
Jika dalam rumah tangga mengalami suatu masalah, ada baiknya dianjurkan untuk membangun komunikasi sehingga bisa menemukan solusi baik tanpa merusak keharmonisan rumah tangga. Penting bagi setiap pasangan, termasuk suami untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih sayangnya kepada istri.
Berusaha untuk membangun hubungan rumah tangga yang hangat dan penuh cinta. Dalam suasana marah pun, suami tetap dituntut untuk bersikap lembut dan menunjukkan kasih sayang kepada istri.
Pada dasarnya, setiap pasangan harus memaklumi bahwa semua orang pernah berbuat kesalahan. Termasuk dalam hubungan suami istri, baik suami maupun istri hendaknya saling memaafkan jika pasangan berbuat salah. Bagi pihak yang berbuat salah, maka wajib baginya untuk meminta maaf.
Tapi bagaimana dengan rumah tanggaku saat ini? Semuanya seperti hambar dan penat yang mulai Aku rasakan. Tidak ada rasa kasih sayang yang ditunjukkan oleh suamiku, tidak ada sikap lembut dan perhatian dari suamiku, bahkan dia selalu menyalahkan ku. Kata maaf dan memaafkan pun tidak pernah lagi Aku dengar dari mas Gibran. Semuanya telah sirna.
"Ganti makanannya!" pinta mas Gibran menatap nasi goreng seafood buatanku.
"Kenapa diganti? Ini masakan simple yang bisa aku buat sekarang," protes ku.
"Kamu masak lagi gih, sekarang! Mulai hari ini jangan lagi ada masakan seafood di rumah ini. Jangan ada udang, cumi-cumi atau sejenis makanan laut lainnya, paham!" ucapnya dengan dingin, matanya tajam menatapku.
"Tapi kenapa, Mas?" tanyaku heran.
"Turutin saja perintahku, bawel banget sih!" bentaknya dengan kasar.
"Ta-tapi bahan makanan udah habis di rumah. Aku belum sempat beli ke supermarket," jawabku sedikit terbata.
"Apa? Kenapa bisa? Kamu itu nggak becus banget sih jadi istri. Ini akibatnya kamu selalu pesan makanan online terus."
"Aku pesan makanan di luar itu karena kamu kemarin-kemarin nggak pernah makan masakan aku," protes ku mengingatkan dia.
"Jangan salahkan aku, itu semua karena kamu yang selalu masak makanan seafood."
"Bukannya kamu suka makanan seafood, Mas?" Tanyaku lagi dengan heran.
__ADS_1
"Sekarang aku membencinya, paham!" Mas Gibran bangkit dari kursi.
"Kenapa?" tanyaku kembali.
Mas Gibran tidak menjawab, dia hanya memutar bola matanya dengan malas. Dia melangkah hendak pergi.
"Makanannya gimana, Mas?" tanyaku lagi.
"Makan saja kamu sendiri. Aku nggak sudi memakannya," Mas Gibran pergi begitu saja meninggalkanku. Dia tidak jadi makan masakan ku lagi malam ini.
Aku benar-benar bingung dengan tingkah mas Gibran. Yang Aku ingat, sejak pertama kali Aku berkencan dengan mas Gibran, makanan yang dia pesan di restoran selalu saja seafood. Terkadang udang goreng, cumi saus padang, udang teriyaki bahkan berbagai makanan seafood yang lainnya dia sukai, pasti dia pesan tanpa paksaan dariku.
Tapi sekarang makanan yang semuanya dulu dia suka itu, dia bilang membencinya. Ada apa sebenarnya? Bukan hanya Aku yang dia benci, tapi juga makanan seafood yang dia benci. Aku tidak mengerti sedikit pun dengan tingkah mas Gibran sekarang. Semakin hari dia semakin aneh saja.
*******
"Kamu ke mall, Mas? Ke supermarket? Kok nggak ngajak aku sih, Mas?" Aku kesal karena mas Gibran tidak mengajakku pergi. Biasanya dia selalu bertanya terlebih dulu jika mau belanja bulanan ke supermarket. Tapi sekarang tidak lagi.
