
Seperti janjinya tadi dengan si Kades muda itu. Tias sudah bersiap siap dengan memakai jeans hitam dan baju rajut bewarna cream tanpa jilbab. Karena ini bukan tentang keagamaan dan hanya kumpulan biasa Tias rasa itu tidaklah masalah. Tias mengambil ponselnya dan keluar dari kamar melihat apakah Kades itu sudah datang atau belum.
" Kayaknya Tias masih siap siap di kamar. Kamu nggak apa apa kan nunggu sebentar ?"
" Nggak apa apa nek."
Tias menghela napas lega karena mendengar percakapan singkat itu. Ternyata si Kades datang lebih cepat dari apa yang ia bayangkan.
" Udah datang pak ?" Tias bertanya untuk basa basi.
Risam tersenyum dan mengangguk sekilas dengan tatapan melihat penampilan Tias yang simpel namun entah kenapa terlihat cantik. " Berangkat sekarang ?"
" Iya biar cepat juga pulangnya." jawab Tias.
Risam masih tersenyum tetapi kini pandangannya menatap nenek Ruwi. " Nek kami berangkat dulu dan saya janji Tias-nya saya pulangkan dengan selamat tanpa kekurangan apapun."
" Iya nenek percaya kalau sama kamu. Hati hati di jalan ya."
" Iya nek, saya izin pergi assalamualaikum." Risam mencium punggung tangan nenek Ruwi diikuti Tias yang sedari tadi hanya diam.
" Jangan nyusahin Risam ya Tias." ucap nenek Ruwi memberi petuah.
Tias mengangguk malas dan langsung pergi mendahului Risam dari pekarangan rumahnya. Kalau tidak begini petuah neneknya tidak akan selesai meski sampai besok pagi.
" Dek tungguin saya kenapa. Kalau kamu salah jalan gimana ? Memangnya kamu tahu jalan ketempat perkumpulan ?" tanya Risam yang mengikuti Tias dari belakang.
Tias menghentikan langkahnya dan berbalik untuk berjalan di sebelah Risam. Meski malu mengakuinya tapi memang Tias tidak berani berlagak sok tahu yang membuatnya salah jalan nantinya. Risam diam diam mengulum bibirnya menahan tawa dan juga gemas melihat Tias. Boleh tidak ya kalau Tias ia bawa pulang saja ke rumahnya.
" Tempatnya jauh ya pak ?" Tias bertanya untuk menghilangkan kecanggungan.
" Nggak, dekat Musholah di ujung jalan ini."
Tias menatap ke depan dan memang dari tempatnya ini ia sudah melihat bangunan Musholah yang dimaksudkan Risam.
" Dek Tias hobinya apa ?" tanya Risam tiba tiba.
Tias berpikir untuk beberapa saat sebelum menjawab. " Olahraga dan menggambar."
__ADS_1
" Menggambar ? Objeknya ?" tanya Risam lagi.
" Apa aja, asal saya suka saya bisa jadikan itu objek gambar saya."
" Berarti kalau dek Tias suka sama saya. Dek Tias bisa gambar saya dong ?" Risam mulai mengeluarkan sedikit sifat tengilnya. Hanya sedikit saja tidak semuanya karena Risam takut Tias akan kaget dan memilih menjauhinya.
" Kalau itu..." Tias tidak bisa menjawab pertanyaan dari si Kades muda itu.
Risam tertawa melihat wajah bingung Tias yang ingin menjawabnya. " Saya hanya bercanda dek. Tapi kalau dek Tias mau beneran suka sama saya ya nggak apa apa. Saya malah seneng banget malahan."
" Pak Kades bercandanya nggak lucu banget sih." wajah Tias merenggut kesal, sebenarnya setengah malu juga sih. Tias menatap Risam dari samping lalu kembali memandang jalan di depannya.
" Nah kita sudah sampai. Ayo dek kayaknya kita telat sedikit." ucap Risam.
Tias melihat bangunan sederhana yang mirip Tribun. Namun ini ada dindingnya dan juga atapnya yang mirip rumah gedung namun hanya satu ruangan saja.
" Wah, pak Kades. Tumben telat datangnya pak ?"
