
Tias hanya bisa bersabar menghadapi neneknya yang kadang seperti anak remaja. Seperti saat ini, Tias mengajak neneknya minum cendol dan putu bersama untuk di rumah. Nah ini neneknya malah mau makan di gubuk yang berada di kebunnya. Mana di sana masih banyak pekerjanya lagi.
Dan yang paling Tias tidak sukai adalah ternyata kebunnya bersebelahan dengan kebun milik pak Kades. Bahkan gubuk mereka berhadap hadapan meski berjarak cukup jauh.
" Nah kalau yang di sebelah kiri kita itu. Itu kebunnya punya pak Haji Sayir." ucap neneknya yang membuat pikiran Tias terpecahkan begitu saja.
" Pak Haji Sayir ?" Tias memandang neneknya bingung.
" Itu loh abinya Hilman yang ngantar kamu malam malam ke rumah." jawab Ruwi.
Tias mengangguk paham, jadi begitu urutannya. Syukurlah setidaknya di sini ia masih memiliki teman. Lumayan bisa untuk teman mengobrol kalau sedang di kebun.
Tias memandang sekelilingnya dan melihat banyak buah yang sudah matang dan siap dipanen. Tapi bagaimana cara mengurusnya ?.
" Nek ini kalau sawitnya matang gimana cara jualnya ?" Tias bertanya bingung. Ini pertama kalinya ia akan mengurus kebun. Mending kalau itu kebun buah yang bisa dipasarkan. Lah ini kebun sawit yang entah bagaimana cara menjual buahnya dan bagaimana dipasarkannya. Mana ia tidak punya mobil untuk mengangkut buah sawitnya lagi.
" Ya kita jual ke Toke sawit. Nanti kita sewa mobil yang buat ngangkut sawitnya." jawab Ruwi.
Tapi sayangnya Tias masih belum mengerti juga. " Toke sawit dimana ?"
" Hm.., kalau nenek biasanya jual sama pak Kades. Dia kan agen sawit karena punya pabrik minyak goreng."
" Pabrik minyak goreng ?" Tias bertanya dengan rasa tak menyangka kalau Kades yang baru saja bertemu dengannya di pasar tadi juga seorang pemilik usaha. Padahal kelihatannya dia itu orangnya lembut dan juga kalem. Bukan berarti lemas seperti perempuan ya. Tetapi Kades itu bukan tipe pria yang cocok menjadi pemimpin menurut pandangan Tias.
Dari matanya saja Tias bisa melihat kalau Kades itu orang yang penyayang dan tidak tegaan. Dimana menurutnya dia lebih cocok menjadi dokter atau ustad saja. Apa Kades itu bisa tegas kalau ada orang orang di bawah kepemimpinannya yang menyalah ?.
__ADS_1
" Lah kamu ! Nenek jawab malah melamun, kamu kenapa ?" tanya Ruwi yang melihat cucunya terdiam dengan pandangan kosong.
Tias tersentak kaget. Ia tersenyum lalu menggeleng singkat. " Kita pulang yuk nek, Tias capek pingin pulang. Makannya kita lanjutin di rumah aja ya nek ?"
" Ya udah." Ruwi merasa tidak tega melihat wajah cucunya terpaksa memberesi bekas makan dan membungkus kembali sisa putu mereka untuk dibawa pulang.
Tias menunggu neneknya di atas sepeda sambil memikirkan rencana untuk kelanjutan dari setiap langkahnya. Jujur saja ini pertama kalinya Tias harus mengerjakan semuanya sendiri. Dulu saat bersama orang tuanya Tias terbiasa menerima hasil berkat papanya yang selalu membersihkan setiap jalan sulit yang dilaluinya demi menjadi penerus perusahaan.
Sedikit merasa sulit sih, tapi Tias tidak ingin menyerah. Karena seperti yang diucapkannya sebelum keluar dari rumah orang tuanya. Bahwa ia bisa berhasil tanpa uang papanya.
