
" Tuan mereka sudah menemukannya." kata seorang pria bertubuh tinggi besar dan juga berkulit hitam.
Gunawan tersenyum bahagia mendengar kabar itu. Inilah yang memang ia tunggu tunggu sejak kemarin. Ternyata tidak sia sia Gunawan memerintahkan orang suruhannya untuk mencarinya ke sana. " Dimana ?"
" Tempat nyonya Ruwi berada tuan."
Senyum bahagia milik Gunawan perlahan berubah menjadi kerutan kesal. Matanya menatap nyalang pada pria bertubuh tinggi besar dan juga hitam itu. " Kalian menangkapnya ?"
" Tidak tu.."
BRAK !
" Dasar bodoh !" Gunawan melempar buku tebal kearah pria itu.
" Ta..tapi saya sudah memberi perintah kepada mereka untuk mengawasi nona dan menangkapnya tanpa diketahui siapapun tuan."
Gunawan memejamkan matanya sejenak untuk meredakan emosinya yang akan meluap. Dirasanya sudah cukup, Gunawan kembali membuka matanya. " Jangan pernah kembali sebelum kalian berhasil menangkapnya. Jangan lupa dia harus hidup sampai sini dan.., ingat ! Jangan sekali kali kalian melukai kepalanya."
" Baik tuan."
" Pergilah." pinta Gunawan seraya melambaikan tangannya mengusir pria itu.
Sekarang hanya ada keheningan di ruangannya. Gunawan melirik ke belakang dimana Albert yang sejak tadi setia berdiri di sana menunggu perintahnya. " Kau dengar itu Albert ? Dia berada ditempat orang kampung itu berada. Padahal dibandingkan dengan kehidupannya selama ini. Bersamaku akan jauh lebih baik dibandingkan dia harus hidup kesusahan di sana."
Albert hanya diam tidak berniat menjawab. Tidak ada yang perlu ia jawab dari ucapan Gunawan karena ia tahu itu hanyalah sekedar memberitahunya saja. Namun yang membuat Albert marah kali ini adalah kenapa orang orang sialan itu cepat sekali menemukan nona mudanya. Bahkan sebelumnya Albert sudah meminta anak buahnya untuk mengecoh mereka. Namun tetap saja mereka masih bisa berhasil. Kalau tahu begini kenapa tidak Albert bunuh saja mereka sekalian agar tidak dapat memberikan berita apapun pada Gunawan.
" Papa !" pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan Via yang masih memakai pakaian seragam.
__ADS_1
Gunawan tersenyum menyambut kedatangan anaknya. " Ada apa sayang ?"
Via menggelengkan kepalanya dan berjalan menghampiri Gunawan. Ia mengambil tempat duduk di depan meja kerja papanya. " Pah tahu nggak ? Aku sekarang itu kesepian banget di rumah. Nggak ada yang bisa aku ajak main sekarang."
" Loh para pelayan kamu kemana ?" tanya Gunawan yang sudah mulai bersiap siap memberi hukuman pada para pekerjanya yang berani mengacuhkan anaknya ini.
" Mereka itu pekerja pah, pada takut semua sama aku. Kalau biasanya aku kan mainnya sama kakak. Yah.., walaupun kami sering tengkar juga sih. Tapi masih mending dibandingkan main sama pelayan yang cuma bisa diem sama nurut aja kayak boneka. Nggak ada serunya sama sekali, aku bukannya ngerasa seneng malah jadi kesel." ucap Via menjelaskan dengan wajah yang cemberut kesal.
Gunawan tertawa melihat wajah kesal anaknya yang terlihat imut dipandangannya. " Nantikan kamu bisa main lagi sama kakak kamu. Jadinya kami bisa punya teman main lagi."
Teman main untuk dijadikan kambing hitam, itulah yang batin Albert ucapkan. Tangannya mengepal erat menahan geram mendengar ucapan yang Via tuturkan. Gadis itu tidak jauh beda dengan orang tuanya, licik dan manipulatif. Seharusnya nenek tua itu menjadikan Via bonekanya karena sifat liciknya itu. Bukan nona mudanya yang memiliki sifat polos dan penurut. Albert yakin kalau bukan hati lembut nona mudanya mungkin mereka sudah hancur sejak dulu.
