
Tias tertawa sembari memegangi perutnya. Baru kali ini ia bertemu dengan orang seperti Diki. Mawar yang sedari tadi duduk pun menjadi berdiri dan berjalan mendekat kearah Diki. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mencoba mendengar lebih jelas lagi dari suara yang ada di dalam kardus itu.
" Suaranya kok piyik piyik gitu ? Kamu bawa apa ke sini Diki ?!" Mawar terkejut dan bertanya dengan sedikit berteriak. Ia memandang horor pada Diki yang masih memasang senyum penuh percaya dirinya.
" Ra,ha,si,a." ucap Diki yang mengeja jawabannya. Ia kemudian memberikan kardus itu kepada Tias. " Kata bapakku kalau orang sedang sakit itu butuh hiburan. Jadi aku bawakan ini supaya kamu merasa terhibur Yas. Mereka lucu lucu kok, aku udah pilih tadi yang paling bagus." lanjut berucap tanpa rasa bersalah.
Tias meringis mendengar itu, dilihatnya wajah Diki yang tidak ada rasa kasihan sama sekali. " Terima kasih tak Dik."
Terpaksa Tias tersenyum kaku menerima kardus itu lalu membukanya. Suara di dalam kardus itu cukup mengemaskan dan juga membuatnya tidak tega kalau terus harus ditutup. Setelah kardus terbuka, terlihat lima anak ayam bewarna putih yang tampak lucu dan juga menggemaskan. Mereka saling berkumpul disudut kardus dengan bersuara lirih seakan tengah ketakutan. Tias menjadi berpikir, apa Diki tidak kasihan memisahkan induk dengan kelima anak ayam ini ? Mana pemuda itu membawakannya ayam kapas hias lagi. Ini satu ekor saja harganya cukup lumayan bagi Tias, apalagi ini yang berjumlah lima.
Mawar, Dion, Ilham, dan Rahmat berjalan mendekati Tias untuk ikut melihat. Mereka melotot kemudian menepuk kening bersamaan. Bagaimana bisa dia menjadi begitu bodoh, padahal Diki termasuk ke dalam salah satu mahasiswa terbaik di jurusan bisnis. Seharusnya Diki tidaklah sepolos itu untuk memberikan anak ayam pada Tias yang baru saja sembuh dari sakitnya.
Hilman yang melihat itu menjadi berdecih sinis, dan Rendi memutar matanya malas, sedangkan Reno sudah melotot menahan geram.
" Dasar bodoh." ucap Hilman.
" Malu maluin." tambah Rendi.
Hilman dan Rendi berkomentar dengan pandangan malas. Seakan mereka sudah merasa bosan dengan tingkah bodoh yang Diki lakukan. Beda dengan Reno yang saat ini sudah berkacak pinggang memelototi Diki.
" Kamu itu yang tolong mikir Ki, orang habis sakit kok malah kamu kasih bibit unggas kayak gitu. Yang ada bukannya Tias tambah sembuh malah berakhir sakit flu burung. Mana nggak ada induknya lagi, itu kalau anak ayamnya kedinginan kamu yang mau ngelonin hah ?!" Reno mengeluarkan semua kekesalannya. Di sini ia bersusah payah memberikan obat karena takut Tias sakit lagi. Ini si Diki seenaknya malah bawa bibit penyakit.
" Pff..." Mawar menutup mulutnya menahan tawa. Jangan sampai setelah Diki, ia yang akan terkena ucapan tajam Reno selanjutnya.
Diki menghembuskan napas berusaha bersabar. Reno kalau sudah bicara membuat orang ingin sekali menjahit mulutnya. Calon dokter bermulut tajam itu semoga saja besok dia tidak membuat banyak pasiennya sakit darah tinggi. Seperti yang dialami Diki saat ini setelah mendengar ucapan Reno yang tidak disaring dulu.
" My love Reno.., anak ayam itu kan punya bulu. Lagian mereka juga nggak minum ASI, jadi nggak masalah kalau mereka dibawa pergi dari induknya." ucap Diki.
" My love Reno ?!" teriak Mawar, Dion, Ilham, dan Rahmat bersama lalu tertawa kencang.
__ADS_1
Reno bergidik ngeri setelah mendengarnya. " Dasar setengah." umpatnya.
