
Membayangkan dimadu saja sudah membuatku takut apalagi jika memang benar terjadi pada diriku. Tidak, Aku tidak mau. Aku tidak ingin ada orang ketiga yang masuk ke dalam rumah tanggaku bersama mas Gibran. Aku tahu bila hubungan kami sekarang ini tidak baik, tapi itu semua bisa diperbaiki, bukan?
"Nih minum dulu," Mas Gibran menyodorkan air minum kepadaku.
Aku segera mengambilnya dan meminumnya. Perlahan tenggorokanku mulai lega. Aku menatap mas Gibran dengan sangat marah dan kesal.
"Aku tidak sudi untuk dimadu. Jika itu terjadi maka kita benar-benar akan berpisah," ucapku dengan air mata yang telah membasahi pipi. Kalimat itu juga seperti mengancam.
Aku melirik mas Gibran yang hanya diam saja, namun tak lama kemudian ada guratan senyuman diwajahnya. Aku menganggapnya bahwa mas Gibran sangat menyetujui jika kami berpisah.
"Sudah, jangan menangis. Tidak baik untuk kesehatan kamu," Mas Gibran menghapus air mataku namun Aku langsung menepisnya.
"Nggak usah sok lembut dan perhatian sama aku. Pergilah, aku mau sendiri," ketus ku mengusirnya.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Aku akan pulang."
"Pulang? Bahkan kau sudah mempunyai rumah baru untuk kau tinggali bersama calon istrimu nanti," gumamku merutukinya.
"Kenapa kau sejak tadi menuduhku yang bukan-bukan, hah? Jangan asal beranggapan jika kau tidak tau kebenarannya," ujar mas Gibran dengan tenang.
"Tapi kebenarannya kau akan bertunangan dan menikah setelahnya, kan?" ketus ku.
"Lantas? Kau cemburu?" Tanyanya.
"Tidak ada, pergilah aku mau tidur!" Aku langsung membaringkan tubuhku menggunakan selimut.
"Baiklah, aku akan pergi," mas Gibran hendak melangkah pergi.
HIKS HIKS HIKSSS
"Kamu jahat, Mas. Aku benci kamu, Mas. Hiks hiks hiksss," Aku menangis tersedu-sedu.
Yang tadinya mas Gibran ingin melangkah pergi, kini dia malah menatapku dengan rasa iba.
"Berhentilah menangis, semua masalah tidak harus dihadapi dengan menangis. Ingatlah satu hal, apapun yang aku lakukan, tolong tetaplah percaya padaku. Semuanya akan baik-baik saja," ucap mas Gibran.
"Bagaimana aku akan percaya sama kamu, jika kamu sendiri yang mengkhianatiku. Kamu pengkhianat, Mas!"
"Ya, kau benar Manda. Aku pengkhianat. Sejak dulu kata pengkhianat memang melekat padaku. Bahkan aku merebut dirimu dari Bram. Seharusnya kau dulu jangan pernah percaya pada pengkhianat seperti aku, Manda!"
__ADS_1
HIKS HIKS HIKSSS
Aku semakin menangis kala mendengar penuturan mas Gibran. Secara tak langsung aku telah mengingatkan luka di masa lalu, tepatnya dimana Aku dan mas Gibran yang telah melakukan pengkhianatan terhadap Bram. Jadi bukan hanya mas Gibran yang pengkhianat tapi diriku juga pengkhianat. Lalu tega-teganya diriku bilang kalau mas Gibran lah yang pengkhianat. Di mana otakku sih?
"Berhentilah menangis. Jangan menangis karena si pengkhianat seperti diriku. Air matamu berharga. Maka menangis lah di saat kau merasa bahagia saja," ujar mas Gibran mengingatkan.
Benar kata orang bilang, bahwa pengkhianat akan bertemu dengan pengkhianat pula. Jadi apakah ini hukuman buatku dan mas Gibran karena telah mengkhianati Bram? Dan Bram benar bahwa hubunganku dan suamiku tidak akan bahagia karena telah mengkhianatinya. Lantas untuk apa Aku menangisi hubunganku yang akan kandas?
Benar kata mas Gibran. Menangis hanya akan buang-buang air mataku yang berharga. Jadi lebih baik aku menyimpan air mataku hanya untuk kebahagiaanku saja.
Aku langsung bangkit dan mengarahkan mataku ke hadapan mas Gibran.
