Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Gagal Lagi


__ADS_3

" Udahan yuk, aku udah kenyang nih." Kata Mawar sembari menunjuk mangkuknya dan gelasnya yang sudah kosong.


" Ya udah ayo." Tias beranjak berdiri diikuti Mawar. Namun saat berjalan Tias memilih mengikuti Mawar dari belakang.


Karena tidak terlalu memperhatikan, Tias tidak perduli kemana arah jalan Mawar. Ia hanya tahu mengikutinya saja dan setelah itu membayar makanannya.


" Selamat pagi pak Kades." sapa Mawar yang membuat Tias tersentak kaget dan mendongakkan kepalanya. Dapat Tias lihat Kades muda itu juga terlihat terkejut terlebih lagi saat melihatnya.


" Pagi Mawar." Risam membalas ramah meski sedikit terlihat ketegangan di raut wajahnya.


Mawar tersenyum puas melihatnya. Setelah ini, ia berjanji akan menjodohkan Tias dengan abangnya saja. Ada rasa tidak suka saat ia melihat Kades itu yang malah berjalan dengan dokter Silla. Padahal tadi malam jelas jelas Mawar lihat sendiri kalau tatapan Kades itu menyukai Tias.


" Kami duluan ya pak, permisi." Mawar menarik tangan Tias yang sedari tadi hanya diam saja.


Tias tengah berpikir tentang tujuan awal Risam mendekatinya. Kalau dia menyukai dokter Silla, lalu mengapa dia mendekatinya ?.


Apa jangan jangan selama ini memang seperti itu lagi tingkahnya Risam kepada warga di Kampungnya. Ramah dan sok dekat seperti kenalan lama. Tias menoleh memandang Mawar yang baru selsai membayar makanan mereka.


" War."


" Apa ?" tanya Mawar sambil menyimpan uang kembalian di saku celananya.


" Pak Kades itu..., memang ramah ya orangnya ?"


" Iya."


Nah, kan. Berarti benar tebakannya barusan. Risam memang memilki sikap yang seperti itu kepada warganya.


" Tapi kalau care yang aku lihat ke kamu itu nggak ada. Aku baru lihat pak Kades kayak gitu sama kamu aja." lanjut Mawar menjawab.


" Maksudnya ?" Tias bertanya tidak mengerti.


Mawar berjalan ke samping agar lebih dekat dengan Tias lalu berbisik di telinganya. " Pak Kades itu asli orang kaku dan sopan. Dia nggak pernah mau beli kembang gula buat cewek. Apalagi ngajak pergi ke pasar malam dan yang lebih parahnya lagi. Dia nggak pernah ngegombal di depan banyak orang."

__ADS_1


Mawar menjauhi Tuas sedikit setelah selesai berbisik. Tias menoleh dengan tatapan yang masih kurang percaya.


" Bener deh, bahkan aku belum pernah lihat tuh pak Kades gandengan tangan sama dokter Silla. Apalagi digombalin kayak kamu tadi malam." ucap Mawar menyakinkan.


" Biarin aja deh, bukan urusan kita itu. Biar Tuhan aja yang ngasih waktu buat jawabannya." balas Tias karena sudah merasa malas dengan pembahasan mereka kali ini.


Mawar tersenyum sembari mengangguk patuh. Ia menepuk pundak Tias untuk memberi semangat. " Nanti aku kenalin sama abangku. Dia pelatih bela diri di Kampung ini."


Tias langsung menatap Mawar horor, kemudian bergidik ngeri. " Iih ! Ngga mau ! Bisa habis aku kalau ketahuan selingkuh."


" Kamu tukang selingkuh ?!" tanya Mawar terkejut.


" Ya nggak sih, kan mana tahu. Cowok kan banyak War, sayang kalau disia siain." jawab Tias tanpa beban.


Mawar menepuk kening Tias hingga membuat gadis itu meringis kesakitan. " Sadar, jodoh itu cuma satu. Jangan maruk pengen ngambil semuanya."


" Kan hiburan War, lumayan." kukuh Tias yang membuat Mawar gemas sendiri ingin memukul kencang kepalanya.


