2