"Pergilah, aku akan datang ke acara pertunanganmu nanti. Jika aku menangis pada saat itu maka artinya aku menangis bahagia, bukan karena sedih. Ingatlah itu Mas Gibran!" Ucapku dibuat setegar mungkin pada mas Gibran, walaupun sebenarnya hatiku sangat sakit mengatakannya.
"Ya, akan aku ingat itu. Maka tersenyumlah, kau jelek jika menangis seperti itu," mas Gibran tersenyum setelah mengejekku.
"Kau ... sempat-sempatnya masih bisa bercanda Mas!"
"Maaf, maaf ... aku pergi sekarang. Sampai bertemu Minggu depan. Aku akan membuat kejutan spesial buat kamu."
"Nggak perlu," jawabku ketus.
Mas Gibran tertawa, ya seperti itulah dia jika melihat tingkahku yang seperti anak kecil menggemaskan jika sedang kesal.
ARGHHHH
Aku berteriak sekencang-kencangnya di dalam selimut setelah mas Gibran meninggalkanku sesaat dia menutup pintu kamarku. Tidak sepantasnya dia tertawa disaat Aku tersakiti olehnya. Seharusnya dia tidak perlu memberi perhatian lebih untukku disaat dirinya akan bertunangan dengan perempuan lain.
Keesokan harinya, di pagi hari Aku dikejutkan oleh dering ponselku yang berbunyi, Aku pun bangun lalu melihatnya dan mengangkat ketika tahu siapa yang meneleponku.
"Hallo Bram."
"Apa kau bosan di rumah? Ayo kita jalan."
"Kemana?"
"Jalan-jalan kemana pun kamu mau, aku siap mengantar sesuka hatimu."
"Emm, baiklah aku mandi dulu."
__ADS_1
"Ok, satu jam lagi aku jemput kamu, ya. Bye cantik!"
"Bye."
Tak lama kemudian, satu jam Aku mempersiapkan diriku dari mulai pakaian hingga make up. Itu saja belum cukup tapi Bram sejak setengah jam lalu sudah menunggu. Ah, biasalah wanita sangat terkenal berlama-lama jika berdandan.
Akhirnya dua jam waktu yang pas untuk mempersiapkan diri. Maklum karena sudah lama pula aku tidak memanjakan diri untuk berdandan. Aku pun turun ke bawah menemui Bram.
"Maaf, kelamaan ya nunggunya?" Aku merasa tidak enak dengan Bram.
"Ngga apa-apa, lagian udah biasa sejak dulu, jadi kangen diginiin sama kamu," ujar Bram yang sampai sekarang masih mengingat tentang kelakuanku bila hendak bepergian dengannya dulu.
"Hahaha, gitu ya!"
"Ya, tumben hari ini kamu ceria banget. Ada apa nih?" Tanya Bram heran karena melihatku tertawa.
"Nggak ada, suasana hati aku lagi bahagia saja. Apalagi jalan-jalan sama kamu."
"Beneran, bukan karena hal lain?" Tanya Bram lagi, dia terlihat sangat heran menatapku.
"Iya, beneran. Udah ah, kita pergi sekarang!" Ajak ku dengan cepat.
Kami berdua pun berjalan ke arah mobil yang diparkir di halaman rumah, tapi tiba-tiba saja datang mobil mas Gibran dari arah depan menghadang kami, sontak kami berhenti.
"Woi, mau kemana para mantan?" Tanya mas Gibran sesaat setelah dia membuka kaca mata hitamnya. Sungguh dia terlihat sangat keren sekali.
"Gila loe, nggak sopan banget sih!" umpat Bram dengan kesal.
"Hari ini gue izinin kalian sepuasnya bisa jalan bareng berdua, sebelum tidak bisa sama sekali," kata mas Gibran seperti memberi pesan. Aku menjadi bingung dengan perkataan mas Gibran itu.
TIN TIN TINNN
Aku dan Bram sama-sama terkejut mendengar suara klakson yang di bunyikan oleh mas Gibran.
"Minggir gue mau lewat woiiii," Teriak mas Gibran lantang.
BRAKKK
Bram yang sangat emosi, langsung mengebrak mobil depan mas Gibran cukup kuat.
__ADS_1
"Sialan loe, Gibran!" Umpat Bram sambil mengepalkan tangannya kuat.