
Aku pikir mas Gibran mau menerima ajakanku ke kantor bersamanya, rupanya dia sengaja mengiyakan permintaanku. Nyatanya dia melajukan mobilnya dan sengaja berdiam diri tidak menjawab setiap pertanyaanku dalam perjalanan hingga Aku tertidur. Lalu Aku kecolongan hingga membuat mas Gibran sukses membawaku ke tempat pusat perbelanjaan.
Karena sudah terlanjur berada di sana, maka Aku terpaksa masuk ke dalam Mall itu untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah, tepatnya mengistirahatkan pikiran dan hatiku yang sakit karena mas Gibran. Aku masuk ke dalam supermarket dan membeli banyak es krim dengan berbagai rasa. Ya, siapa tahu hatiku sedikit terhibur. Tapi nyatanya masih saja Aku tidak bisa melupakan perilaku mas Gibran terhadapku.
Aku juga masuk ke dalam salah satu butik di sana, Aku membeli beberapa koleksi fashion di sana, seperti baju, tas, dan sepatu. Aku tak peduli berapa uang yang Aku keluarkan untuk semua barang itu. Toh, yang menyuruhku untuk berada di sini juga suamiku sendiri. Aku akan menghabiskan uangnya sesuai dengan yang Aku mau.
Setelah beberapa jam berlalu, Aku teringat Dewi. Akhirnya Aku putuskan untuk menghubungi Dewi.
Hallo Mbak, ada apa?
Dewi, sedang apa mas Gibran sekarang? Apa dia sibuk?
Waduh, Mbak parah banget tahu nggak. Hari ini mas Gibran menunda jam meeting sama rekan bisnisnya karena dia datang telat. Lalu pas mas Gibran datang ke kantor, eh malah mbak Lala yang dimarahi habis-habisan. Alasannya mbak Lala lupa menyiapkan berkas-berkas kerjasamanya, padahal tidak sama sekali. Jadi tadi mbak Lala nangis tuh karena mas Gibran.
Ini semua karena Mbak, Wi. Kalau saja Mbak nggak ketiduran di mobil, pasti peristiwa itu nggak akan terjadi.
Ketiduran? Kok bisa? Terus Mas Gibran marah-marah sama, Mbak?
Ya, gitu sih Wi. Ngomong-ngomong si Lala sekarang baik-baik saja kan?
Ya lumayan, tapi mbak Lala ajuin resign cepat sama mas Gibran. Jadi besok aku mulai menggantikan posisi Lala.
Secepat itu? Berarti kamu mulai besok bisa tahu aktivitas mas Gibran dengan full dong.
Mata-matai mas Gibran maksudnya? Double ya bayarannya, hahaha.
Tenang aja kalau soal bayaran. Semua beres.
Tapi aku harap mas Gibran nggak kasar sama aku ya, Mbak. Aku nggak janji bakal betah sama suami kamu, Mbak. Kamu tahu sendiri gimana sifatku, Mbak.
__ADS_1
Demi Mbak kamu harus betah kerja sama mas Gibran. Kamu harus sabar ngadepin mas Gibran, ya please.
Emm...gimana ya, lihat aja deh nanti. Eh ada mas Gibran nih mau menuju kemari, udah dulu, Mbak. Aku tutup teleponnya, ya.
Tut Tut tuttttt
Sambungan telepon pun terputus. Aku menghela nafas panjang.
Lelah, ya Aku cukup lelah untuk memahami situasi saat ini, termasuk sikap mas Gibran yang semakin hari semakin terlihat tidak baik di mata semua orang.
Rasanya menyedihkan saat aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mas Gibran, tapi semua itu ternyata belum cukup. Biarlah, bila memang apa yang telah dia lakukan padaku atau pada semua orang membuatnya lega, aku hanya bisa berusaha tak berburuk sangka padanya.
Aku mulai bosan di sini, Aku berjalan ke luar dari Mall dan menghentikan taksi. Aku sudah memutuskan untuk pergi ke butik Dewi. Aku akan menenangkan hatiku di sana dulu sementara. Ya, itung-itung sekalian bantuin Dewi, bisa dibilang Aku akan mengawasi para pekerja di butik Dewi.
Tak terasa hari mulai sore, Aku masih saja berada di butik Dewi dengan santai seperti bos besar. Sengaja untuk menunggu Dewi pulang dari kantor suamiku.