"Ngapain aku ngajak kamu. Nanti kamu minta barang-barang branded lagi. Bisa bangkrut aku!" ucap mas Gibran seolah menyindir.
DEG
Benar-benar mulut mas Gibran tidak bisa berkata yang baik-baik sekarang, selalu saja menyakiti hatiku.
"Astaghfirullahal'adzim, wajar dong aku minta sesuatu sama suami aku sendiri," protes ku kesal.
"Ya kamu mikir juga dong, aku yang kerja capek seharian, kamu malah enak-enakan nikmatin hasilnya gitu aja. Enak benar kamu jadi istri," protesnya tak mau kalah.
__ADS_1
Aku menghela nafas berat. Sakit rasanya bila suami berkata seperti itu. Menganggap hanya dirinya lah yang berusaha keras untuk menghidupi keluarga. Padahal itu adalah tanggung jawabnya dan berkewajiban untuk menafkahi istrinya. Aku tidak menyangka mas Gibran yang seorang lelaki cerdas bisa berpikiran dangkal seperti itu.
Seorang suami terhadap istri setidaknya harus mencukupi kebutuhan. Suami wajib memberi nafkah lahir kepada istri seperti pakaian, dan tempat tinggal, juga memenuhi nafkah batin kepada istri seperti cinta, kasih sayang, dan perhatian.
Wajib bagi seorang suami untuk mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan istri bukan malah itung-itungan mengungkit seberapa banyak si suami mengeluarkan uang untuk sang istri.
"Aku nggak berleha-leha di rumah. Ingat ya, kamu yang nyuruh aku membenahi rumah sebesar ini karena kamu yang pecat semua pelayan. Kalau kamu nggak suka aku di rumah. Lebih baik aku kerja lagi di luar."
Mas Gibran diam seketika, dirinya merasa terpojok karena ucapanku memanglah benar adanya. Terlihat dari wajahnya dia merasa malu dan bersalah. Wajahnya melengos ke arah lain. Sepertinya dari wajahnya pula, mas Gibran tidak mengizinkan Aku untuk bekerja di luar. Apalagi di rumah ini sudah tidak ada pelayan lagi.
Aku sempat berpikir yang buruk bahwa mas Gibran sengaja membuatku kerja di rumah seharian agar Aku mempunyai pekerjaan yang sepadan lelahnya seperti dia. Mungkin bagi mas Gibran ini adil. Tapi saking dia membuatku bekerja di rumah, dia lupa bahwa dulu kami mempunyai dua pelayan yang masing-masing mempunyai tugas sendiri.
"Kalau debat aja paling jago," gumam mas Gibran yang masih terdengar di telingaku.
"Kamu yang mulai duluan ya, Mas!" seruku.
"Tau ah," Mas Gibran pergi begitu saja dan meninggalkan semua barang-barang yang tadi dia beli di supermarket.
"Loh Mas ... Mas bantuin aku bawa semua ini barang-barangnya," teriakku padanya.
"Bawa aja sendiri, nggak usah manja. Aku capek mau mandi, istirahat. Gantian kamu yang bawa semua itu barang!" Teriak mas Gibran pula semena-mena.
"Mas, Mas ... keterlaluan kamu!" umpat ku dengan kesal.
Dengan terpaksa aku mengangkat barang-barang bawaan mas Gibran yang dia beli di supermarket. Terpaksa bukan berarti tidak tulus, tetapi yang Aku sesalkan adalah sikap mas Gibran yang sama sekali tidak membantu membawakannya bersama-sama. Sungguh keterlaluan, sampai kapan Aku diperlakukan tidak adil seperti ini? Tapi Aku tetap masih bertahan untuknya.
Kemudian, dengan sabar Aku mengangkat barang belanjaannya. Walaupun bahan makanan, tapi nyatanya lumayan berat juga bagi Aku yang kaum wanita. Ya, lumayan capek untuk berjalan mondar-mandir mengangkat barang-barang itu sampai 5 kali ke dapur yang cukup jauh dari pintu depan rumah.
__ADS_1
"Huh, melelahkan."