
Membina rumah tangga tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ada banyak tanggung jawab besar yang harus dipikul. Bagi suami dan istri punya kewajiban dan haknya masing-masing. Jika salah satu saja dilanggar, hal itu dapat menggoyang biduk rumah tangga. Ada kalanya berbagai ujian dan cobaan datang menghadang. Seperti rasa lelah, bosan, perbedaan prinsip, dan masih banyak lagi lainnya.
Saat menjalin hubungan, tentunya diperlukan saling memberi dukungan, menguatkan, dan saling menghibur. Untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, ada yang bisa dilakukan oleh pasangan suami isteri.
Salah satu yang bisa digunakan untuk menambah keharmonisan dalam rumah tangga yaitu dengan melakukan kegiatan bersama-sama dan menghadapi segala ujian keluarga dengan cinta. Rasa kasih sayang yang besar akan mampu membuat semuanya tetap indah. Tapi bagaimana jika sikap atau perilaku dari salah satu pasangan itu berubah dan membuat kecewa?
Pagi ini Aku bangun kesiangan. Setelah mandi dan berpakaian rapih, Aku turun ke bawah untuk menemui mas Gibran di ruang makan. Tumben, mas Gibran sudah duduk tenang di kursi sambil memainkan ponselnya. Entah apa yang dia lakukan dengan ponselnya. Tapi ada satu hal yang membuatku janggal, seperti ada sesuatu yang kurang, yaitu sarapan belum terhidang di atas meja makan pagi itu. Kopi pun juga tidak nampak di hadapan suamiku.
Aku bingung, lalu Aku berjalan ke dapur mencari pelayan yang biasa membuat sarapan. Aneh, padahal setiap hari para pelayan tidak pernah telat menghidangkan sarapan. Dan sekarang sudah pukul 7 pun masih saja belum ada sarapan di meja.
"Bibi, kenapa sarapan di meja belum ada? Bibi ... Bibi...!" Aku masuk ke dapur, namun di sana tidak ada orang.
Lalu Aku putuskan mencari pelayan di kamar pribadinya. Mungkin saja pelayan masih tidur.
Tok tok tokkk
"Bibi ada di dalam?" tidak ada suara dari kamar itu.
Aku pun segera membuka pintu kamar yang nyatanya tidak terkunci, namun tidak ada orang di sana. Lalu kemana bibi pelayan?
Lalu aku putuskan untuk mencari pelayan satunya yang bertugas membersihkan rumah, namun pelayan itu juga tidak ada. Di kamarnya pun juga tidak ada. Namun yang buat Aku heran, mengapa seluruh kamar pelayan yang Aku datangi begitu rapih, seperti tidak ada tanda kehidupan di kamar mereka.
"Apa para pelayan sedang ke pasar? Padahal stok bahan makanan masih banyak di kulkas," gumamku mulai kebingungan.
Lantas Aku berjalan menghampiri mas Gibran. Di sana suamiku masih saja memainkan ponselnya. Niat hati ingin membuatkan sarapan dengan roti, tapi Aku takut jika mas Gibran menolaknya seperti hari yang sudah-sudah. Maka Aku putuskan untuk bertanya padanya soal bibi pelayan di rumah.
__ADS_1
"Pelayan di rumah ini sedang ke pasar, ya Mas?" tanyaku pada mas Gibran.
"Tidak ada lagi pelayan di rumah ini," sahut mas Gibran dengan sekilas melirikku.
"Hah, maksudnya?" tanyaku masih bingung.
"MULAI HARI INI, TIDAK ADA LAGI PELAYAN YANG BEKERJA DI SINI, DI RUMAH INI," tekan mas Gibran sembari menatapku.
"Hah, semua pelayan? Kenapa? Apa pelayan kita pulang kampung karena orang tuanya sakit? Atau pelayan kita sedang mengambil cuti untuk liburan bersama keluarganya?" tanyaku antusias. Aneh, karena semua pelayan tidak ada yang memberitahu Aku apapun.
"Semua pelayan sudah aku istirahatkan di rumah, alias AKU PECAT. Jadi jangan bertanya apapun lagi tentang pelayan di rumah ini," jelas mas Gibran yang kali ini menatapku dengan dingin.
Sontak Aku kaget, kenapa secepat itu. Apakah ada kesalahan dari para pelayan sehingga mas Gibran memecat mereka? Padahal pelayan di rumah tidak banyak ulah, malah mereka sering menghiburku dikala Aku sedang sedih dan gundah.
