
" Akhirnya sampai juga di pasar malam !" Mawar bersorak senang melihat pemandangan di depannya.
" Norak." cibir Dion.
" Dia nggak norak, tapi kampungan." ujar Rahmat yang membuat Mawar menatap sinis pada mereka.
" Sirik bilang aja ! Ayo Yas, kamu mau kemana dulu ?" Mawar menatap Tias yang masih berada dalam gandengannya.
" Em...," Tias menatap sekelilingnya dan berhenti pada seorang penjual kembang gula yang cukup jauh darinya.
" Kembang Gula." lanjutnya menunjuk pada penjual itu.
Mawar mengikuti arah yang ditunjuk Tias begitupula dengan yang lainnya. " Kamu suka itu ?"
Tias menggeleng namun sesaat kemudian menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat Mawar dan yang lainnya menjadi bingung.
" Kamu suka atau nggak jadinya ?" tanya Mawar sekali lagi.
" Cuma penasaran aja." jawab Tias.
" Memangnya kamu belum pernah makan kembang gula Yas ?" tanya Rendi yang merasa penasaran.
" Belum, mangkanya aku penasaran." Tias menjawab jujur. Ia memang belum pernah pergi ke pasar malam ataupun memakan kembang gula sebelumnya.
" Kalau pasar malam ?" kali ini Diki yang bertanya.
Tias menggelengkan kepalanya. Membuat mereka yang melihat itu tercengang tak menyangka. Masa iya orang kota tidak pernah lihat pasar malam. Padahal mungkin di sana pasar malamnya lebih besar dan lebih bagus dibandingkan di sini.
" Itu juga belum pernah." jawab Tias.
" Di kota nggak ada pasar malam ya Yas ?" Rahmat yang menjadi ikut bertanya karena ia juga merasa penasaran.
__ADS_1
" Ada, malah lebih besar dari ini. Tapi akunya aja yang nggak pernah ke sana. Nggak sempat karena belajar terus." jelas Tias.
Risam mengepalkan tangannya mendengar penjelasan Tias. Namun tetap saja wajahnya masih bisa memasang senyum ramah. " Ayo kalau dek Tias mau kembang gula. Kita ke sana aja dulu, kalian ada yang mau kembang gula ?" tanyanya pada Mawar, Hilman, dan teman temannya yang lain.
Tetapi serentak mereka menggelengkan kepala menolak. Dari pada kembang gula, permainan lebih menarik menurut mereka. Risam tersenyum maklum karena mungkin saja mereka bosan memakan kembang gula itu.
" Jangan kembang gula lah pak Kades. Coba ngasihnya kembang desa, mungkin kami semua bakalan nerima kecuali Mawar." ucap Ilham.
Risam berdecak sebal menatap Ilham. " Dari pada dikasihkan kalian mending untuk saya saja." setelah itu ia berjalan menuju penjual kembang gula diikuti Tias dan Mawar.
Rendi menepuk pundak Ilham sebelum menyusul Risam. " Bener kata pak Kades, kalau aku yang dapat pun nggak akan kubagi kamu Ham."
" Jangan mimpi dapat kembang desa Ham, Wong kembang Bank aja kamu nggak bisa dapat." Diki berjalan mengikuti Rendi.
Reno dan Hilman berjalan mendekati Ilham kemudian menepuk bahunya dengan gerakan serentak. " Semangat Ham, kadang mimpi itu memang harus setinggi mungkin." ucap Reno.
Sedangkan Hilman hanya diam saja dengan tangan tetap menepuk pundak Ilham untuk memberi semangat. Sebelum ia melangkah pergi menyusul yang lainnya kearah penjual kembang gula bersama Reno. Jadinya, tinggallah Ilham di sana sendirian dengan wajah lesu.
Ramainya pasar malam membuat Tias berjalan harus memegang tangan Mawar agar tidak hilang. Mereka berdua terus bergenggaman tangan layaknya sepasang anak kembar.
" Pak kembang gulanya satu." pinta Mawar pada penjual kembang gula yang sudah paruh baya itu.
" Oke neng, ditunggu sebentar ya soalnya banyak yang antri." penjual itu tersenyum ramah untuk meminta Mawar bersabar.
