Jodohku Kades Muda

Jodohku Kades Muda
Warung Juminten


__ADS_3

Setelah menempuh perjalan selama dua puluh menit dengan berjalan kaki. Akhirnya Tias bisa sampai di warung Juminten yang kata Mawar masakannya enak itu. Ia menjadi penasaran sekali sejak tadi, ditambah lagi setelah sampai banyak orang yang makan di warung Juminten ini.


" Mbak Jumi." Mawar menarik Tias menghampiri seorang wanita yang tengah membawa penampan.


Tias yang sedang melihat lihat keramaian langsung beralih ikut melihat orang yang Mawar panggil. Tetapi seketika Tias langsung menahan napas saat melihat wanita yang Mawar panggil sebagai Juminten itu ada di hadapan mereka. Dipandanginya diam diam wanita itu dari atas ke bawah lalu kembali lagi ke atas.


Juminten menoleh lalu tersenyum manis menyapa Mawar. " Oalah War, mau makan ?"


" Iya, lontong sayur pakai bumbu pecel dua ya mbak. Minumnya teh manis anget aja." pinta Mawar.


Juminten menunjukkan satu jempol. " Oke."


" Siip ! Kami tunggu ya mbak." Mawar kembali menarik Tias mencari tempat duduk.


" War itu tadi yang namanya Juminten ?" tanya Tias setelah mereka mendapatkan tempat duduk di pojok dekat jendela.


Mawar menganggukkan kepalanya. " Tadi kan kamu udah dengar sendiri aku manggil namanya."


" Tapi katanya kamu orangnya kayak gitu. Kayak gitu gimana maksud kamu ? Aku lihat tadi orangnya nggak galak kok." ucap Tias yang masih belum mengerti dengan kata Mawar sebelumnya.


" Kamu lihat deh ke sana." Mawar menunjuk arah belakang Tias dengan dagunya.


Tias mengerutkan keningnya lalu menoleh ke belakang untuk melihat. Di sana ia melihat Juminten tengah menggoda para pemuda dengan gaya centil dan jalannya yang berlenggak lenggok seperti hewan Entok berjalan.


" Itu yang kumaksud." lanjut Mawar berucap.


Tias menatap Mawar di depannya. " Dia memang kayak gitu ya ?"


" Hm, iya. Tapi kamu harus tahu kalau dia itu cuma centil sama pemuda dan duda aja." jawab Mawar.


" Masa iya ?"


" Iya, bener deh. Aku lihat sendiri gimana mbak Jumi marah marah sambil bawa centong nasi gara gara digoda sama Agus yang masih ada istrinya."


Tias tertawa mendengar itu. " Takut diamuk dia."


Mawar mengangguk setuju. " Bener, yang lebih parahnya lagi nanti dia punya title Pelakor."

__ADS_1


" Tap..."


" Nah, adek adek cantik ini pesenannya." tiba tiba Juminten datang membawa pesanan mereka. Tentu saja Tias langsung terdiam tidak melanjutkan lagi ucapannya.


" Terima kasih ya mbak Jumi." ucap Mawar.


" Sama sama." Juminten tersenyum ramah sampai ia beralih memandang Tias di depan Mawar.


" Astaga ! Mbak baru sadar kamu ini cucunya nenek Ruwi yang dari kota itu kan ?" lanjutnya berbicara kesenangan.


Tias tersenyum walau merasa aneh dengan wajah kesenangan yang Juminten perlihatkan. " Iya mbak, sama kenal nama saya Tias."


Juminten mengambil tempat duduk di sebelah Tias. " Kamu cantik banget sih, putih lagi. Apa rahasianya ?"


" Ya umum perempuan lainnya mbak. Nggak ada rahasia rahasiaan kok." jawab Tias.


" Ih masa sih ? Kok bisa cantik ?" tanya Juminten yang terlihat tidak percaya.


Mawar yang memakan lontong sayurnya pun memutar mata malas. " Keturunan itu mbak."


" Iya yah, keturunan. Hidungnya bisa mancung gitu. Mana matanya cokelat banget kayak rambutnya, persis madu. Kamu setengah keturunan orang luar ?" Juminten masih terus bertanya karena penasaran.


