
" Pantesan apa ?" Mawar menatap Tias tidak mengerti.
" Iya pantesan aja kamu keliatan manja. Ternyata kamu itu anak kedua."
" Bukan kedua lagi, aku ini anak bungsu di keluargaku." ucap Mawar.
Tias menganggukkan kepalanya mengerti. Pantas saja setiap kali ia berbicara dengan Mawar rasanya seperti sedang berbicara dengan adiknya sendiri. Ternyata karena mereka lahir diurutan yang berbeda.
" Tias aku boleh tanya nggak ?" Mawar menatap Tias dengan pandangan ragu. Tapi dalam hatinya merasa sangat penasaran sampai membuatnya nekat dan memilih bertanya dibandingkan berasumsi sendiri.
Tias menoleh sekilas dan memilih mengatur tali kekang kudanya agar berjalan pelan. " Tanya apa ?"
" Tapi..., kamu jangan marah ya ?"
" Tergantung." Tias menekan rasa bingungnya sembari memandang ke depan dengan kuda yang berjalan pelan beriringan bersama langkah kuda Mawar di sampingnya.
Mawar mengerucutkan bibirnya kesal. " Ya udahlah nggak jadi tanyanya."
" Loh kenapa ? Tadi kayaknya kamu ingin kali tanya sekarang kok malah nggak jadi." Tias berucap heran.
" Takut kamunya marah." jawab Mawar.
Tias tertawa pelan lalu menggelengkan kepalanya heran. " Selagi kamu nggak terlalu ngelewatin batas privasi aku nggak masalah. Jadi, tanya aja dari pada penasaran."
" Iya deh aku mau tanya, kamu kok kelihatannya nggak suka sama pak Kades ?" tanya Mawar setelah memutuskan untuk memenuhinya rasa penasarannya.
__ADS_1
" Kelihatan kali ya emangnya?"
Mawar mengangguk sebagai jawaban. Selain orang buta menurutnya siapapun juga tahu dari cara Tias merespon sapaan dari Kades muda di kampungnya ini.
" Mungkin karena aku memang nggak terbiasa aja. Karena dulu waktu di Jakarta aku termasuk orang yang jarang bergaul." jawab Tias.
" Tapi waktu kumpulan kemarin kamu kelihatan akrab sama pak Kades ?" Mawar bertanya lagi karena masih belum merasa puas dengan jawaban yang Tias berikan.
Tias terdiam beberapa saat untuk merangkai sebuah alasan. " Kelihatannya aja, lagian aku nggak dekat dekat kali kan sama dia ? Lagian kemarin pas kumpulan itu cuma kebetulan. Karena permintaan nenek yang minta pak Kades buat ngajak aku ke sana supaya bisa lebih cepat berinteraksi sama pemuda pemudi di kampung ini."
" Oh, gitu rupanya." Mawar tersenyum setelah merasa puas dengan jawaban Tias. Pak Kades dan neneknya Tias memang sangat dekat seperti keluarga. Jadi tidak heran lagi kalau seandainya pak Kades mau memperkenalkan Tias secara khusus diacara perkumpulan kemarin.
Tias menatap Mawar penuh arti sebelum kembali memandang jalan di depannya. Sebelumnya memang Tias rasa memiliki hubungan yang baik dengan Kades muda itu tidaklah masalah karena dia sudah banyak membantu neneknya. Tapi setelah Tias tahu kalau dia anak dari pria yang menyebabkan pamannya meninggal disaat bertugas. Tias rasa lebih baik ia tidak mengenal Kades muda itu lagi dan menganggapnya sebagai orang asing saja. Tias tidak mau kalau suatu saat melihat senyuman ramah dari ayah Kades muda itu sedangkan pamannya harus berada di dalam tanah.
Bagi Tias senyuman itu seperti ejekan untuknya. Jadi dari pada ia akan merasa lebih benci lagi, lebih baik Tias tidak mengenal si Kades muda itu dan berpura pura tidak melihat segala kebaikan yang sudah dia berikan untuk neneknya.
Tias tersentak dan langsung menoleh ke samping.
" Kan kamu melamun lagi ! Kenapa kamu ? Banyak hutang ?" Mawar bertanya kesal.