" Terus sekarang kakak dimana ?" tanya Via.
" Ada di Riau tempat nenek kamu yang kampungan itu." jawab Gunawan yang terang terangan menghina mertuanya.
" Kok ke sana sih ? Kenapa nggak ke Bali atau Raja Ampat aja yang bagus pemandangannya ?" Gunawan mengerutkan keningnya merasa setengah tidak setuju dengan permintaan itu.
" Udah bosen ke sana, kami mau cari suasana baru. Lagian teman aku punya Villa di sana jadi kami nggak perlu nginep di hotel. Boleh ya pah ?" Via berusaha membujuk papanya agar mau menuruti permintaannya kali ini.
" Janji deh aku bawa pengawalku ke sana. Lagian kalau ada apa apa aku pasti hubungin papa nanti. Kalau nggak aku telepon papa ngasih kabar setiap hari di sana. Ya pah ? Mama aja bolehin aku ke sana kok." lanjutnya tanpa menyerah.
" Tapi kamu janji rutin kasih kabar sama papa ya ?"
Via tersenyum karena akhirnya Gunawan memberinya izin untuk pergi berlibur. " Oke !"
Ia beranjak berdiri dan berjalan memutari meja kerja di depannya, kemudian memeluk Gunawan dari arah belakang. " Terima kasih papa !"
__ADS_1
" Sama sama sayangnya papa." balas Gunawan yang ikut tersenyum melihat raut bahagia dari anaknya.
Tanpa disadari Gunawan maupun Albert, Via tersenyum miring karena rencananya kali ini berjalan lebih lancar. Terima kasih saja pada kasih sayang yang Gunawan berikan kepadanya tidak terbatas sehingga membuat segalanya lebih mudah.
Via melepaskan pelukannya. " Oh iya, aku hampir lupa kalau ada tugas sekolah yang harus cepat cepat dikumpulin. Aku pulang dulu ya pah, mau ngerjain tugas soalnya."
" Ya udah sana, mau diantar ?"
" Enggak usah, Via sendiri aja. Lagian supir Via masih nunggu di depan Kantor ini. Dadah papa, Via pulang dulu dan jangan lembur nanti bisa sakit." Via mengecup pipi Gunawan sebelum berlari keluar dengan tawa riangnya.
Setelah ia menutup pintu ruang kerja papanya. Senyum riang Via menghilang begitu saja dan berganti dengan raut wajah datar. Ia mengusap bibirnya menggunakan punggung tangannya. " Menjijikkan." gumamnya.
Tidak ada yang tahu apa yang gadis itu pikirkan saat ini. Dari matanya tersirat kelicikan yang membuat siapapun tahu jika pemikiran buruk terus menyelubunginya. Sepanjang jalan menuju keluar kantor aura tidak mengenakkan terus terpancar dari gadis itu. Ia bukan makhluk halus namun hawa negatifnya begitu terasa. Andai saja ada orang yang lewat di jalan itu, mereka pasti bisa merasakan sisi negatif itu juga.
Tetapi tiba tiba Via kembali menormalkan wajahnya setelah tiba di lantai satu. Wajah riang yang alami terpasang kembali diwajahnya yang cantik dan juga imut. Banyak para karyawan yang tersenyum menyapanya diiringi dengan pujian untuknya.
" Selamat sore nona muda."
" Nona muda selalu kelihatan cantik dan imut."
" Aku nggak nyangka kalau seragam nona muda malah semakin membuatnya kelihatan imut."
Via tersenyum sopan menatap para karyawan itu. " Selamat sore juga, semangat kerjanya kakak kakak. Saya duluan ya soalnya udah sore."
" Iya nona muda."
" Silahkan nona muda."
__ADS_1
Itulah yang mereka ucapkan setiap kali ia datang kemari, dan akan berakhir Via yang hanya bisa tersenyum ramah menanggapinya. Namun siapa yang tahu kalau isi hatinya sekarang malah berbanding terbalik dengan senyuman miliknya.