"Kenapa begitu, Mas? Apa kesalahan pelayan kita sehingga kamu memecat mereka?" tanyaku tidak terima.
"Kalau nggak ada pelayan di rumah ini, siapa yang akan...," tanyaku yang langsung dipotong oleh mas Gibran.
"Ya kamu lah! Kamu yang mengurus semuanya di rumah ini. Bukannya kamu sendiri yang ingin kerja, jadi ini tugas kamu sebagai istri," tegas mas Gibran, ketus sekali padaku.
Aku terdiam sejenak, Aku merasa lemas seketika. Memang benar sih apa yang dikatakan oleh suamiku. Sebagai seorang istri setidaknya bisa mengurus rumah. Tapi bagaimana bila Aku sendirian yang mengurus rumah seluas dan semegah ini. Aku rasa Aku tidak kuat.
"Ru-rumah ini luas, Mas. Bagaimana aku membersihkannya?" Aku menjadi gugup.
"Mana aku tahu. Kamu yang perempuan seharusnya lebih tahu dari pada aku dong," ujar mas Gibran dengan entengnya.
__ADS_1
"Kamu tega, Mas. Kamu sendiri yang memilih rumah sebesar ini, berjanji akan memperkerjakan pelayan di sini dan menjadikan aku ratu di rumah ini, tapi mana buktinya?" Aku tidak terima, Aku merasa dibohongi oleh suamiku sendiri.
Memang benar bahwa kebenaran hanya ada di langit, sementara dunia hanya palsu dan palsu. Terkadang kita menciptakan sendiri rasa sakit hati melalui ekspektasi. Namun ekspektasi yang terlalu tinggi menimbulkan rasa sakit pada hati sendiri. Memang tak seharusnya mudah saja percaya dengan janji.
Aku tidak pernah keberatan memasak untuk suamiku, tapi kalau mengurus rumah sebesar dan seluas rumah-rumah orang kaya, belum lagi halaman yang juga cukup luas, bagaimana mungkin aku bisa sanggup untuk mengurus rumah sendirian tanpa bantuan para pelayan, minimal dua orang pelayan.
"Ya, aku berubah pikiran. Aku takut saja jika kamu sedang bosan di rumah, tidak ada kerjaan, nanti kamu malah mendatangiku ke kantor dan mengganggu aku kerja di sana," ungkap mas Gibran dengan alasan yang sangat membuat hatiku sakit.
DEG
Jadi itukah alasan mas Gibran memecat pelayan di rumah. Dengan alasan takut aku mengikutinya ke kantor dan membuatnya terganggu? Padahal selama ini aku yang membantunya di kantor kalau pekerjaan dia menumpuk. Apakah itu yang dinamakan mengganggu? Tidak masuk akal sama sekali. Aku benci dengan mas Gibran yang sekarang. Sikap dan perilakunya membuatku muak.
"Begitu buruk jalan pikiran kamu, Mas!" ucapku lemah.
"Apa salahnya aku memberikan kamu kerja di rumah ini biar kamu nggak bosan. Lagian setiap bulan aku kasih uang ke kamu, kan!"
"Astaga, Mas ... aku ini istri kamu. Itu sudah kewajiban kamu memberiku nafkah. Bukan berati kamu menjadikan aku sebagai pembantu di rumah kita. Apa selama ini kamu tidak ikhlas memberiku uang?" protes ku sangat tak terima, perkataan mas Gibran seolah dia menghinaku.
"Sudahlah ... aku pergi, nanti terlambat ke kantor!" Dia mengalihkan pembicaraan lalu berjalan pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan dariku.
Sungguh sakit sekali rasanya perkataan suami yang menganggap bila istri itu sama seperti pembantu. Bekerja di rumah dan hasilnya akan mendapatkan uang. Seolah dia yang bekerja saja di luar lalu beranggapan istri di rumah berleha-leha. Padahal tidak semua istri seperti itu.
Aku berhenti bekerja pun atas kemauan mas Gibran sendiri, lantas kenapa dia sekarang perhitungan sekali padaku. Aku benar-benar tidak terima atas perlakuannya.
"Kamu benar-benar sudah berubah, Mas. Keterlaluan kamu, hiks...hiks...hiks," tangisku berlinang air mata.
__ADS_1
Pernikahan adalah komitmen bersama untuk mencintai tanpa kondisi atau tanggal kedaluwarsa. Pernikahan bagaikan melihat daun yang jatuh di musim gugur, selalu berubah setiap harinya.