Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Rahmat Bodoh


__ADS_3

Karena kejadian kemarin, Tias dilarang neneknya untuk pergi ke Cafe maupun sekedar lari pagi seperti rutinitasnya setiap hari. Jadi karena itu juga Tias sekarang hanya bisa jalan jalan keliling rumah dan menyiram bunga di halaman. Untung saja ada bunga di rumahnya, kalau tidak mungkin ia akan mati kebosanan untuk hari ini.


" Sut, sut, sut, !"


Suara aneh datang tiba tiba dari arah pagar. Tias segara menoleh dan melihat ada jemari manusia disela besi pagar rumahnya. Ia berjalan mendekat dengan hati hati. " Siapa ?" tanyanya.


" Aku loh Yas."


Mendengar suara yang yang akrab di telinganya. Tias membuka pagar rumahnya dan melihat Mawar yang tersenyum lebar hingga menapakkan giginya yang putih dan rapih.


" Ada apa kok kamu kayak maling gitu manggilnya ?"


Mawar terkekeh menyadari kebodohannya. " Kurang kerjaan, lagi pengen jadi orang nggak jelas aja hari ini."


" Dasar aneh." Tias mencibir kesal. " Ayo masuk, cerita ceritanya di dalam aja."


" Oke, sambil numpang makan boleh ?" tanya Mawar tanpa malu sedikitpun.


Tias menganggukkan kepalanya. " Boleh tapi ambil sendiri ya. Aku males kalo suruh ngambil ngambilkan."


" Iya." Mawar berjalan mengikuti Tias masuk ke dalam rumah. " Nenek pergi ya ?"


" Iya, pengen ngajar di TK katanya."


" Pantesan sepi, oh ya Yas ! Tadi rombongannya Hilman aku liat mau ke sini kayaknya."


Tias yang duduk di kursi meja makan mengerutkan keningnya heran. " Tahu dari mana ?"


" Tadi mereka beli buah banyak banget ditempatnya mang Septo. Aku sapa mereka tadi kan, terus sekalian aku tanya dan katanya mereka mau ke sini jenguk kamu yang lagi sakit. Memangnya kamu sakit Yas ? Kok aku nggak tahu ?" tanya Mawar.


Tias mengangkat bahu acuh dan mengambil buah apel di meja makan. " Kemarin iya aku sakit sampai dokter Silla yang ngurusin. Tapi sekarang udah sembuh, lagian mereka tahu dari mana kalau aku sakit ?"


" Enggak tahu, maaf ya aku nggak tahu kalau kamu sakit kemarin."

__ADS_1


" Santai aja, aku juga nggak parah sakitnya. Cuma sehari aja habis itu sekarang udah sembuh."


Mawar tersenyum dan meletakkan makanannya di atas meja. " Aku ambil segini ya makannya." ia menunjuk makanannya yang hanya terisi setengah piring.


" Terserah, ambil aja lagi kalau kurang."


" Oke." Mawar mengambil air minum dan kembali duduk di tempatnya.


Tias memandang Mawar yang sedang makan di depannya. Rasa heran muncul begitu saja dipikirannya, merasa tidak menyangka kalau sekarang ia bisa memiliki seorang teman perempuan. Lebih herannya lagi kenapa dirinya ini bisa mendapatkan teman yang bar bar seperti Mawar. Padahal kalau dilihat lihat lagi kepribadian mereka ini sangat berbanding terbalik. Tapi anehnya ia malah merasa nyaman berteman dengan Mawar.


TOK ! TOK ! TOK !


" Assalamualaikum !"


" Wa'ala... uhuk ! Uhuk !" Mawar tersedak sebelum sempat menyelesaikan salamnya. Tias yang melihat itu langsung panik dan memberikan air minum.


" Assalamualaikum !"


" Permisi ! Kami masuk ya Yas ?!"


" Iya !" jawab Tias yang masih berteriak dan terus mengusap punggung Mawar.


" Uhuk ! Uhuk !" Mawar membungkukkan tubuhnya dan berusaha mengatur napas agar batuknya itu bisa mereda.


" Masih mau minum ?" tanya Tia stang khawatir melihat wajah Mawar yang memerah.


" Enggak usah, udah mendingan juga." jawab Mawar.