"Ya, maaf Mbak langsung ke sini karena Mbak males pulang ke rumah," jawabku lesu.
"Marahan sama mas Gibran, ya? Nggak kelar-kelar dong masalah kalian, dan itu membuat dia selalu galak di kantor, Mbak!" Dewi meletakkan tasnya di meja lalu duduk di depanku.
"Dia duluan yang mulai, Wi. Aku nggak tahu harus ngadepin mas Gibran seperti apa lagi. Sikapnya semakin hari semakin aneh menurut Mbak."
"Jadi sekarang Mbak mau nginep di sini? Ok, nggak masalah. Malah beruntung Aku ada yang jagain butik aku, hehehe" ujar Dewi dengan candanya.
"Ih, nggak lah. Mbak cuma mampir aja kok. Mbak pulangnya nanti malam saja. Mbak mau lihat sejauh mana mas Gibran peduli sama Mbak. Dia nyariin Mbak atau nggak, gitu."
"Ya elaaa, Mbak bukan anak kecil kali mau dicariin, hehe."
"Ya sekedar lewat telepon maksudnya, gitu!" ketus ku.
__ADS_1
"Oh, jadi kalau mas Gibran nggak telepon, berarti mas Gibran nggak peduli lagi sama Mbak, itu artinya...."
"Dewi apaan kamu ihhh, ngeselin deh!"
"Ya, ya becanda Mbak. Ya udah sekarang ikut aku pulang ke apartemen dulu, yuk!"
Aku pun berkunjung ke apartemen Dewi untuk sementara. Hingga malam pun tiba. Pukul 7 malam, mas Gibran sama sekali tidak ada menghubungi Aku. Aku sangat kecewa padanya.
Aku terus menunggu telepon dari mas Gibran, paling tidak notif darinya pun nggak masalah bagiku. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Rasanya Aku ingin berteriak sekencang mungkin, memaki-maki mas Gibran, kenapa dia membuatku terlihat bagai istri yang lemah dan bodoh. Aku tidak henti mengawasi ponselku, namun tetap tidak ada panggilan dari suamiku.
Aku sudah lelah dan menyerah, akhirnya aku putuskan untuk pulang dari apartemen Dewi. Setelah berpamitan pada Dewi, Aku menaiki taksi yang telah dipesan melalui online. Dalam perjalanan pun Aku masih berharap mas Gibran menghubungiku.
Tanpa sadar, taksi telah berada di depan rumahku. Aku pun berjalan masuk ke dalam dengan langkah tak bersemangat. Karena mungkin saja mas Gibran sudah tidur di jam segini dan Aku tidak ingin lagi menaruh harapan apa-apa yang pada akhirnya bakal kecewa.
Aku masuk ke dalam kamar tanpa memandang sekeliling, mataku hanya terfokus pada tempat tidur yang kosong. Hingga akhirnya Aku menaruh beberapa paper bag yang Aku beli di Mall tadi pagi di atas nakas. Aku tidak menangkap sosok mas Gibran di ranjang, itu artinya mas Gibran tidak akan tidur di sini bersamaku.
"Ekhem...!" terdengar suara lelaki berdehem.
Sontak aku berbalik, Aku terkejut nyatanya mas Gibran tengah berdiri di pintu luar balkon. Lalu dia duduk di sofa sambil memainkan ponsel. Entah di sengaja atau tidak, yang pasti pandangan mata mas Gibran hanya fokus pada ponselnya.
Aku pun tak peduli, lalu Aku beralih mengambil baju tidur di lemari.
"Belanjaan sedikit, tapi pulangnya sampai malam begini," tegur mas Gibran, Aku yakin kali ini pasti dia sedang menyindirku.
Aku berbalik menghadapnya yang masih fokus pada ponselnya itu. Aku pikir dia nggak akan komplain dengan kepulanganku yang sudah memasuki pukul 9 malam. Tapi ya, aku juga sedikit senang karena setidaknya mas Gibran menyapaku walau akhirnya aku mendapatkan sindiran darinya.
"Untung saja bisa pulang, tadi sempat kesasar nggak tahu arah tujuan, secara di rumah udah terasa asing, ada wujud manusianya tapi jarang bersuara!" sindir ku balik, Aku berharap dia sadar dengan perkataan ku.
Beberapa detik Aku menunggu jawaban darinya, namun percuma saja, tidak ada respon apapun darinya. Kemudian Aku beralih masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan kesal dan marah.
__ADS_1