" Setengah ?" Rendi bertanya tak mengerti.
Reno menganggukkan kepalanya menatap Rendi. " Iya setengah." lalu beralih memandang sinis Diki yang ternyata masih menatap kearahnya juga.
" Setengah waras." setelah itu Reno berjalan mendekati Hilman.
Sontak saja setelah mendengar itu tawa Mawar, Dion, Ilham, dan Rahmat semakin kencang. Diki mengusap dadanya untuk lebih bersabar. Jangan sampai ia kelepasan dan nekat menjahit mulut Reno yang kelewat tajam itu.
Tias mendekati Diki dan mengusap bahunya.
" Sabar, karakter orang beda beda. Kamu temannya pasti tahu sifat asli dia yang sebenarnya kan ?"
Diki mengangguk untuk mencoba menghiraukan ucapan Reno. Ia tersenyum menatap Tias yang tengah mengusap bahunya. " Thank you."
" Ehem ! Tolong yang inggris kondisikan wilayah dulu kalau mau ngomong. Ini adalah Indonesia dan gunakanlah bahasa Indonesia juga. Jangan sok Inggris tapi masih pakai muka pribumi." Mawar memandang jengah Tias dan juga Diki.
" War kamu..."
" Assalamualaikum !"
Ucapan Diki terpotong dengan suara orang yang mengucapkan salam dengan begitu kerasnya. Sontak saja semua orang di ruangan itu menoleh kearah asal suara untuk melihat.
" Mbak Silla ? Pak Kades ?" Tias bertanya bingung dengan bergumam pelan. Mau apa dua orang itu datang kemari dengan bersamaan.
" Hai Tias." Silla tersenyum menghampiri Tias dan memeluknya. " Gimana keadaan kamu ? Udah mendingan ?"
Tias menganggukkan kepalanya. " Tinggal lemas aja badannya mbak. Besok juga aku udah bisa beraktivitas kayak biasa."
__ADS_1
" Minum madu, susu, kalau nggak telur ayam deh coba biar nanti badan kamu cepat sehatnya."
" Reno udah bawain aku madu tadi mbak, nanti aku minum itu aja." Tias mengambil paper bag berisi madu dan beberapa jamu yang Reno berikan tadi.
" Nah, ini dia." Tias menunjukkannya pada Silla tanpa tahu Reno yang diam diam tengah tersenyum menatapnya.
Silla melihat satu persatu jamu yang dibawa oleh Reno kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. " Bener, ini memang bagus buat orang baru sakit. Wah, Reno hebat ya kalau mau modus."
Reno mendengus tidak suka dan memalingkan wajahnya enggan menatap Silla. Kali ini tidak seperti biasanya Reno yang mengeluarkan kata kata tajamnya. Karena ia tidak mungkin melakukan itu pada orang yang lebih tua darinya.
" Ngambek dianya mbak Silla." ucap Diki.
Silla tersenyum lalu menoleh menatap Risam dan menyikut pelan lengan pria itu. " Bahaya Sam, lawanmu calon dokter. Mana masih muda lagi." bisiknya dari samping.
" Masih calon, dibandingkan saya yang udah berhasil dia masih kalah jauh. Cuma menang muda aja dia itu." balas Risam dengan wajah keruh.
" Cuma menang muda tapi cukup meresahkan ya ?" Silla menaik turunkan alisnya menggoda Risam.
" Muda tapi masih tampanan saya bagaimana ? Tetap saja saya yang terbaik."
Silla tertawa mendengarnya, hal itu tidak luput dari pandangan Tias. Ia melihat bagaimana dekatnya interaksi antara Silla dengan Kades muda itu. Mereka memang terlihat cocok, pantas saja banyak orang yang mendukung hubungan mereka.
" Kan bener apa yang aku bilang itu Yas." Mawar berbisik di samping Tias.
Tias menoleh kearah Mawar lalu mengangguk setuju. " Serasi ya ?"
" Iya." jawab Mawar tanpa beban, Silla dan Risam memang terlihat serasi.
Tanpa sadar Tias tersenyum tipis mendengar jawaban dari Mawar. " Aku juga mikirnya gitu tadi."
__ADS_1