Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Sepeda Motor


__ADS_3

TIN ! TIN !


" Permisi !"


Tias yang sedang duduk di ruang tamu tersentak kaget dan langsung berlari keluar. Ia melihat pria berpakaian seragam biru berdiri di depan pintu gerbang rumah neneknya.


" Permisi kak, apa benar ini rumahnya kak...," pria berseragam biru menatap buku di tangannya. " Oh maaf, maksud saya Ruwiatun ?"


" Iya benar, mas-nya ini pasti mau ngantar pesanan honda kan ?" tanya Tias.


pria berseragam itu tersenyum ramah. " Iya kak, pembeliannya atas nama Sritias Nita Anggraini."


" Itu saya mah, ayo masuk dulu saya mau ngambil uangnya di dalam." Tias berbalik pergi ingin mengambil uang setengah dari kekurangan membeli sepeda motor kemarin. Tapi ucapan pria berseragam biru itu berhasil membuatnya merasa malu.


" Kak bisa tolong bukain pagarnya dulu ? Saya nggak mungkin masuk lewat atas kan ?" ucap pria berseragam biru itu.


Tias berbalik lagi dan tertawa canggung. " Eh maaf mas, saya kelupaan."


" Iya nggak apa apa kak. Udah biasa saya diginiin." balas pria berseragam itu.


Tias sedikit mengerutkan kening bingung. " Diginiin apa maksudnya ?"


" Biasa dilupain kak karena atensi saya kalah cepat sama barang yang saya antar." gurau pria berseragam itu yang membuat Tias tertawa.


" Habisnya barang yang diantar lebih keren dari mas sih."


" Astaga kak jangan jujur jujur kali kenapa." ucap pria berseragam itu.


" Saya bercanda mas, ya udah saya ambil uangnya dulu."


" Iya kak silahkan."


Tias berjalan cepat masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Mengambil amplop cokelat yang aja di meja nakas lalu berlari keluar rumah.


" Nah ini sisa dan juga bonusnya." Tias memberikan amplop cokelat miliknya pada pria berseragam itu.

__ADS_1


" Saya izin hitung dulu ya kak. Takutnya nanti ada yang kekurangan."


" Iya." bakas Tias tanpa beban. Biarkan saja mas itu menghitung uang dulu sedangkan ia akan melihat sepeda motor yang baru dibelinya.


Untung saja pria berseragam itu sudah menurunkan sepeda motor pesanannya dari mobil.


" Kak ini uang kekurangannya pas ya. Terus bonusnya..."


" Ambil aja dan terimakasih karena udah ngantar pesanan saya tanpa lecet sedikitpun." Tias berucap cepat memotong ucapan pria berseragam itu. Pasti dia mau beralasan kalau uang bonusnya dari Tias kebanyakan padahal dianya sendiri kesenangan karena mau dapat rezeki banyak.


" Terimakasih kak." pria berseragam itu tersenyum kesenangan.


Bener kan ? Siapa yang tidak suka mendapatkan rezeki halal tapi secara cuma cuma. Tias sudah bertemu banyak orang yang modelan pria berseragam ini.


" Sama sama." balas Tias.


" Kalau begitu ini surat suratnya dan tanda bukti pembayaran." pria berseragam itu memberikan Tias satu map dan selembar kertas bewarna biru.


Tias membuka map itu lalu mengangguk singkat. Matanya masih setia membaca cepat isi dari surat surat di dalam map itu.


" Kalau begitu saya permisi pergi mengantar barang lagi kak." ucap pria berseragam itu.


" Loh, Tias ini motor siapa ?" nenek Ruwi datang dari luar pagar dan terkejut melihat motor Beat putih yang terparkir di depan rumahnya.


Tias menoleh menatap neneknya. " Motor Tias baru diantar barusan. Nenek udah pulang ? Kok cepat ?"


" Pak Kades lagi ada urusan jadi rumahnya kosong. Kamu beli motor kok nggak ngomong dulu sama nenek."


