Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Terbebas dan Bahagia (END)


__ADS_3

Mengikhlaskan seseorang yang kita cintai memang tidaklah gampang. Tapi seharusnya kita sadar bahwa seseorang yang kita cintai pergi meninggalkan kita pasti ada alasannya. Satu hal yang harus kita petik yaitu, mengakui kesalahan dan introspeksi diri dimanakah letak kesalahan tersebut. Jangan terlalu egois memikirkan diri sendiri. Kita juga tidak bisa memaksakan seseorang yang kita cintai itu untuk tinggal bersama kita.


Jalan satu-satunya adalah menerima kenyataan dan merelakan perpisahan adalah yang terbaik untuk kehidupan di masa depan tanpa adanya dendam untuk menyakiti atau melukai. Hidup akan damai bila kita bisa menerima dengan ikhlas. Dan pasrahkan semuanya pada Sang Pencipta bahwa kelak kita akan memiliki kehidupan yang lebih baik lagi bersama orang yang memang sudah ditentukan dari-Nya.


"Taksiiii...," Aku berteriak menghadang mobil taksi yang setiap kali lewat di depanku.


"Taksiiii ... arghhh sial," umpat ku dengan kesal.


Tak ada satu pun taksi yang kosong, semuanya berpenumpang. Aku mulai gelisah. Takut terjadi hal buruk pada mas Gibran. Hari sudah malam, Aku tak bisa berdiam saja. Aku pun berlari sekencang mungkin, air mataku tak berhenti menetes. Pikiranku sangat tidak tenang.


Semakin Aku berlari kencang semakin Aku kelelahan. Tenagaku hampir habis. Jujur Aku tak sanggup lagi untuk berlari. Hingga Aku terjatuh sampai lututku berdarah-darah, Aku masih saja berlari semampuku.


"Ya Tuhan, lindungi mas Gibran. Setidaknya izinkan Aku melihatnya untuk terakhir kali, hiks...hiks...," Aku memohon pada Tuhan agar mempercepat langkahku sampai ke rumah. Walaupun itu mustahil karena jalanan yang ku tempuh saat ini sangatlah jauh bila berjalan kaki.


Perjalananku yang Aku kira berlari nyatanya hanyalah berjalan biasa, karena kakiku sudah sangat kelelahan. Belum lagi luka yang ada di lututku sangatlah perih. Tapi Aku masih optimis melangkah, siapa tahu ada taksi yang lewat di depanku.


Namun sudah 30 menit Aku berjalan, tidak ada satu pun taksi yang berhenti. Apakah ini pertanda tidak baik? Apakah memang sudah takdirku berpisah dengan mas Gibran? Lalu bagaimana denganku? Aku tidak ingin kembali dengan Bram. Lelaki itu pantas dihukum seberat-beratnya. Aku tidak akan pernah sudi untuk bersama dengan lelaki jahat seperti Bram.


"Mas Gibran, berjuanglah untuk hidup. Aku mohon jangan pergi sebelum Aku kembali, hiks...hiks..."


Tiba-tiba saja, Aku merasakan pusing. Tubuhku sudah berkeringat bercucuran. Mataku berkunang-kunang dan tubuhku merasakan lemas seperti kehilangan keseimbangan. Aku menepi dengan langkah gontai hingga tak lama kemudian Aku pun terjatuh. Mataku mengerjab-ngerjab terkena pantulan cahaya yang bersinar terang di depanku. Aku masih sedikit sadar saat itu, namun lama kelamaan Aku pun pingsan.


TUT TUT TUTTTTT


Aku membuka mataku perlahan, melihat sekelilingku yang nyatanya serba putih, ada pula cahaya menyinari sekitar tempatku berada. Tak ada siapa-siapa dan tak ada suara. Aku merasakan keheningan saja. Apakah ini surga? Aku sempat berpikir seperti itu.


"Dimana aku?" ucapku dengan suara lemah.


Tenagaku seakan hilang. Aku sempat mengingat-ingat kejadian yang menimpaku sebelumya. Namun ada yang memanggil diriku dengan suara yang samar-samar aku kenal.

__ADS_1


"Kamu sudah sadar, sayang?" Dia bertanya sembari melangkah mendekatiku.


Namun pikiranku sangat kacau dan bahkan Aku mengingat bagaimana Aku tak sadarkan diri tergeletak di jalanan. Lalu dimana sekarang? Belum sempat Aku bertanya, kantukku begitu kuat hingga Aku memilih untuk menutup mataku. Entah Aku memang mengantuk atau efek karena kelelahan.


Satu jam kemudian, Aku kembali membuka mataku. Kali ini Aku melihat jelas dan mendengar jelas suara yang sangat Aku kenal dan Aku rindukan.