" Iya saya menjemput warga baru dulu. saya masuk ya ? Assalamualaikum !" Risam melepas sandalnya dan masuk ke dalam diikuti Tias di belakangnya.
" Wa'alaikum salam !"
" Oh Tias toh warga barunya. Jadi tinggal di sini ya Yas ?" Dion yang duduk berseberangan dengan Tias menatapnya ramah.
Tias tersenyum hingga menampilkan sepasang lesung pipinya yang manis. " Iya."
" Astaga ! Cantik woi ! Pak Kades warga barunya yang kayak gitu cuma satu pak ?" tanya pria tinggi yang belum Tias kenal tengah memandangnya penuh minat.
Risam mengerutkan sedikit keningnya bingung. " Lah iya cuma satu. Memangnya kamu maunya berapa Zi ?"
" Sepuluh pun jadi kalau bentuknya kayak gitu pak. Biar jangan jadi rebutan dan saingan saya nggak banyak kalau saya seandainya maju." jawab Fauzi.
" Gila kamu." balas Risam.
Fauzi hanya tertawa mendengarnya. Namun tatapannya tidak pernah lepas dari Tias. " Hai namaku Fauzi, kamu siapa namanya ?"
" Tias, salam kenal Fauzi."
__ADS_1
" Ehem ! Cuma Fauzi aja nih yang di kenalin. Sama kamu nggak ?" seorang gadis berambut sebahu bertanya.
Hal itu membuat Tias merasa tidak enak. Ia menatap Risam di sebelahnya untuk meminta pendapat.
" Kenalan dulu dek."
" Adek ?!" tanpa sadar Diki berteriak setelah mendengar pak Kades yang selalu jaga jarak dengan seluruh gadis di Kampung ini malah memanggil Tias dengan sebutan akrab.
Bukan hanya Diki tetapi seluruh orang di ruangan itu juga menatap Risam dengan tatapan tak menyangka. Mereka memandang Tias lalu Risam secara bergantian.
" Aduh ! Sainganku pemimpin Kampungku sendiri." ucap Fauzi.
Orang orang di ruangan itu tertawa mendengarnya. Risam hanya tersenyum karena merasa praduga para pemuda pemudi di Kampungnya ini sedikit menguntungkan untuknya.
Sedangkan Tias menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu. Wajahnya terasa panas ketika ditatap banyak orang yang seperti menggodanya. Walau itu bukanlah hal yang sebenarnya tetapi Tias tetap malu kalau dipandang banyak orang seperti ini.
" Udah udah jangan bercanda lagi. Lagian kasihan warga baru kita yang nutupin mukanya kayak gitu." seorang gadis berhijab tersenyum geli melihat Tias yang menurutnya menggemaskan.
Pemuda pemudi di ruangan itu tertawa bersama dan memilih berpura pura tidak melihat bagaimana tatapan Kades mereka saat melihat Tias.
" Jadi kenalan nggak nih ?" tanya Dion.
Tias mengangguk tanpa mau membuka wajahnya. Pasti sekarang wajahnya memerah dan itu sangat kentara sekali karena kulitnya yang putih.
" Dek kenakan dulu baru nanti malunya dilanjutin lagi." bisik Risam di sebelah Tias.
Tias membuka tutupan wajahnya dan berusaha tetap tersenyum manis meski rasa malunya masih ada. " Hai semuanya, perkenalkan nama saya Tias. Saya cucunya nenek Ruwi dan mulai sekarang sampai seterusnya saya akan tinggal di sini. Jadi mohon bantuan untuk ke depannya ya. Juga jangan ragu untuk menegur saya kalau saya melakukan kesalahan atau melanggar aturan di Kampung ini, terimakasih."
" Salam kenal juga Tias, namaku Mawar." ucap gadis berambut sebahu yang menatapnya ramah.
" Kalau nama saya Intan, kamu bisa manggil kakak atau mbak Intan ya." kali ini gadis berhijab yang memperkenalkan dirinya.
Tias mengangguk sopan menanggapi perkenalan kedua gadis itu. " Salam kenal."
" Udah kenalan dilanjutin nanti aja. Sekarang kita urus dulu rencana kita kemarin sebelum kemalaman." ucap Risam saat melihat masih banyak orang yang ingin berkenalan dengan Tias.
" Yah pak Kades mah gitu !"
__ADS_1