" Tias kan niatnya mau buat kejutan untuk nenek. Eh, tahunya nenek pulang cepat. Ya udahlah kejutannya nggak jadi." Tias memasukkan kertas biru yang sebagai bukti pembayaran ke dalam map untuk di satukan dengan surat surat lainnya.


" Tapi kita bisa jalan jalan naik motor nek. Nggak perlu lagi naik sepeda kalau mau pergi jauh." sambungnya berbicara.


Nenek Ruwi mengusap kepala motor. " Ya udah, nanti kalau nenek ada pengajian kamu yang nganterin nenek ya."


" Oke siap itu." balas Tias.

__ADS_1


" Oh iya tadi nenek ketemu sama Mawar katanya dia mau main ke rumah. Kalian udah kenalan kan ?"


Tias diam untuk mengingat siapa gadis yang bernama Mawar itu. " Mawar yang rambutnya sebahu itu kan nek ?"


" Iya." nenek Ruwi duduk di depan Tias dan menatapnya. " Nenek ke tempat pak Kades ingin buat KTP baru buat kamu. Sekalian nenek ingin masukkan nama kamu di daftar KK nenek." lanjutnya.


Tias terlihat heran mendengar KTP nya akan dibuat lagi. " Nek bukannya Tias udah punya KTP ya ?"


" Iya tapi itu kan dari Jakarta sedangkan kamu mau tinggal di sini. Nanti kalau ada hal penting kamu susah ngurusnya karena KTP kamu dari Provinsi lain. Jadi sekalian ngurus KK, nenek juga ingin ngomong tentang KTP kamu sama pak Kades." jelas nenek Ruwi.


" Ya udah kalau bisa nggak apa apa. Asal ngurusnya jangan ke Jakarta lagi. Tias malas kalau harus ketemu sama orang orang papa di sana."


" Nggak, nenek juga tahu kalau itu. Mangkanya nenek mau minta tolong sama pak Kades. Dia itu walau masih muda tapi bis diandalkan."


Tias merengut kesal mendengar neneknya yang mulai memuji Kades muda itu. Andai saja ia tidak melihat langsung bagaimana cara Kades itu memimpin perkumpulan tadi malam. Mungkin sampai sekarang ia masih meragukan cara dia memimpin warganya.


" Oh iya, lusa kayaknya sawit kita udah bisa panen. Jangan lupa minta bantuan sama pak Kades ya." ucap nenek Ruwi.


Tias mengangguk malas. " Nenek udah bilang itu kemarin."


Nenek Ruwi terkekeh mendengarnya. Mau bagaimana lagi, Sinta sudah memberinya kode untuk memaksanya melakukan sesuatu. Sinta bahkan sudah mengambil foto Tias diam diam untuk diperlihatkan kepada suaminya. Nenek Ruwi tahu Tias memiliki wajah yang sangat cantik seperti anaknya dulu. Tapi jujur saja nenek Ruwi tidak mau cucunya yang sangat ia sayangi mendapatkan jodoh orang kota seperti anaknya.


Nenek Ruwi tidak mau kesalahannya dulu terulang kembali. Karena itu nenek Ruwi menyetujui permintaan Sinta meski ia sudah memberi syarat untuk jangan memaksa apabila Tias tidak menyukainya.


" Tias kalau nenek minta jangan dapat orang kota kamu mau nggak ?" nenek Ruwi bertanya tiba tiba.


Tias mengerutkan keningnya lalu mengangguk. " Cukup papa aja, Tias nggak mau dapat yang kayak papa."


" Hm..., kalau kayak pak Kades ?"


" Kok dia sih nek ? Yang lain kan banyak !" Tias berucap kesal.


Nenek Ruwi mengangkat bahu acuh. " Mana tahu kan ? Lagipula Jodoh siapa yang tahu ?"


" Apa jodoh jodohan, nggak ada yang kayak gitu nek masih lama Tias mikir ke sana."

__ADS_1


" Kan siapa yang tahu Tias."


Tias berdecak kesal lalu beranjak berdiri sambil membawa mapnya. " Tias mau cari yang lebih dari papa."


__ADS_2