
Tias memandang ragu pagar rumah bewarna hitam di depannya saat ini. Sebelumnya ia begitu yakin untuk datang kemari, tetapi setelah sampai entah mengapa keyakinannya itu pergi begitu saja. Andai posisinya saat ini Tias tidak terlalu membutuhkan uangnya mungkin ia pun tidak akan mau melangkah kemari. Tanpa sadar bukannya masuk kakinya malah melangkah mundur ke belakang.
" Loh Tias ? Udah datang ternyata, ayo masuk sini." Sinta yang memang sengaja menunggu kedatangan Tias sejak tadi sengaja keluar dari dalam rumah. Ia tidak akan membiarkan gadis cantik itu lolos begitu saja dari rumahnya. Apalagi Sinta melihat Tias yang berniat ingin pergi setelah sampai di pintu gerbang rumahnya.
Tias tersenyum canggung sambil mengusap lengannya. Entah kenapa ia terlihat seperti orang yang baru saja ketahuan maling oleh pemilik rumah.
" Sini, jalan ke sini. Kok malah bengong di situ aja." Sinta melambaikan tangannya meminta Tias cepat berjalan ke arahnya.
Tias berjalan mendekat dan menyalami Sinta dengan sopan. " Assalamualaikum bunda."
" Wa'alaikum salam, ayo masuk dulu. Anak bunda yang jelek itu lagi ada urusan sama beberapa orang. Kamu tunggu sebentar nggak apa apa kan ? Sekalian cicipi makanan buatan bunda." ucap Sinta yang menurut Tias kelewat ramahnya.
Gini nih yang kadang membuatnya bukannya merasa nyaman, malah ingin cepat cepat pulang. Terlalu ramah dan Tias tidak terbiasa diperlakukan seperti itu. " Enggak usah repot repot bunda. Tias sebentar aja kok di sini."
" Loh kenapa ? Kalau urusan anak jeleknya bunda itu lama gimana ?" tanya Sinta.
Tias menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Hal itu membuat Sinta tersenyum penuh rencana. Melihat gadis pendiam dan tidak banyak tingkah seperti Tias membuat Sinta gemas sendiri. Ia jadi ingin terus mendekatinya dan membuatnya banyak berbicara. Lagipula Tias ini kalau dilihat lihat lagi berbeda jauh dengan gadis gadis kota pada umumnya. Sinta malah merasa Tias selama ini tidak tinggal di kota melainkan di dalam desa.
" Kamu tunggu di sini, bunda mau ngambil kue buatan bunda dulu. Enak enak loh Yas, kamu pasti suka karena ada roti sumbunya juga. Kamu pasti di kota belum pernah makan kan ?"
" Roti sumbu ?" tanya Tias yang menjadi penasaran. Dalam pikirannya ia bertanya tanya seperti apa bentuk dari roti sumbu itu.
" Iya, tunggu ya bunda ambilkan dulu." ucap Sinta.
Tias tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Iya bunda."
__ADS_1
Sinta tersenyum sembari mengusap kepala Tias sebelum berjalan ke dapur. Tias yang diperlakukan seperti itu menjadi terdiam kaku. Ia perlahan menyentuh kepalanya dan menatap kepergian Sinta. Rasanya tidak asing dan sepertinya Tias pernah merasakannya juga.
" Dek Tias."
Tias tersentak dan menoleh melihat Risam yang tersenyum di depannya. Sejak kapan Kades muda itu berada di depannya. Kenapa ia tidak mendengar langkahnya tadi.
" Ehem, saya mau ngambil uangnya pak Kades."
Mendengar itu alis Risam terangkat sebelah. Namun tak lama ia tersenyum lembut seperti biasa. " Nanti dulu, saya masih ngingat dimana saya nyimpan buku totalannya kemarin."
Tias mengerutkan keningnya curiga. " Kenapa bisa gitu ? Memangnya pak Kades nggak ingat berapa uang saya ? Saya nggak perlu lihat bukunya karena saya percaya sama pak Kades."
