
Tias berjalan pulang ke rumah neneknya. Namun karena rasa kesalnya tadi ia malah mengambil jalan yang berlawanan dengan si Kades itu hingga membuatnya harus melewati jalan setapak di tengah kebun milik orang. Entah milik siapa, yang pasti untungnya Tias masih tahu jalan pulang ke rumah neneknya.
" Dasar bodoh lo Tias, coba aja lo nggak langsung pergi. Mungkin sekarang lo udah sampai di rumah. Bukannya malah nyasar ke kebun orang kayak gini." gerutunya disela langkah kakinya. Meruntuki dirinya yang sangat bodoh hingga mau melakukan hal yang menyusahkan seperti ini.
" Ini semua gara gara si Kad..."
SREK !
DEG !
Jantung Tias berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia menghentikan langkahnya ketika mendengar suara daun kering yang seperti terinjak kaki. Suara itu tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang dan Tias tahu betul sepanjang jalan tadi, saat memasuki kebun ini ia tidak melihat seorang pun yang bekerja atau sekedar hanya lewat di tempat ini. Hanya dirinya seorang di sini, Tias berbalik ke belakang untuk melihat. Mencari cari dari mana asal sebenarnya dari suara itu.
Tetapi sayangnya Tias tidak menemukan seorang pun di belakangnya saat ini. Terlihat biasa, sunyi, dan tenang seakan akan memang hanya dirinya saja yang sedang berada di kebun ini. Bahkan tidak ada tanda daun bergoyang yang bisa saja menjadi petunjuk untuk menandakan bekas tersenggol orang. Namun anehnya, entah mengapa Tias malah merasa seperti tengah diawasi saat ini. Bukan dari satu arah saja, melainkan dari beberapa arah.
Tias memandang sekitarnya dengan seksama sekali lagi. Tetapi tetap saja ia tidak bisa menemukan apa apa. Perasaan tidak enak dengan insting yang seperti terancam Tias menjadi menatap sekitarnya waspada. Kalau memang benar, ini bukanlah sekedar hewan buas ataupun kerjaan makhluk halus yang tengah usil. Jujur saja Tias takut ini adalah orang suruhan papanya yang telah menemukan keberadaannya saat ini. Jangan sampai mereka menangkapnya dan membawanya kembali kepada nenek tua itu seperti yang Albert katakan tempo hari.
SREK !
Lagi ! Suara itu terdengar lebih dekat dari tempat berdiri saat ini, dan itu membuatnya semakin waspada. Tanpa menunggu lebih lama, Tias langsung berbalik dan berlari secepat mungkin keluar dari kebun ini. " Please.., jangan liat ke belakang." gumamnya ketakutan.
Tak beberapa lama, benar saja Tias mendengar suara langkah kaki yang cukup banyak di belakangnya. Suara itu seperti langkah kaki orang berlari yang malah membuatnya semakin bertambah yakin dengan tembakannya. Tias semakin menambah laju larinya tanpa berniat menoleh ke belakang. Karena sedikit saja kalau ia menoleh ke belakang, kecepatan larinya akan berkurang dan itu membuatnya pasti akan bisa tertangkap.
__ADS_1
Sampai akhirnya Tias melihat ujung dari jalan kebun ini yang ternyata tembusan dari lapangan. Tias terus berlari dengan sisa tenaganya.
BRUK !
" Aduh !"
Suara tabrakan dan juga jeritan dari seorang gadis membuat Tias yang terjatuh langsung berusaha berdiri. Ia menoleh ke belakangnya dan menemukan beberapa bayangan di balik pohon. Sepertinya mereka tidak mau menangkapnya di tempat ramai. Tias menghela napas lega lalu melihat orang yang baru saja ditabrak olehnya.
" Loh, Mawar ?" Tias buru buru membantu Mawar berdiri.
" Kamu ini loh Yas, lari kok nggak ngeliat orang." omel Mawar.
" Ya maaf, tadi aku di kejar kejar babi."
" Babi ?" Mawar bertanta terkejut, ia melihat ke belakang Tias. " Terus sekarang dimana babinya ?"
" Udah nggak ada, tadi aku sampai muter muter di dalam kebun itu biar nggak ketangkep. Untung sekarang bisa bebas dan nggak dikejar lagi."
Mawar merasa lega mendengar itu. " Kamu lain kali jangan ke sana Yas. Itu kebun punya pamanku, di sana memang banyak babinya. Mangkanya cuma ditanami pohon karet aja."
" Oh, pantesan." Tias melirik kebun itu dengan senyum menahan tawa. Babi ya ? Mereka memang cocok seperti babi yang rakus dan juga jorok.
__ADS_1
" Kamu kok bisa dari sana ?" tanya Mawar yang merasa heran dengan Tias yang pagi pagi sudah keluar dari kebun.
Sebelum menjawab Tias membantu Mawar berjalan menuju tribun yang ada di sudut lapangan. " Aku tadi itu lari pagi, nah karena keasikan dengerin musik aku jalannya lurus aja. Eh, nggak tahunya malah masuk ke dalam kebun itu. Untung aku tahu kalau itu tembusannya ke lapangan ini. Kalau nggak mungkin udah kesasar aku sekarang."
" Itulah mangkanya ada gunanya juga kamu sering jalan jalan." ucap Mawar.
" Iya bener." apa yang dikatakan Mawar memang benar. Untung saja ia sering jalan jalan selama berada di sini. Kalau tidak, mungkin sekarang ia akan tertangkap oleh orang orang itu. Membayangkannya saja sudah membuat Tias bergidik ngeri. Apalagi ditambah membayangkan wajah penuh ambisi milik nenek tua itu yang mampu membuat sekujur tubuhnya merinding seketika.
" Udah, jangan melamun. Kamu masih ketakutan ya karena habis dikejar babi ?" tanya Mawar yang melihat Tias terdiam.
Tias mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menggelengkan kepala. " Aku cuma nenangin diri biar nggak deg degan lagi jantungnya. Oh iya, maaf ya War yang tadi. Aku bener bener nggak ngeliat ada kamu di depan aku karena saking takutnya."
" Iya nggak apa apa kok. Aku juga gitu kalau seandainya ada diposisi kamu. Mana yang ngejer babi lagi. Hih, serem banget ! Jangan sampai deh aku kayak kamu." Mawar bergidik ketakutan membayangkan seandainya dirinya sendiri yang ada diposisi Tias.
Tias mengangguk setuju. " Iya jangan sampai."
Apalagi kalau yang menangkap Mawar berupa babi seperti mereka. Tias yakin teman barunya itu pasti akan berteriak ketakutan karena melihat mereka yang memiliki rupa jauh dari kata good looking. Secara kan rata rata dari mereka berkulit hitam legam, badan besar, wajah terkena luka, bahkan diantara mereka ada yang memiliki jahitan di wajah dan leher mereka. Mata melotot yang seperti ingin memakan orang hidup hidup, tangan mereka bahkan sangat kasar seperti jalan bebatuan.
Tias pernah melihat mereka dulu saat umurnya lima belas tahun. Waktu itu ia berusaha kabur dari pelatihan dan si nenek tua itu meminta mereka untuk menangkapnya. Reaksinya saat itu bahkan sampai menangis histeris karena sangking takutnya. Bukan itu saja, semenjak itu juga Tias jadi sering bermimpi buruk beberapa kali karena membayangkan wajah menyeramkan milik mereka.
Nah ! Masalahnya, setelah sekarang ini bagaimana caranya untuk menghindar dari kejaran mereka ?.
__ADS_1