
Tias mencabut kunci motor Rendi dan masuk ke dalam rumah. " Assalamualaikum."
" Wa'alaikum salam, udah pulang ya. Kok cepet banget kamu pulangnya ?" nenek Ruwi datang dari arah belakang rumah.
Tias mengangguk lalu mencium punggung tangan neneknya untuk memberi salam. " Udah selesai jam kuliah Tias nek."
" Pantesan, ya udah. Kamu bersih bersih terus makan."
Tias menggeleng pelan menolak. " Tias udah makan tadi nek. Sekarang Tias mau istirahat aja."
" Iya nanti kalau magrib nenek bangunin."
" Oh iya nek, ini kunci motor Rendi. Nanti kalau orangnya datang mau ngambil motornya kasihkan aja."
Nenek Ruwi menatap heran kunci motor yang Tias berikan. " Motor kamu kemana kok sampai makai motornya Rendi."
" Di bengkel tadi, jadi Tias tinggal dulu."
" Oh, gitu. Ya udah iya nanti nenek kasihkan sama orangnya. Kamu istirahat aja sana dulu." balas nenek Ruwi yang membuat Tias tersenyum dan mengecup pipi neneknya sebelum berjalan ke kamar.
Tias masuk ke dalam kamar dan melemparkan tasnya ke atas ranjang. Ia berjalan kearah meja belajar kemudian duduk di sana tanpa berniat mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Sampai sepuluh menit berlalu tapi hal itu masih belum membuatnya berubah dan melakukan hal lain. Tias masih tetap pada posisinya yang hanya duduk diam dengan pandangan mengarah keluar jendela kamarnya.
Sampai lima menit kemudian ia baru beralih membuka laptopnya. Ia membuka sebuah aplikasi dimana biasanya saham saham terkenal berada disatu tempat untuk bisa berinvestasi. Tias biasa melihat ini dan memperkirakan setiap persenan dari hasil yang akan ia dapatkan. Dari sinilah perusahaan papanya bisa berkembang pesat dalam kurun waktu yang cepat.
Investasi, atau Tias bilang bertaruh dalam bisnis. Ia akan melakukannya seperti biasa, tapi kali ini hanya untuknya sendiri bukan untuk meningkatkan perusahaan papanya. Tias menatap cermat setiap saham saham yang akan ia jadikan tempat berinvestasi. Ia menggunakan instingnya dalam memperhitungkan hasil dari kelipatan uang yang akan diinvestasikan olehnya.
Cukup lama Tias melihat lihat saham saham itu di dalam kamarnya. Sampai akhirnya ketukkan pintu membuatnya tersentak kaget dan berdecak kesal.
TOK ! TOK ! TOK !
__ADS_1
" Tias."
Tias menghela napas sabar mendengar suara neneknya yang memanggilnya dari luar kamar. Ia berjalan malas kearah pintu dan memutar kuncinya untuk dibuka. " Ada apa nek ?"
" Baru bangun ?" bukannya menjawab nenek Ruwi malah bertanya balik yang membuat Tas menahan kesal di dalam hati.
Dengan malas ia menganggukkan kepalanya. Kalau begini kapan ia bisa istirahat ? Katanya tadi neneknya itu mau membangunkannya kalau sudah waktu mendekati magrib. Lah ini, belum juga Ashar neneknya malah sudah mengetuk pintu kamarnya.
" Ada nak Risam di depan nyariin kamu." kata nenek Ruwi.
Tias mengerutkan keningnya dengan hati yang bertambah kesal pula. " Ngapain dia ke sini ? Nenek nggak bilang kalau Tias tadi lagi tidur ? Tias kan baru aja istirahat nek, masih capek."
" Kasihan nenek nggak tega." jawab nenek Ruwi yang berhasil membuat Tias bertambah membenci Kades muda itu.
" Kasihan sama anak orang tapi sama cucunya sendiri nggak." Tias berucap kesal dan segera keluar dari kamar menghampiri Risam. Kenapa dia selalu mengganggunya seakan akan dia itu tidak memiliki pekerjaan lain. Tidak tahukah kalau Tias ini memiliki banyak urusan dan tidak memiliki waktu bersantai sepertinya ?.
