
" Yas, Tias."
Tias tersentak kaget dan segera menoleh. Ia melihat Rendi yang menatapnya dengan pandangan khawatir. " Apa ?"
" Kamu kenapa ?" Rendi balik bertanya.
Tias menggelengkan kepalanya. " Aku nggak apa apa. Cuma ngantuk gara gara ngerjain tugas tadi malam, jadi sedikit nggak konsentrasi."
" Jangan kayak gitu lagi besok besok Yas. Kamu kan nyetir pulangnya, kalau kayak gini kan bahaya." ucap Rendi.
" Besok besok nggak lagi kok." Tias tersenyum menatap Rendi. " Kamu mau pulang ?"
" Iya, yuk bareng. Sekalian sama yang lainnya."
" Iy..." Tias mengambil tasnya dan beranjak berdiri.
" Tiaaas !"
Teriakan kencang tiba tiba datang memotong ucapan Tias. Rendi mengalihkan perhatiannya melihat asal arah teriakkan itu.
" Suaramu War."
Mawar tertawa dan meminta maaf. " Sorry, aku kan nggak tahu kalau ada kamu di sini juga Ren. Mana yang lain ?"
" Di parkiran." jawab Rendi.
Mawar mendekati Tias dan merangkul lengannya. " Pulang yuk."
" Ya ayo, aku udah nungguin kamu dari tadi sampai ditemani sama Rendi." ucap Tias seraya mulai berjalan dengan Rendi mengikuti dari belakang.
Mawar melirik Rendi di belakang. " Perhatian banget sih Ren, sama aku kok nggak gitu ?"
" Nggak penting." Rendi menjawab singkat.
" Aduh ! Sakitnyaaa !" Mawar berpura pura sedih dengan mengusap mata tanpa air matanya, dan bersandar di bahu Tias untuk mengadu. " Yas, huhuhuu. Mas Rendi jahat sama aku Yas. Dia udah nggak cinta lagi sama aku."
__ADS_1
Tias mengerenyit jijik menatap Mawar. Jari telunjuknya menekan dahi Mawar agar menjauh dari bahunya. " Jauh jauh sana, aku nggak punya teman tukang nangis kayak kamu."
" Iih ! Tias mah gitu !" Mawar menghentakkan kakinya kesal. Bibirnya bahkan sengaja ia majukan ke depan yang membuat Rendi mau tidak mau menutup mulutnya rapat rapat agar tidak menghujat.
Tias bergidik ngeri melihat tingkah Mawar yang baru kali ini ia lihat. Tanpa berbicara lagi Tias berlari begitu saja kearah parkiran karena tidak sanggup menahan rasa jijiknya. Apalagi tadi Mawar menyebut Rendi bersama dengan kata 'mas' yang baru pertama ini ia dengar. Jujur biasanya jika ada orang yang memanggil dengan sebutan itu, Tias merasa biasa saja. Tetapi kali ini saat Mawar menyebut Rendi dengan panggilan itu, entah mengapa rasanya ia jijik sekali setelah mendengarnya.
" Tiaaasss ! Tungguin woi !" Mawar berlari di belakang dan Rendi yang masih berjalan santai mengikuti.
" Hah !" Tias mengatur napasnya perlahan sembari menghampiri Hilman yang hanya diam di atas motor Mogenya .
" Wah, kenapa koe Yas." tanya Dion dengan logat jasanya.
" Dikejar..."
" Tiiiaaaaasss !" belum sempat Tias berbicara, suara teriakkan Mawar sudah datang menyusulnya hingga membuat orang orang yang ada di parkiran itu terpaksa menutup telinga mereka.
" Suaramu War." ucap Rahmat dengan telapak tangan yang menutup rapat telinganya.
" Koyo bledek ! Mana cemprengnya nggak ketulungan lagi." kata Dion ikut menambahkan.
Tias memutar mata malas melihat kelakuan Mawar yang sangat hiperaktif sekali hari ini. Ia tak menyangka kalau teman pertamanya ternyata orang yang memiliki tenaga lebih besar dari yang lainnya. Bahkan ia sendiri saja masih kalah dengan Mawar. Kok bisa ya Tias mau berteman dengan Mawar begitu saja. Padahal kalau dilihat lihat lagi karakter mereka ini sangat jauh berbeda bahkan berbanding terbalik.