" Tias ayo jalan, kok malah melamun. Kamu nggak kesambet hantu di kebun ini kan ?" tanya Ruwi yang sudah menunggu di kursi belakang tetapi cucunya itu hanya diam entah karena apa.
Tias tertawa dan mulai mengayuh sepedanya sembari menyanyikan lagu Justin Bieber yang berjudul Off My Face.
Ruwi yang duduk di belakang hanya tersenyum mendengarkan cucunya itu bernyanyi. Ia jadi mengingat anaknya yang sekarang menjadi mamanya Tias. Anaknya itu sangat suka bernyanyi dan suaranya bagus. Ruwi bahkan pernah menduga anaknya akan menjadi penyanyi suatu saat nanti. Tapi sekarang jangankan suaranya, wajahnya pun Ruwi sudah tidak pernah melihatnya lagi.
" Adek yang bonceng nenek Ruwi mampir dulu sini !"
Nah kan, apa yang baru saja Tias pikirkan terjadi. Tias menoleh memandang orang yang memanggilnya dan menghentikan sepedanya.
" Buk Pur ada apa ya ?" tanya Ruwi.
Buk Pur tersenyum berjalan mendekati Tias dan neneknya dengan membawa sebuah semangka besar di tangannya.
" Ini loh nek tadi suamiku baru panen semangka. Tadi maunya diantar ke rumah tapi aku buru buru banget mau jemput anak di bandara sekarang. Maaf ya nek kalau kurang sopan karena ngasih tapi di jalan kayak gini." ucap buk Pur yang membuat Tias memandang ngeri semangka di tangannya.
__ADS_1
Ruwi tersenyum maklum. " Ya nggak apa apa loh buk. Justru saya yang terima kasih dan meminta maaf karena ngerepotin."
" Ah nggak ngerepotin ini nek. Ini dek taruh di keranjang depan aja. Takutnya kalau nenek yang pegang nanti jatuh ke belakang." buk Pur memberikan semangka besar itu kepada Tias.
" Terima kasih buk." Tias tersenyum sopan menatap buk Pur.
Buk Pur tersenyum senang melihat Tias yang tersenyum kepadanya. Benar kata putranya kalau nenek Ruwi punya cucu yang cantik dan senyumnya sangat manis. " Sama sama dek, dimakan ya semangkanya. Itu manisnya alami tanpa buatan obat kayak senyum manisnya adek."
Tias tertawa mendengar gurauan buk Pur. Masa iya senyumannya yang manis ini disamakan sama manisnya buah semangka yang kadang manis kadang juga anyep nggak ada rasa. Padahal ada buah anggur yang lebih manis atau kalau tidak madu yang manis dan sering dijadikan gambaran dari bentuk pujian biasa. Tapi tidak masalah, karena yang memujinya kali ini ibu ibu jadi Tias terima saja.
" Terima kasih buk."
" Sama sama dek, nanti kalau ibu ada waktu kita kenalan yang bener bener ya. Sekalian buat rujak kita." ucap buk Pur.
" Oke buk."
Ruwi tersenyum melihat cucunya yang bisa berbaur dengan mudah. Syukurlah setidaknya cucunya itu tidak kesulitan menyesuaikan diri di kampung ini. " Ya udah kalau gitu kami mau pulang dulu ya buk Pur. Udah siang kasian cucuku mengayuh sepeda dari tadi."
" Oalah kasiannya, ya udah nek. Hati hati di jalan ya." buk Pur menatap Tias khawatir padahal mereka baru saja bertemu.
" Iya, ayo Yas." ajak Ruwi.
Tias mengangguk sekilas dan tersenyum sopan menatap buk Pur. " Mari buk."
" Iya silahkan, hati hati di jalan ya dek."
__ADS_1
" Iya buk." Tias mulai mengayuh kembali sepedanya untuk pulang ke rumah. Kali ini bebannya lebih berat karena ada semangka jumbo di keranjang depan sepedanya. Bahkan keringatnya sudah semakin bercucuran. Semoga saja Tias tahan mengayuh sampai rumah.