" Selamat sore dek Tias." Risam segera berdiri dan tersenyum melihat kedatang Tias. Seperti biasa gadis itu pasti akan selalu memasang raut wajah jutek yang terlihat lucu dipandangannya.
Bukannya tersinggung Risam malah terkekeh mendengar pertanyaan itu. " Langsung banget, nggak ditawarin minum ini tamunya ?"
" Nggak." jawab Tias judes.
" Astaga, dek Tias ini kalau lagi kesal lucu ya dilihat. Ada manis manisnya gimana.. gitu."
" Saya bukan Lemineral pak, juga bukan bua..."
" Tapi buat hidup saya lebih manis." potong Risam yang berhasil membuat mata Tias melotot kesal.
" Apaan sih pak, nggak nyambung banget."
__ADS_1
" Mangkanya dek Tias jangan marah marah terus sama saya. Jadi obrolan kita ini bisa cepat nyambungnya. Lebih bagus kalau nyambungnya itu kejenjang yang lebih serius lagi." ucap Risam.
Tias menggigit bibirnya menahan geram dengan ucapan Risam yang semakin tidak jelas. " Pak, ada baiknya pak Kades ini cepat cepat periksa dulu ke dokter. Mana tahu ada penyakit tersembunyi atau gangguan aneh di kepala."
" Udah kemarin dan hasilnya memang saya punya penyakit di kepala." jawab Risam.
" Beneran ?" Tias bertanya tak menyangka. Niat hanya ingin berkata saja, tidak tahunya malah jadi kenyataan. Ia jadi merasa bersalah kan karena sudah berkata seperti itu.
Risam mengangguk dan menunduk sedih. " Saya punya penyakit yang berbahaya dan susah untuk dihilangkan. Saya susah tidur bahkan saya sampai nggak enak makan gara gara itu."
" Bapak punya tumor ?" tanya Tias.
Risam menggelengkan kepalanya. " Lebih bahaya dari itu."
" Lebih bahaya ? Penyakit apa itu ?" Tias bertanya lagi.
" Penyakit..., terus mikirin kamu sampai saya susah tidur semalam." jawab Risam dengan pandangan yang berubah jahil.
Sontak Tias mendelik mendengar jawaban itu. " Nek ! Nenek ! Pak Kades jadi gila nek ?" teriaknya yang segera berlari mencari nenek Ruwi.
Risam tertawa melihatnya, gadis cantik itu membuatnya merasa gemas sendiri dengan sikapnya yang galak dan juga jutek kepadanya. Ada kalanya ia merasa Tias itu adalah gadis penyendiri yang pemalu. Namun saat ia mendekatinya, Tias malah bersikap galak seperti anak kucing yang tengah melindungi dirinya.
" Nek, lihat pak Kades nek. Dia tadi ngomong nggak jelas sama Tias terus sekarang malah ketawa sendiri." Tias menarik neneknya dan menunjuk Risam yang masih setia duduk di ruang tamu.
" Hus ! Mulut kamu Yas, nggak sopan ngomong gitu sama yang lebih tua." ucap nenek Ruwi sembari menarik Tias untuk duduk kembali.
Risam menghentikan tawanya dan menatap nenek Ruwi. " Dek Tias salah paham nek, kami tadi sedang berdiskusi dan saya sedikit bercanda. Nggak tahunya dek Tias malah menyangka kalau itu betulan."
" Diskusi dari mana ?! Pak Kades aja tad..."
__ADS_1
" Tias diam." nenek Ruwi memanggil Tias dengan tatapan peringatan.
Hal itu membuat Tias terpaksa menutup rapat mulutnya dan tidak berani berbicara lagi. Kades itu berbohong kepada neneknya, apa yang mereka diskusikan tadi. Sedangkan dia saja hanya menggombal dengan jalur yang tidak jelas. Tias menatap Risam memusuhi, ingin sekali ia menarik pria itu keluar dari rumahnya lalu melemparkannya ke dalam sungai yang dalam. Kalau bisa sekalian Tias tenggelamkan dia ke dalam sana agar tidak mengganggunya lagi seperti sekarang.