Tias menatap wajah pria paruh baya itu lekat lekat. Terlihat seperti orang yang begitu penyabar dan baik. Dari mata dan wajahnya saja Tias bisa tahu kalau penjual itu adalah pria yang bekerja keras demi anaknya. Tidak seperti papanya yang malah menikmati hasil kerja keras anaknya.
" Iya pak." Mawar tersenyum ramah, lalu berbalik menatap Tias. " Nunggu sebentar nggak apa apa kan Yas ?"
" Nggak." Tias tentu tidak akan masalah menunggu untuk beberapa saat. Lagipula kasihan juga si penjual kembang gula itu kalau Tias memaksa untuk cepat cepat membuatkan pesanannya. Ia tidak mungkin setega itu kepada orang tua.
" Neng ini kembang gulanya."
__ADS_1
Risam langsung maju menerima kembang gula itu kemudian memberikan uang seratus ribu. " Kembaliannya ambil aja pak, dan terima kasih untuk kembang gulanya."
" Alhamdulillah, terima kasih ya nak." kata penjual kembang gula itu dengan wajah bahagia.
" Sama sama pak." Risam tersenyum sopan lalu berbalik menghadap Tias memberikan kembang gula itu. " Awas giginya sakit kalau makan kebanyakan."
Tias tersenyum mengangguk senang, rasanya ia penasaran sekali mencicipi makanan ini. Tapi sebelum makan Tias merasa harus menawari teman temannya dulu. " Kalian mau ?"
" Nggak !" Rendi dan Reno menolak serentak sembari bergidik ngeri. Itu karena mereka termasuk golongan lelaki yang tidak suka makanan manis.
" Makan aja Yas, kami semua udah bosen makan itu dari kecil." ucap Mawar.
Tias menatap Risam di depannya. Hitung hitung sebagai basa basinya karena si Kades itu yang membayar makanannya ini. " Bapak mau ?"
" Kalau kamu suapi saya mau."
Spontan jawaban itu membuat Tias langsung berbalik pergi berjalan ke tempat permainan. Mawar yang melihat kepergian Tias segera berlari mengikutinya.
" Yah ! Pak Kades sih, kelancaran mainnya. Jadi kaburkan orangnya ? Besok besok pakai strategi dulu pak." Dion ikut menyusul bersama Rahmat dan juga Diki.
" Kayaknya kita nggak sendiri di sini." kata Rendi yang mengundang beberapa tatapan dari teman temannya dan juga Risam. Namun di sini sepertinya hanya Hilman yang mengerti maksud dari ucapannya.
" Bersaing secara sehat." setelah mengatakan itu Hilman beranjak pergi menyusul Tias.
Rendi tertawa seraya mengangguk setuju melihat kepergian Hilman. Ia menoleh pada Risam yang ada di sebelahnya. " Bersaing secara sehat pak."
Kemudian Rendi beranjak pergi diiringi dengan siulan menggoda. Sekarang tersisa Reno dan juga Ilham, mereka berdua saling melirik satu sama lain. Posisi mereka saat ini seperti terjepit keadaan. Ingin pergi duluan tetapi segan meninggalkan Kades muda itu sendirian. Tidak ditinggal, mereka malah merasa canggung karena melihat Risam yang masih tetap tersenyum namun dengan pandangan tajam. Pandangannya itu seakan akan dapat melubangi punggung Rendi dan juga Hilman dari jarak jauh.
" Kalian.." Risam menatap wajah Reno dan Ilham. " Mau bersaing sehat juga ?" lanjutnya bertanya.
Reno dan Ilham langsung menggeleng serentak dengan wajah ketakutan. Mereka masih waras untuk bersaing bersama Risam, Rendi, dan juga Hilman. Jika hanya Rendi dan Hilman saja mungkin mereka sanggup. Tapi kalau Risam, lebih baik mereka mundur tanpa berjuang karena mereka tahu siapa Risam sebenarnya. Pria lembut dan juga ramah yang menjadi incaran gadis di kampung mereka.
__ADS_1
" Bagus, lebih baik kalian pikir pikir dulu." ujar Risam sebelum beranjak pergi.