" Wah.., ada apa ini ? Kok kayaknya pada terharu gitu pas tahu kedatangan kami." ucap Rahmat yang tersenyum memandang Tias dan juga Mawar.


Mendengar itu, mata Mawar langsung mendelik kesal. Ia menatap Rahmat dengan tangan yang mengepal kesal. " Terharu matamu ! Kamu liat yang bener ! Dari ujung mananya kami terharu ngeliat kedatangan kalian yang nggak diundang itu ?!"


Dion, Diki, Ilham, dan Reno yang datang bersama Rahmat menjadi tertawa kencang. Sedangkan Rendi tersenyum melihat saja, berbeda dengan Hilman yang sudah memalingkan wajahnya menahan malu.

__ADS_1


" Woi, denger tuh ! Enggak diundang kita kata Mawar." ucap Dion.


" Memang bener kan ? Udah gitu datengnya merusuh lagi." balas Mawar yang masih menahan rasa kesalnya.


" Udah Mawar nggak baik kita ribut kayak gini." Tias menatap Mawar dengan pandangan isyarat yang memintanya untuk diam. Sungguh, ia sangat tidak menyukai keributan seperti ini.


Mawar yang mengetahui isyarat itu memalingkan wajahnya dan memilih kembali melanjutkan makannya. Rendi yang mengerti situasi langsung berjalan mendekati Tias.


" Tias ini aku bawain buah anggur. Maaf ya kalau kamu nggak suka, aku nggak tahu soalnya kamu sukanya buah apa." Rendi tersenyum memberikan parsel buah yang berisi tiga macam buah anggur. Dari anggur merah, anggur hitam, dan anggur hijau.


Tias melihat buah anggur itu sekilas lalu tersenyum sambil menerimanya. Mau bagaimana lagi, ia tidak suka pun namanya dikasih ya akan diterimanya saja. Kalau kata orang, rezeki itu tidak boleh ditolak apalagi rezeki uang dan makanan. " Seneng kok, kata siapa nggak seneng ? Aku suka buah anggur apalagi yang warna hitam."


" Hah ! Syukurlah, dimakan ya." ucap Rendi yang terlihat kesenangan karena buah pemberiannya ternyata disukai Tias.


" Oke, terima kasih ya buahnya."


" Sama sama Tias."


Tidak mau kalau seperti Rendi, Hilman melangkah maju sembari mengulurkan parsel buah Apel. " Kata nenek Ruwi kamu suka sama buah apel. Jadi aku bawain ini buat kamu."


Tias melihat parsel yang berisi apel merah, apel hijau, dan buah pir. Persis seperti pelangi, merah, kuning, hijau, namun sayangnya isi parsel buah apel ini tidak ada yang warnanya biru. Tetapi meskipun begitu Tias tetap mengambilnya dengan rasa terima kasih. " Terima kasih ya Hil."


" Sama sama." Hilman terlihat tidak perduli dan memilih duduk di dekat Mawar.


Namun Tias yang memperhatikan sejak tadi melihat telinga Hilman yang memerah. Dalam hati ia bertanya, apakah pemuda itu tengah malu sekarang ?.


" Yas aku bawa sirsak, rekomendasi dari mang Septo. Enak loh rasanya tapi jangan banyak banyak juga makannya. Soalnya nanti takutnya sakit lambung." ucap Rahmat yang membuat teman temannya menepuk kening tidak habis pikir.


Tias mengangguk sambil menahan tawa. Sepertinya hanya Rahmat saja yang memberi buah tangan tapi tidak boleh memakan banyak dari hasil pemberiannya. Kebanyakan orang pasti akan lebih senang jika buah tangan mereka dimakan lahap dan habis. Tapi Rahmat malah melarangnya dan setelah berhasil mempromosikan rasanya.


Mawar yang susah selesai makan melempar Rahmat dengan tissu bekas membersihkan mulutnya. " Dasar bodoh ! Udah ngasih tapi malah ngelarang jangan dimakan banyak banyak. Kalau udah tahu itu bikin sakit ya jangan dikasih. Kamu itu sekolah dimana sih dulu ?!"


Rahmat hanya tersenyum malu karena juga menyadari kesalahannya. Benar juga yang dikatakan Mawar, kenapa pula ia tadi berkata jangan kalau niatnya ingin diberikan ?.

__ADS_1


__ADS_2