
" Tuan ada nyonya Clara menunggu anda di dalam." Albert memberitahu Gunawan yang baru saja selesai melakukan meeting di luar Kantor.
" Hn." Gunawan membuka pintu ruang kerjanya. Di sana ia melihat ibunya yang duduk dengan dua pengawal yang tengah menemaninya. " Ibu ?"
Nyonya Clara menoleh kemudian beranjak berdiri dan menghampiri Gunawan. Tatapannya tajam terlihat jelas diwajahnya yang lembut, sangat tidak cocok jika dilihat oleh orang lain.
PLAK !
Suara tamparan kencang terdengar memenuhi ruang kerja itu. Gunawan mengusap pipinya yang terasa sangat panas dan juga kebas. Ia menatap ibunya meminta penjelasan tentang tamparan itu.
" Kamu bodoh !" nyonya Clara menekan setiap katanya.
" Maksud ibu ?" Gunawan bertanya tak mengerti.
" Kenapa kamu usir Tias dari rumah kamu ?!"
Sekarang Gunawan baru mengerti dibalik kemarahan ibunya itu. " Dia yang mau sendiri, lagian dia bisa apa di luar sana tanpa uangku ibu."
PLAK !
" Bodoh !" nyonya Clara berteriak marah, tangannya menunjuk wajah Gunawan dengan geram. " Isi kepalamu seharusnya ingat kalau Tias bukan anak biasa. Dia sangat cerdas dibandingkan anak anak seusianya. Perusahaanmu bisa sebesar ini karena hasil pemikirannya dan sekarang kamu malah mengusirnya ?! Kamu lupa kalau dia itu mudah nekad ? Belum lagi kalau seandainya dia pergi menemui Ruwi yang ada di Kampung itu. Sudah susah payah kita memboyongnya dulu kemari dan sekarang karena ulah bodohmu sendiri dia malah kembali ke sana !"
" Tapi Riadi sudah nggak ada ibu." ucap Gunawan.
__ADS_1
" Nggak ada bukan berarti pria Kampung itu nggak meninggalkan hamanya di sana." balas nyonya Clara.
Gunawan terdiam karena baru menyadari kesalahannya. Benar juga kata ibunya, Tias termasuk anak yang mudah nekad, kalau dia sudah terdesak apapun akan dia lakukan. Bodoh sekali dirinya waktu itu yang melepaskan Tias begitu saja tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Hanya karena saat itu ia sedang merasa kesal, dan tanpa berpikir panjang langsung melampiaskannya pada Tias. Gunawan awalnya berpikir bahwa karena sifat penakut Tias di depan umum, anak sulungnya itu pasti akan kembali pulang ke rumahnya. Tetapi siapa sangka kalau akhirnya akan menjadi seperti ini. Bahkan orang suruhannya pun tidak bisa menemukan keberadaan Tias diseluruh pelosok Jakarta.
Sekarang Gunawan menyesali keputusannya waktu itu. Ia terlalu berpikir pendek hingga melupakan fakta ringan yang membawanya pada mala petaka. Ketidak adaan Tias di sini membuatnya sulit untuk mendapatkan warisan yang selama ini ia kejar.
" Kamu tahu ? Sia sia kita membuatnya nggak percaya diri di depan umum agar dia nggak akan berani kabur dari kita. Kamu dengan gampangnya malah mengusirnya begitu aja. Memangnya kamu punya calon pewaris kayak dia ?!" tanya nyonya Clara dengan wajah yang sangat marah. Tangannya terkepal erat untuk menahan diri agar tidak memukul anak bodohnya itu lagi.
Bertahun tahun lamanya nyonya Clara berusaha menekan sifat asli Tias sampai membuatnya menjadi penakut dan pemalu. Itu semua ia lakukan agar Tias tidak berani memberontak kepadanya suatu hari nanti. Tetapi anaknya yang bodoh itu malah menggagalkan segalanya.
Gunawan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia menyadari kalau di sini dirinyalah yang salah. Hanya karena kekesalannya, Gunawan menghancurkan rencana yang sudah mereka susun sejak lama.