"Sayang!" Sapanya sambil tersenyum mengusap kepalaku.


"Mas Gibran," balasku dengan pelan. Lalu Aku hendak bangkit untuk memeluk suamiku namun Aku merasakan sakit di lututku.


"Akhhh," Aku meringis kesakitan.


"Tiduran saja, kamu nggak boleh banyak gerak, sayang. Kaki kamu masih sakit," mas Gibran mencoba membaringkan Aku kembali ke ranjang.


"Ka-kamu Mas Gibran? Kamu nggak kenapa-napa, kan Mas. Apa ada yang terluka? Bram ingin membunuhmu, kan? Dia bilang Aku nggak bisa ketemu sama kamu lagi, hiks...hiks. Aku takut Mas," Aku menggenggam kedua tangan mas Gibran memastikan bahwa dia adalah suamiku. Bukan hantu atau khayalan ku.


"Ssstttt, jangan menangis. Ini aku Gibran, suami kamu sayang!" ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Kamu di rumah sakit," Mas Gibran tersenyum padaku. Dia tak henti menatap wajahku lalu membelainya.


"Mas, bagaimana bisa aku di sini?" Tanyaku lagi.


"Bram yang membawamu kemari, sayang. Dia juga melepaskan mas dari sekapannya," ungkap mas Gibran.


"Serius kamu, Mas?" Aku seakan tak percaya ucapan mas Gibran namun ada satu hal yang Aku ingat semalam.


Mas Gibran mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jadi, cahaya yang menerangi ku saat aku tergeletak di jalanan adalah mobilnya Bram. Berarti Bram mengikuti ku dari belakang," batinku dengan yakin mengingat kejadian malam kemarin.

__ADS_1


Aku menghela nafas dengan lega. Apa artinya Bram sudah mulai berdamai dengan masa lalu dan menerima kenyataan? Aku sangat bersyukur jika begitu.


Aku beralih menatap mas Gibran di depanku dengan senyuman merekah. Aku bahagia sekali. Namun baru Aku sadari bahwa di sekitar wajah mas Gibran sangat aneh, banyak sekali luka lebam.


"Mas, kamu kenapa? Kamu berkelahi? Apa Bram yang melakukannya, hah?" Aku sangat cemas melihat luka diwajahnya bahkan Aku menyentuh wajahnya, dia terlihat meringis kesakitan.


"Si brengsek itu menghajar ku sebelum Aku dibebaskan olehnya. Setelah puas, dia pergi begitu saja ke luar negeri," jelas mas Gibran.


"Ke luar negeri?" Tanyaku ulang.


"Ya, dia pergi setelah menghajar ku habis-habisan, lalu dia meminta maaf padaku," Jawab mas Gibran terlihat kesal.


"Aku kira, aku akan kehilangan kamu, Mas. Dan aku pikir, aku akan mati di jalanan. Aku takut nggak bisa melihat kamu lagi, Mas. Hiks...hiks...!" Aku menangis di pelukan mas Gibran.


"Sssttt, Tuhan tahu bahwa perjuangan cinta kita ini kuat. Jadi Tuhan mempersatukan kita kembali. Dan Bram juga sangat mencintai kamu. Jadi dia tidak akan mungkin menyakiti kamu kedua kalinya, sayang!"


Sangat penting bagi kita untuk belajar dan tumbuh dari kesalahan kita. Kesalahan adalah satu-satunya hal yang akan membantu kita tumbuh lebih baik dalam hidup. Kesalahan mengajarkan kita untuk lebih bertanggung jawab. Tidak banyak orang yang siap menerima setiap kali jika melakukan kesalahan. Tapi jika kita mampu menerimanya, itu artinya kita sudah cukup bertanggung jawab.


"Berarti kita sudah terbebas dari ancaman Bram, kan?" Tanyaku dengan senyum berbinar-binar.


"Bukan lagi terbebas, sayang. Bram sudah tamat," ujar mas Gibran.


"Hah, maksudnya?" Tanyaku heran.


"Ya, karena sekarang hanya ada cerita cinta Amanda dan Gibran saja, yang lain pada minggat," ujar mas Gibran.


HAHAHAHA


Kami pun tertawa bersama. Menceritakan kisah cinta kami yang tak begitu mudah dipahami. Begitu banyak lika-liku perjalanan cinta yang kami lewati. Dari berbagai permasalahan yang sangat sulit dihadapi hingga nyaris berpisah. Tapi kami yakin bahwa cinta yang kuat dan penuh perjuangan, akan berakhir bahagia.

__ADS_1


***TAMAT***


__ADS_2