" Ya nggak bisa gitu toh dek Tias. Walaupun dek Tias ini percaya sama saya tapi sayanya nggak mungkin seenaknya ngasih tanpa ada bukti gitu aja. Itu kan sebagai bentuk tanggung jawab saya." Risam berusaha menjelaskan.
" Nah ini Tias kue buatan bunda." disaat yang seperti ini Sinta datang membawa dia penampan di tangannya. Tias sontak saja membantu Sinta membawa salah satu penampan itu.
Risam yang melihatnya diam diam menahan kedutan di bibirnya agar tidak tersenyum. Pandangannya bertemu dengan bundanya untuk beberapa saat sebelum Sinta beralih menatap Tias dengan senyuman ramah.
" Tias ini loh yang namanya roti sumbu." Sinta menunjuk makanan yang ada di salah satu penampan.
Tias melihatnya dan terbengong setelah mengetahui kalau yang ditunjuk Sinta itu adalah ternyata ubi kayu. Ia menatap Sinta untuk memastikan. " Ini namanya roti sumbu ?"
" Iya, kamu belum pernah makan di kota kan ?" tanya Sinta dengan wajah bangga selama akan telah mengenalkan barang antik yang jarang dimiliki orang.
Tias mengangguk kaku dengan pandangan menatap nanar pada makanan ubi kayu di depannya saat ini. Memang di kota ia tidak pernah memakannya, tetapi masalahnya adalah Tias sangat tidak menyukai makanan yang dibuat dari akar ketela itu. Warnanya terlalu putih dan yang pasti lembut dan tidak ada rasa. Menurutnya ubi rambat lebih baik dari pada ubi kayu itu.
__ADS_1
" Ya udah ayo dicobain, bunda bakarnya tadi pakai madu. Kamu tenang aja tentang rasanya."
Tias mengambil ubi kayu itu dan memakannya dengan perlahan. Lalu menelannya dengan susah payah. Menurutnya itu sama sekali tidak enak dan tetap saja rasanya seperti ubi kayu biasanya. Tidak ada yang berubah, tetapi melihat wajah penuh harap dari Sinta membuat Tias memutuskan untuk memakannya selahap mungkin.
" Gimana ? Enak kan ?" tanya Sinta.
Tias tersenyum menatap Sinta. " Enak banget bunda."
Enak banget sampai rasanya Tias ingin mengeluarkan semua isi perutnya. Ia benar benar tertekan memakan ubi kayu ini. Tapi senyuman di wajah Sinta membuatnya terus melahap ubi kayu itu sampai habis setengah. Cepat cepat Tias meminum jus jeruk yang di sampingnya hingga habis segelas. Untung saja rasa jus itu ada sedikit asamnya yang berguna mengurangi bau ubi di dalam mulutnya.
" Wah ! Kamu kayaknya seneng ya sama roti sumbunya. Nanti bunda bawain kamu pulang biar puas makanya." ucapan Sinta.
Tias tertawa mendengar itu dengan hati yang menangis. Ini saja ia begitu kesulitan mengatasi rasa di dalam perutnya yang tengah bergejolak. Sekarang Sinta malah memberinya ubi kayu lagi. Bisa bisa Tias demam besok pagi karena merasakan perut yang mulai tidak enak ini.
" Terima kasih banyak bunda, maaf ngerepotin."
" Ah, nggak kok. Malah bunda seneng kamu main ke sini." balas Sinta yang tentu saja itu tulus dari dalam hati.
Tias tersenyum lalu menatap Risam yang sejak tadi hanya diam dan meminum jusnya dengan santai. " Pak kades bisa kasih uangnya sekarang ? Soalnya saya masih harus ngumpulkan tugas kuliah sebentar lagi."
" Tapi bukunya..."
" Saya percaya kok sama pak Kades." Tias tersenyum namun matanya menatap tajam pada Risam.
Risam menghela napas. " Ya udah, tunggu sebentar di sini."
__ADS_1