Setelah mengatakan itu nyonya Clara beranjak pergi keluar dari ruang kerja Gunawan diikuti kedua pengawalnya. Gunawan menghela napas lalu duduk bersandar di sofa dengan tangan mengurut keningnya. Sekarang bukan hanya pipinya saja yang berdenyut sakit tapi kepalanya juga ikutan sakit.
" Kemana anak itu ?" gumamnya kesal.
Tias seperti pergi ditelan bumi, padahal seingatnya anak itu tidak membawa uang saat pergi dari rumahnya. Apa mungkin dia pergi ketempat mertuanya itu ?.
Tapi bukankah tempat itu sangat jauh dari sini. Untuk ukuran orang yang tidak memiliki uang, bagaimana caranya dia untuk bisa sampai ke sana. Namun tidak ada salahnya juga kalau Gunawan meminta anak buahnya untuk mencarinya di kota itu. Mana tahu anak sulungnya itu berada di sana, dan kenapa pula ia baru kepikiran tentang hal itu sekarang.
Gunawan mengeluarkan ponsel dan menghubungi orang suruhannya. " Cari anak itu di Provinsi Riau, Kota Pekanbaru. Telusuri kota itu bahkan disetiap sudut kabupaten, desa, atau kampung yang ada di sana."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Gunawan memutuskan panggilannya sepihak. Kemudian ia mengusap pipinya yang terasa semakin sakit.
" Albert !" teriaknya.
Di luar ruang kerja Gunawan, Albert yang masih mengerjakan tugasnya segera beranjak mendengar teriakkan itu. Ia bergegas pergi ke ruangan Gunawan dan membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
" Ya tuan ?"
" Ambilkan aku kompres." perintah Gunawan tanpa mau menoleh melihat Albert di belakanganya.
" Baik tuan."
Gunawan meringis kesakitan ketika tanpa sengaja pipinya tersentuh oleh tangannya sendiri. Ini semua gara gara Tias, anak itu dari dulu memang selalu saja membuatnya dalam masalah. Setiap hal yang berhubungan dengannya pasti akan berdampak buruk untuk Gunawan. Padahal di dalam darah anak itu mengalir darahnya juga. Tetapi entah mengapa Tias terasa berbeda dan seperti orang lain baginya. Andai saja Gunawan tidak membutuhkan kepintarannya. Sudah sejak dulu ia akan memusnahkannya.
" Tuan ini kompresnya." Albert memberikan apa yang Gunawan minta. Matanya melirik ke dua pipi Gunawan yang terlihat jelas bekas tapak tangan orang di sana.
Albert menduga bahwa itu pasti dia dapatkan dari nyonya Clara. Tanpa sadar tangannya berkeringat dan sedikit gemetar. Albert membayangkan kalau seandainya Tias berhasil ditemukan. Maka gadis yang dijaganya itu pasti akan dihajar habi habisan oleh nyonya Clara.
Atau bisa jadi mereka akan mengurung bahkan lebih parahnya lagi memasungnya di dalam kamar. Albert tidak mau hal mengerikan itu terjadi kepada Tias, ia cukup tahu bagaimana kejamnya nyonya Clara dalam mengejar ambisinya. Bagi dia, tidak ada yang lebih berarti dibandingkan otak Tias. Bukan hal yang mustahil kalau seandainya nyonya Clara menghancurkan seluruh tubuh Tias dan hanya menyisakan kepalanya saja.
Ingin rasanya Albert pergi dari lingkaran keluarga ini. Tetapi demi tugasnya ia terpaksa menahan diri. Keluarga ini adalah keluarga paling menyeramkan yang pernah Albert lihat sepanjang hidupnya. Rela mengorbankan apapun demi harta dan keturunannya. Bahkan Albert tidak yakin kalau dikeluarga itu masing masing masih memiliki hati nurani.
Sepertinya Albert perlu kembali lagi menemui Tias secepat mungkin dan memberitahukan hal ini kepadanya. Sekaligus ia akan memasang penjaga bayangan untuk melindungi Tias dari orang suruhan keluarga Gunawan.
__ADS_1
" Tuan muda doakan saya, semoga semua ini bisa berhasil." gumamnya.