Tiba tiba mobil hitam mewah berhenti di pinggir jalan tepat di samping Tias yang tengah jalan bersisian dengan Mawar. Tias menoleh dan terkejut melihat mobil yang sangat dikenalinya itu ada di Kampung ini. Bagaimana mereka bisa menemukannya secepat ini ?.


" Wah, mobil siapa itu ?" tanya Mawar dengan pandangan menatap kagum pada mobil hitam mewah itu.


Pandangan Tias beralih menatap Mawar. " War kayaknya aku ada urusan sebentar deh. Kamu nggak apa apa ya aku tinggal. Maaf ini mendesak banget sampai aku bingung sendiri."


Mawar memandang mobil mewah itu dan Tias bergantian sebelum mengangguk mengerti. Ini bukan urusannya karena Tias mungkin memang memiliki privasinya sendiri. " Iya nggak apa apa."


" Maaf sekali lagi." ucap Tia sayang di balas senyuman pengertian dari Mawar.


Tias menepuk pundak Mawar dua kali lalu berjalan masuk ke dalam mobil hitam mewah itu. Tanpa membuang waktu mobil itu berjalan begitu saja meninggalkan Mawar yang tengah menatap penasaran tanpa berani bertanya lebih.


" Di suruh papa ?" Tias bertanya dingin pada seorang pria yang tengah menyetir mobil.


" Tidak, ini kemauan saya sendiri nona." jawab pria itu.

__ADS_1


" Untuk ?"


Pria itu memberhentikan mobilnya di tempat sepi namun tidak jauh dari rumah nenek Ruwi. " Saya akan selalu menjaga anda sesuai dengan pesan tuan muda."


" Dengan cara diam diam tanpa sepengetahuan papa ? Ck, paman Albert harusnya paman tahu kalau ini termasuk ke dalam penghianatan." ucap Tias dengan nada penuh peringatan.


Namun pria bernama Albert itu malah tersenyum teduh menatap Tias. " Saya bekerja di sana demi menjaga amanah dari tuan muda saya nona. Karena tuan muda say..."


" Stop !" Tias mengepalkan tangannya di atas pengakuannya dengan pandangan menatap ke depan. " Dia udah mati, dan nggak nepatin janjinya. Jadi aku rasa paman bisa pergi dan abaikan amanah itu."


" Nona, tuan muda waktu itu..."


Tias langsung mengangkat sebelah tangannya memberitahu Albert untuk berhenti berbicara. " Ini terakhir kalinya aku mau ngeliat paman di sini. Lain kali aku akan mengabaikan kalau kita pernah kenal sebelumnya."


" Nona.."


" Terima kasih atas kebaikan dan kesabaran paman yang selalu melindungi aku selama ini." Tias meletakkan tangan kanannya di dada kiri kemudian menundukkan kepalanya sopan. " Senang bisa mengenal paman selama ini."


Setelah itu Tias keluar dari dalam mobil hitam begitu saja. Ia tidak mau berlama lama berada di dalam mobil itu dan membahas masa lalu yang hampir saja ia lupakan.


" Lo.., pembohong." Tias bergumam marah dengan pandangan menahan tangis. Tangannya terkepal erat saat lintasan bayangan demi bayangan yang datang ke dalam ingatannya secara bergantian.


Tias menambah laju jalannya tanpa mengetahui kalau di depannya ada orang yang sedang menghampirinya.


BRUK !


Tias oleng ke belakang dan hampir jatuh andai saja sepasang tangan tidak menahannya. Tias melihat pemilik tangan itu dan sedikit terkejut. Kenapa orang ini malah ada di sini, disaat ia tengah dalam keadaan kacau seperti ini.


" Dek Tias nangis ?" Risam mengangkat sebelah tangannya dan mengusap lembut air mata yang jatuh dari manik cokelat Tias. Apa gadis ini menangis karena melihatnya tadi bersama dokter Silla di warungnya Juminten ?.


Tias menepis pelan tangan Risam darinya. Rasa tidak nyaman menghampirinya begitu saja. Ditambah lagi pikirannya yang tertarik pada suatu hal. Tanpa berkata apapun Tias berlari meninggalkan Risam.


" Loh, dek Tias..." belum sempat Risam berbicara lagi Tias sudah berlari menjauh darinya. " Hah, gagal lagi."

__ADS_1


__ADS_2