
Setelah berjam jam lamanya, akhirnya Tias bisa sendirian di rumah. Tamu tamunya baru saja pulang dan semua kekacauan rumah terpaksa ia yang harus mengerjakan. Begini sekalilah nasibnya, baru juga sembuh dari sakit. Eh, sekarang malah harus memberesi ruang tamu sendirian. Bukannya tamu tamunya itu yang membantunya membereskan, memang ya kalau tamu itu jarang ada yang sadar diri.
Tias memandang jam dinding, terlihat jarum jam yang menunjukkan pukul lima lebih empat puluh tiga menit. Berarti sebentar lagi jam enam sore dan juga menjelang magrib. Tias mengambil plastik sampah dan membawanya ke luar rumah untuk dikumpulkan di sana sebelum ia membakarnya besok pagi.
Setelah selesai Tias menghela napas. " Alhamdulillah akhirnya selesai juga, sekarang mungkin gue mandi aja dulu."
Tias masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu karena ia akan pergi mandi lebih dulu. Kalau tidak ditutup ia takut ada orang iseng yang masuk ke dalam sebab sekarang Tias tengah sendirian di rumah. Neneknya saat ini tengah melakukan pengajian bersama para lansia lainnya di Masjid dan mungkin saja akan menginap di sana. Tias baru tahu tentang hal ini beberapa hari lalu kalau setiap malam Jumat, para lansia di kampung ini akan menginap dan mengaji bersama sampai pagi di Masjid. Sungguh, mendengarnya saja Tias merasa kagum dengan para lansia itu. Mereka sudah tua tetapi bisa mengaji sampai pagi bersama, sedangkan ia saja yang masih muda belum pernah melakukannya.
TOK ! TOK ! TOK !
Tias menghentikan langkahnya kemudian menoleh menatap pintu. Keningnya berkerut bingung saat ini karena setelah pintu diketuk ia sama sekali tidak mendengar salam yang terucap dari orang yang mengetuk itu. Atau kalau tidak mengeluarkan suara memanggilnya atau memanggil neneknya.
TOK ! TOK ! TOK !
Nah ! Pintunya diketuk lagi dari luar tapi tidak ada suara manusia. Tias perlahan berjalan mendekat dengan tangan yang tergenggam menahan rasa tegang saat ini. Jujur saja, ia sebenarnya bukanlah orang yang pemberani dalam hal mistis terutama yang berhubungan dengan horor. Ditambah lagi sekarang ini dirinya tengah sendirian di rumah dan lebih seramnya lagi nanti malam adalah malam Jumat.
Tias mengintip dari jendela dan melihat seorang gadis yang memakai dress putih tengah berdiri di depan pintu. Kemudian pandangnya beralih pada kaki gadis itu yang masih menapak di lantai. Barulah setelah itu Tias menghela napas lega dengan mata terpejam.
TOK ! TOK !
" Iya sebentar !" Tias beralih membuka pintu. " Cari sia..."
Mata Tias terbelalak melihat siapa gadis gadis yang berdiri di depannya saat ini. " Via ?"
Via tersenyum dan melambaikan tangannya. " Hai."
__ADS_1
Tias tidak menjawab sapaan itu, ia hanya diam memandangi sosok gadis yang merupakan adiknya. Kenapa dia bisa ada di sini ?.
" Gue boleh masuk nggak kak ?" tanya Via.
Masih tidak menjawab, Tias hanya menggeser tubuhnya ke samping untuk memberi jalan Via agar bisa masuk ke dalam rumah.
" Rumahnya nenek masih bagus ya ? Padahal ini rumah zaman dulu." Via memandangi sekitarnya lalu duduk di sofa. Tidak lupa bersama kopernya yang baru saja Tias sadari.
Tias ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Via. Ia memandangi wajah yang mirip seperti wajah mamanya itu. Kenapa dirinya tidak mendapatkan wajah itu dulu, kenapa malah adiknya yang mendapatkannya ? pikirannya yang terus bertanya karena rasa irinya.