Tetapi dengan jahilnya Tias malah menganggukkan kepalanya dan berpura pura memasang wajah lesu. " Iya, hutangku segunung belum kebayar bulan ini. Kamu mau bantuin nggak ?"
" Iiiyyuuuh..., jijik tahu ngeliatnya. Kamu bukannya imut masang muka gitu malah yang ada bikin aku mau muntah." Mawar menutup mulutnya dengan kening berkerut jiji menatap Tias.
" Kenapa ? Padahal kita kan teman yang harus saling membantu." Tias masih meneruskan aktingnya.
__ADS_1
" Bahasamu pakai baku segala. Aneh dengernya tau nggak ?!"
Tias tertawa lalu menepuk pundak Mawar untuk memberitahunya kalau ia hanya sedang bercanda. Mawar berdecak kemudian ikut tertawa juga. Rasanya lucunya sekali melihat wajah Tias yang begitu menghayati karena kebanyakan hutang. Tapi kalau memang Tias memiliki banyak hutang dan kesulitan membayarnya. Mawar pasti akan membantunya sebagai teman tentu saja.
" Eh iya, ini kita dimana ?" tanya Tias yang melihat kanan dan kirinya ada persawahan dan perkebunan buah yang hampir siap panen.
" Inilah persawahan dan perkebunan untuk membantu orang orang kurang mampu. Sengaja aku bawa kamu ke sini ya biar tahu tempatnya. Terus tempatnya juga bagus kalau untuk foto foto kayak desa di pegunungan." jawab Mawar.
Tias memandang persawahan di samping kirinya. Padi di sana sudah mulai menguning dan seperti kata Mawar barusan kalau itu sudah hampir siap dipanen. Kemudian Tias beralih memandang perkebunan buah yang ada di samping kanannya. Buah buah di sana juga sudah matang meski belum sempurna. Tidak lebar sih kebunnya, tapi Tias yakin kalau itu cukup untuk dana bantuan mereka nanti.
" War itu yang punya tanah siapa sih ?"
" Milik bersama, karena sebelumnya warga sini iuran dulu perminggu. Ada juga yang orang orang kaya ngasih bantuan dana buat tambahan."
Mendengarnya Tias jadi berpikir kalau semua orang di kampung ini rukun sekali. Iuran perminggu sampai bisa jadi persawahan dan perkebunan buah hanya untuk dana bantuan benar benar jarang ada yang mau seperti itu.
" Kamu tahu nggak Yas ? Semua ini berkat selama bang Risam jadi Kades. Dia yang ngusulin kalau semua iuran perminggu dibuat untuk jadi kayak gini." Mawar menambahkan jawabannya. Bahkan panggilan pak Kades yang biasa disebut sopan tanpa sadar berubah menjadi lebih akrab.
" Kok gitu ? Biasanya uang kayak gitu untuk pembangunan masjid kalau nggak ya untuk bangun jalan." sekarang Tias menjadi penasaran dengan kerukunan warga di kampung ini.
Mawar tersenyum sebelum menjawabnya. " Itulah hebatnya pak Kades yang buat kami kagum. Dia bangun Masjid dan jalan aspal ini memakai uang pemerintah. Entah gimana caranya kami pun juga nggak tahu."
Tias rasa tidak hanya neneknya saja yang merasa si Kades itu mengagumkan. Tapi seluruh warga di kampung ini juga ternyata. Perannya sebagai pemimpin di sini banyak dikagumi para warga. Pantas saja setiap Tias kemana mana semua orang selalu membicarakan yang baiknya saja tentang Kades muda itu.
Hah, kalau seperti itu. Berarti di sini hanya dirinya sendiri yang tidak menyukai si Kades muda. Tias menyukai kampungnya tapi ia tidak menyukai Kadesnya. Bisa tidak sih diganti saja Kades kampung ini ?.
__ADS_1
Tias mengenal napas pelan tanpa disadari Mawar. Mendengar banyak orang yang memuji Kades itu membuat Tias menjadi kesal sendiri. Ia sudah seperti orang syirik yang tidak suka dengan keberhasilan orang lain.
" Astaghfirullah halazim, apa yang aku pikirin ini ?" gumam Tias.