
Dua bulan berlalu, kini Aku masih menetap di luar negeri bersama dengan Bram. Perubahan yang terjadi saat Aku bertemu kembali dengan Bram di Indonesia, Aku begitu sangat nyaman di dekatnya. Tapi setelah Aku berada bersama Bram, entah mengapa nyaman itu berubah menjadi rasa kaku, canggung dan rasa jenuh. Baru kusadari bahwa benar saat itu keputusanku untuk menikahi mas Gibran tidak salah. Nyatanya Bram adalah lelaki yang sangat berambisi untuk mengambil alih perusahaan keluarganya yang lain. Bram ternyata sangat serakah.
Hari ini tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Pikiranku selalu tertuju pada mas Gibran. Sedetikpun tidak bisa Aku melupakannya. Aku merindukan mas Gibran. Rasanya Aku ingin pulang ke Indonesia bertemu dengan mas Gibran. Aku sadar bahwa keputusanku pergi dari mas Gibran bulan lalu adalah tidak benar. Cuma karena tidak ingin bercerai darinya, Aku malah pergi meninggalkannya supaya perceraian kami dibatalkan. Tapi nyatanya Aku disini malah tersiksa menahan rindu pada mas Gibran.
DERT DERT DERTTT
Aku terbangun dari lamunanku saat ada panggilan telepon masuk. Aku segera mengangkat panggilan telepon tersebut yang ternyata dari Dewi. Walaupun Aku jauh dari Indonesia tapi Aku masih menerima kabar mas Gibran dari Dewi.
"Hallo Dewi, ada apa?"
"Mbak, gini Mbak ... aku barusan saja dapat kabar dari mas Gibran bahwa Minggu depan, dia akan bertunangan."
"Apa? Ka-kamu nggak bercanda kan, Wi. Nggak mungkin mas Gibran bertunangan sedangkan status kami masih suami istri."
"Makanya aku kasih tahu Mbak. Mending Mbak balik deh ke Indonesia deh. Beresin semua masalah rumah tangga kamu yang belum kelar, Mbak."
"Tapi Wi, siapa perempuan yang akan bertunangan dengan mas Gibran? Apa memang sebelumnya mas Gibran benar selingkuh dari Mbak?"
"Dengar-dengar perempuan itu adalah saudara dari teman bisnis mas Gibran, Mbak. Akhir-akhir ini dia memang sering ke kantor. Aku pikir hubungan mereka hanya sebatas rekan saja. Ternyata mereka ada hubungan. Maaf aku baru tahu sekarang, Mbak."
"Apa mas Gibran sudah melupakan Mbak, Wi?"
"Karena Mbak pergi dari rumah, makanya suami kamu semena-mena. Makanya pulang ya, Mbak. Dan gagalkan pertunangan suami kamu itu secepatnya."
"Tapi Mbak belum berani pulang ke Indonesia, Wi. Apalagi mendengar dia bertunangan saja, Mbak udah nggak sanggup bila kenyataannya mas Gibran menikah lagi."
"Terserah Mbak deh. Berarti Mbak setuju dimadu sama mas Gibran."
"Nggak, Mbak nggak mau. Mbak nggak rela."
__ADS_1
"Makanya pulang secepatnya ke Indonesia."
"Tapi....."
Tut Tut tuttttt
Panggilan telepon pun terputus sepihak oleh Dewi. Sepertinya dia kesal padaku. Seketika tubuhku lemas mendengar perkataan dari Dewi barusan. Aku benar-benar nggak bisa tenang. Pikiranku kacau. Jujur Aku nggak bisa terima jika mas Gibran bertunangan dengan perempuan lain. Walaupun belum ke tahap menikah, tapi Aku nggak rela.
Apa memang benar mas Gibran sudah tidak mencintaiku lagi hingga dia begitu mudah melupakan Aku dan berhubungan dengan perempuan lain? Sungguh kejam mas Gibran. Kenapa dia tidak memikirkan perasaanku. Hatiku sakit sekali seperti tertusuk pecahan kaca yang sangat tajam, sangat menyakitkan.
HIKS HIKS HIKS HIKS
Aku ingin pulang, tapi percuma apalagi hari pertunangan mas Gibran sudah ditentukan. Apakah pantas aku menggagalkannya?