" Kabar lo..., gimana ?" karena sejak tadi Tias yang hanya diam saja, Via memutuskan untuk bertanya.
" Ngapain lo ke sini ?" bukannya menjawab Tia salah balik bertanya dengan wajah tidak suka.
Via tersenyum mendengar pertanyaan itu. " Mau ketemu nenek."
" Kalo gitu seharusnya lo nggak usah tanya lagi kedatangan gue ke sini kak." balas Tias.
Tias mengepalkan tangannya menahan geram. " Di sini bukan daerah kekuasaan papa, dan di sini juga nggak ada orang yang bisa membela lo seenak hati. Jadi gue harap lo berpikir ulang kalo cuma mau buat masalah ataupun drama murahan lo itu."
Via terdiam beberapa saat sebelum kemudian tertawa. Tangannya terlipat ke depan dada dan posisi tubuhnya berubah menjadi bersandar. " Persis seperti yang gue duga, lo masih naif kak. Gue kira setelah semua peristiwa ini lo bisa berubah. Ternyata hasilnya masih tetap sama."
" Maksud lo ?!" Tias bertanya tidak senang saat melihat dirinya yang ditertawakan oleh Via. Apanya yang lucu ? Ia bahkan saat ini tengah berbicara serius.
Via melambaikan sebelah tangannya. " Lupain aja, lagian percuma kalo gue jelasin. Kenaifan lo itu pasti yang bakalan jadi dominannya."
__ADS_1
" Gue, bicara, serius, Via." karena sudah terlampau geram, Tias menekan setiap ucapannya. Meskipun begitu ia masih tidak sanggup bila harus membentak gadis itu walau semarah apapun dirinya.
Via menatap Tias dengan pandangan mengejek. " Lemah."
" Jaga ucapan lo !" Tias tanpa sadar berucap dengan nada suara tinggi. Tetapi kemudian ia memejamkan matanya menahan emosi.
" Kenapa ? Takut kelepasan ?" Via mengangkat sebelah alisnya menatap Tias menantang. " Atau lo nggak berani karena wajah gue mirip mama ?"
Tias tidak menjawab dengan pandangannya yang masih menajam menahan geram. Via tersenyum miring melihat itu, sudah diduganya kalau kelemahan Tias adalah wajahnya.
Via berdecak sembari memandang Tias yang sekarang berpenampilan sederhana. " Pengecut."
" Via."
" Bahkan dengan wajah kayak gitu aja lo masih bisa jaga intonasi suara lo. Kenapa nggak bentak gue aja ? Atau kalau nggak teriak marah sama gue." ucap Via yang benar benar menguji kesabaran Tias saat ini.
Tias kembali memejamkan matanya dan mengatur napasnya agar tidak kelepasan. Setelah itu matanya terbuka kembali dengan binar yang sudah cukup tenang. " Kamar di rumah ini cuma ada dua, sebelah kiri dekat dapur itu kamarnya nenek, dan kamar sebelah kanan yang dekat ruang tengah itu kamar gue. Terserah lo mau tidur dimana malam ini karena nenek nginap di Masjid."
Setelah itu Tias beranjak pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Mungkin saat ini ia akan berendam dengan air dingin untuk meredakan emosinya.
" Kenapa ? Takut kelepasan ?"
" Atau lo nggak berani karena wajah gue mirip mama ?"
Tias mengepalkan tangannya mengingat dua pertanyaan itu. Iya, kenapa dirinya ini selalu lemah setiap kali berhadapan dengan Via yang memiliki wajah mirip seperti mamannya ? Kenapa juga Tias masih saja perduli semua tentang mamannya. Padahal wanita itu tidak pernah ada untuknya, selalu mengacuhkannya, dan tidak pernah menganggap keberadaannya. Tidak bisakah ia membuang semua perasaan ini dan merubahnya menjadi rasa benci seperti yang dirasakannya untuk wanita tua itu dan Bram ?.
__ADS_1
" Gue benci perasaan ini." gumamnya.