" Mau pulang ?" Hilman menyodorkan helm hitam di depan Tias yang sibuk memperhatikan perdebatan Mawar dengan Dion dan Rahmat.
Tias tersentak dan menoleh melihat Hilman. " Aku bawa motor sendiri."
" Biar Mawar aja yang bawa, kamu ngantuk kan ? Nanti nabrak di jalan kalau nggak tahan." kata Hilman yang masih setia menyodorkan helm ke depan Tias.
" Tap..."
Rendi yang sedari tadi diam dengan cepat mengambil kunci motor di tangan Tias. Hal itu membuat Tias merengut tidak suka.
" Ren kunciku !"
Rendi tidak perduli dan malah berjalan mendekati Mawar. Ia menarik tangan gadis itu dan meletakkan kunci motor Tias ke telapak tangannya. " Bawa motor Tias, dia ngantuk."
__ADS_1
Mawar menatap kunci motor di tangannya untuk beberapa saat sebelum bersorak kesenangan. Kapan lagi ia bisa membawa motor secara bebas tanpa dibonceng ataupun membonceng orang. Mawar berlari menghampiri motor milik Tias lalu mengedipkan sebelah matanya kearah gadis itu. " Aku duluan ya Yas, tenang aja. Motormu aman kalau sama aku."
Tias mendelik mendengar itu dan segera berlari ingin merebut motornya. Namun Mawar sudah terlanjut membawa pergi motornya begitu saja sebelum Tias sempat menyentuhnya. " Mawar ! Motor gue !"
" Astaga ! Keluar juga bahasa kotanya." ucap Reno.
Dion, Rahmat, Diki, dan Ilham tertawa mendengarnya. Ini pertama kalinya mereka mendengar Tias memakai bahasa kotanya.
" Mawar, motor gue !" Dion mengikuti gaya berbicara Tias dengan nada suara yang sedikit diubah. " Coba ulangi lagi Yas." lanjutnya meminta.
Tias menepuk mulutnya pelan menyadari kebodohannya. Ia keceplosan memakai gaya bahasa orang Jakarta. " Mana bisa kayak gitu. Itu tadi kan cuma karena panik aja."
" Ooh, paniknya ternyata." ucap Rahmat dengan pandangan mengejek Tias.
Hilman yang sudah mulai jenuh kembali menyodorkan helm pada Tias. " Pulang ?"
Tias menatap helm itu lalu berganti memandang Hilman di depannya. Ada rasa tidak suka saat pemuda itu seperti tengah mengaturnya. Tias tidak suka itu, kalau tidak karena Hilman. Mungkin sekarang motornya tidak akan dibawa Mawar pulang begitu saja.
Tias menatap Hilman tanpa mengambil helm itu. " Lain kali tolong jangan ambil keputusan untuk orang lain."
Setelah itu Tias menatap Rendi. " Ren kunci motormu."
" Untuk ?" tanya Rendi.
" Siapa yang nyuruh kamu buat ngasih kunci motorku sama Mawar tadi. Sekarang aku mau pulang, ganti sama kunci motormu." Tias mengulurkan tangannya meminta kunci motor Rendi.
" Kan bisa pulang sama Hilman Yas." ucap Reno.
Tias pura pura tidak mendengarkan. Ia masih tetap mengulurkan tangannya pada Rendi. " Kalau nggak bisa ngasih, ambil lagi motorku sama Mawar. Biar aku tunggu di sini."
Mendengar itu, Rendi langsung menyadari kalau saat ini Tias tengah marah kepadanya. Tingkahnya tadi ternyata sudah membuat Tias tidak suka dan menjadi tersinggung. Rendi menatap Hilman beberapa saat lalu memberikan kunci motornya. " Yas, maaf. Aku nggak tahu kalau kamu tersinggung tadi."
" Nggak masalah, lain kali tolong jangan diulangi lagi." Tias berjalan menghampiri motor Rendi dan memakai helm biru bergaris hitam yang ada di atas motor itu.
" Aku duluan." lanjutnya yang pamit kepada tujuh pemuda itu. Tias melajukan motor Rendi dengan kecepatan sedang meninggalkan ketujuh pemuda itu yang saling terdiam menatapnya. Salahkan saja Hilman dan Rendi yang seakan mengaturnya tadi. Tias tidak suka diperlakukan begitu sedangkan mereka baru saja kenal beberapa hari.
__ADS_1