Aku mondar-mandir tak tenang, menimbang-nimbang keputusanku untuk pulang ke Indonesia atau tetap berada di sini bersama Bram. Lama Aku berdiskusi dengan diriku sendiri. Dan akhirnya Aku menemukan jalan keluar dari apa yang sekarang Aku gelisah kan.
"Aku harus pulang, ya aku harus pulang ke Indonesia," gumamku sembari menghapus air mataku.
"Bram, Aku mau pulang ke Indonesia hari ini. Terima kasih banyak telah membantuku untuk tinggal di sini," ucapku tanpa basa-basi.
"Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah kewajibanku sebagai ... sahabat," ujar Bram sedikit ragu dengan mengatakan sahabat. Ya, mungkin dia akan mengatakan bahwa Aku adalah orang yang dicintainya makanya itu sudah kewajibannya. Tapi Aku tak terlalu mempedulikan maksud dari perkataannya.
"Bisa antar aku ke bandara?" Tanyaku, karena Aku melihat Bram sedang luang.
"Tentu, jangankan mengantar. Aku akan ikut ke Indonesia sama kamu," jawabnya.
"Tapi, bagaimana dengan pekerjaan kamu, Bram?"
"Pekerjaan di Indonesia lebih penting dari pada di sini, cantik. Lagi pula sayang banget bila melewatkan pertunjukan penting, di sana nanti. Let's go!" Ujar Bram bersemangat. Dia bahkan langsung menarik koperku berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1
"Pertunjukan penting?" gumamku pelan.
Entah kenapa Bram begitu bersemangat dan tak ada pertanyaan untukku mengenai kepulangku ke Indonesia. Aku menjadi heran padanya. Ataukah dia memang sudah mengetahui pertunangan mas Gibran Minggu depan, hingga akhirnya dia bela-belain ikut Aku ke Indonesia padahal Aku melihat Bram yang setiap hari selalu sibuk dengan pekerjaannya di sini. Lantas pertunjukan penting apa yang Bram katakan barusan?
*******
Saat ini Aku sudah berada di Indonesia. Rasanya sulit sekali kaki ini melangkah untuk kembali pulang ke rumah, tepatnya rumahku bersama dengan mas Gibran. Hanya itulah satu-satunya rumah yang Aku miliki saat ini.
"Kamu ikut Aku saja ke apartemenku, bagaimana?" tawar Bram.
"Emm ... aku mau pulang ke rumahku saja dulu, Bram. Soalnya mas Gibran menyuruhku untuk tinggal di sana," jawabku jujur.
"Baiklah, kalau gitu aku akan mengantarmu," jawab Bram tak banyak komentar.
Bram pun mengantarku dengan menggunakan mobil yang di sopiri oleh asistennya yang bekerja di Indonesia. Setelah Aku sampai rumah, Bram pun langsung menuju apartemennya.
TOK TOK TOKKK
CEKLEK
"Ibu Amanda, Alhamdulillah Ibu sudah pulang. Bibi khawatir sama keadaan Ibu. Syukurlah Ibu baik-baik saja," Bibi pelayan langsung memelukku kala dia melihatku berdiri di hadapannya.
Serasa tak percaya jika kini Aku berada di sini, di rumah ini. Aku diam tak menjawab perkataan bibi karena Aku merasa sangat bersalah padanya. Pergi tanpa berpamitan dengannya, padahal bibi orang yang paling peduli padaku di rumah ini.
"Maafin Manda ya, Bi karena Manda pergi dari rumah nggak pamitan sama Bibi, buat Bibi jadi khawatir," ucapku tulus.
"Ngga apa-apa, yang penting Ibu Manda baik dan sehat," Bibi mengelus kedua bahuku sembari memeriksa kondisi tubuhku dengan kedua tatapan matanya.
"Oh ya, Bi ... apa mas Gibran ada di rumah sekarang?" tanyaku yang memang sudah dari awal tak sabar mendengar kabarnya.
__ADS_1
Jujur, Aku masih sangat peduli dengan mas Gibran walau dia yang Aku ketahui sekarang bahwa dia mengkhianatiku. Tapi di sisi lain, hatiku berkata bahwa mas Gibran masih sangat mencintaiku. Aku jadi dilema.
"Aku di sini, Manda!" ujar seseorang dengan suara yang sangat Aku rindukan.