" Sambil makan aja Yas, soalnya mbak Jumi pasti nanyanya lama." ucap Mawar yang sudah sangat hapal dengan tingkah Juminten.


" Eh iya ya, sambil makan aja dek. Nanti nggak enak lagi. Maaf ya, mbak ganggu. Nanti kalau kamu selesai makan kita cerita cerita lagi." ucap Juminten.


" Iya mbak." Tias hanya bisa tersenyum diakhir ucapnya.


Juminten beranjak pergi sembari memegang bahu Tias beberapa saat. " Mbak mau ngeliat pembeli dulu."


Tias mengangguk ramah berbeda dengan Mawar yang malah menghela napas lega. " Nggak siap siap nanti dia ngomongnya." ucap Mawar.


" Jadi itu yang kamu maksud ?" tanya Tias.


" Iya, risih nggak sih kalau mau makan ditanya tanya gitu ? Aku aja ngerasa nggak nyaman tahu."


Tias tersenyum tanpa mengiyakan ucapan pendapat Mawar. Ia mulai memakan makanannya, rasanya memang enak sama seperti yang Mawar bilang tadi.

__ADS_1


" Eh, pak Kades. Mau sarapan ya ?"


Mendengar itu tanpa sadar Tias menoleh kearah suara itu. Di sana ia melihat Risam tersenyum sopan tengah memesan makanan pada Juminten. Tapi yang membuat Tias penasaran adalah seorang wanita cantik berhijab di sebelah Kades muda itu.


" Yas itu pak Kades kan ya ?" tanya Mawar yang ternyata ikut melihat juga.


Tias mengalihkan perhatiannya. " Iya." jawabnya acuh.


Mawar memandang Tias dan pak Kades bergantian lalu beralih pada si wanita cantik berhijab itu. Ia tahu siapa wanita itu, bahkan seluruh warga di Kampung ini mengenalnya.


" Kenapa sih kok ngeliatnya sampai begitu ?" Tias bertanya saat melihat Mawar yang masih terus melihat si Kades itu.


" Yas kamu ngerasa nggak sih ?" ucap Mawar yang malah bertanya balik kepada Tias.


Alis Tias terangkat sebelah, memandang Mawar penuh tanya. " Ngerasa apa ?"


" Tadi malam kan pak Kades ngerayu kamu. Nah, sekarang kok malah jalan sama dokter Silla." kata Mawar seraya memasang wajah tak sukanya.


" Mungkin saudaranya." balas Tias asal.


" Bukan ya, dokter Silla itu masih single dan dia kerjanya di Puskesmas Kampung ini. Kata orang orang, dulu pak Kades sama dokter Silla itu pernah pacaran. Nah karena pendidikan jadi mereka putus. Sekarang setelah pendidikan mereka selesai dan sudah punya karir masing masing. Banyak tuh orang yang jodoh jodohkan mereka buat balikan lagi." jelas Mawar yang membuat Tias malah mengangguk mengerti tanpa merasa kesal seperti yang Mawar bayangkan.


" Jadi cinta lama nih ceritanya. Pantes, cocok kok mereka." Tias kembali melanjutkan makannya.


" Memang sih tapi aku entah kenapa ngerasa nggak suka."


" Kamu cemburu ?"


" Sembarangan." Mawar melempar selembar tissu yang ada di meja ke arah Tias.


Tias tertawa lalu mengambil tissu itu untuk mengusap meja di bawah mangkuknya. Kemudian mengambilnya lagi untuk mengelap mulutnya. " Ya udah sih biarin aja. Mereka kan memang cocok, sama sama dewasa dan orang berkarir."


Mawar berdecak dan malas berbicara lagi. Berbeda dengan Tias yang diam diam mengepalkan tangannya menahan kesal. Entah apa yang dipikirkan Kades muda itu setiap kali merayunya.


Dia pikir Tias ini apa ?.


Untung saja Tias tidak meresponnya, kalau tidak yang rugi pasti dirinya sendiri di sini. Sudah memiliki wanita saja masih berani merayunya. Andai Tias bisa tahu dari kemarin kemarin itu, ia pasti tidak akan mau berkenalan dengan si Kades.

__ADS_1


__ADS_2