
Astaghfirullahal'adzim, begitu mudahnya mas Gibran melontarkan kata-kata buruk yang seharusnya tidak patut dia ucapkan untuk diriku. Apalagi kata-kata itu baru pertama kalinya dia ucapkan padaku. Mas Gibran sudah sangat keterlaluan. Dia sudah tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Hatinya sudah gelap, tidak tahu mana yang baik dan buruk.
Masalah ini dapat terjadi pada siapa saja, namun umumnya wanita adalah pihak yang sering kali menjadi korban. Perilaku seperti itu dalam rumah tangga adalah hal yang sangat buruk dan dilarang. Sebab, hal ini tidak hanya mengancam keharmonisan keluarga tetapi juga menimbulkan banyak kerugian bagi salah satu pihak.
Seharusnya pasangan suami istri yang sudah membina rumah tangga, saling menghormati dan melindungi satu sama lain, bukan malah menyakiti. Seorang suami hendaknya bertutur baik dan lembut kepada istri. Menghindari kata-kata kasar, menghindari mencaci maki, karena itu akan menyakiti hati istri.
Tapi kenapa malah mas Gibran begitu mudahnya dia berkata kasar bahkan memakiku habis-habisan? Hatiku benar-benar sakit.
Pagi harinya, tepat di mana mas Gibran akan pergi ke kantor, saat itu juga mama Seina akan pulang ke rumahnya. Andai mertuaku menginap di rumah ini lebih lama, maka mas Gibran akan memperlakukan Aku dengan sangat baik di depan mamanya walau hanya sandiwara.
"Mama pulang dulu ya, Manda. Hati-hati, apalagi kamu sendirian di rumah, sudah nggak ada pelayan lagi di sini," pesan mama Seina dengan lembut.
"Iya, Mama juga hati-hati ya," ucapku yang kemudian menyalami tangan mama Seina.
"Ayo Gibran," ujar mama.
"Ya Ma," sahut mas Gibran dan dia pun langsung mendekatiku.
Mas Gibran pun menyodorkan tangannya padaku, alih-alih agar Aku menyalaminya biar mama Seina tidak curiga dengan hubungan kami berdua.
"Aku pergi dulu ya, Sayang. Hati-hati, jangan terima orang asing masuk ke rumah ya," kata mas Gibran memberi pesan, tak lupa dia memberikan senyum manisnya padaku. Entah pesan itu benar dari hatinya atau hanya kepura-puraan saja. Aku tak banyak berharap, karena Aku takut kecewa lagi.
CUP
Mas Gibran tak tanggung-tanggung mengecup keningku sebelum berangkat bekerja seperti biasa saat dulu kami masih bahagia.
"Ya Mas," Aku tersenyum kecil ketika mendapatkan perlakuan seperti itu.
Jika saja hubungan kami harmonis seperti dulu, maka Aku akan mendapatkan kecupan hangat yang selalu mas Gibran berikan setiap hari.
Aku menunggu mobil yang ditumpangi mas Gibran dan mama Seina hilang dari pandanganku. Inilah bukti kesetiaanku dan rasa hormatku pada mas Gibran dan orang tuanya. Tapi mas Gibran tidak memahami itu.
__ADS_1
Malam pun tiba, Aku sengaja tidak memasak makanan hari ini. Selain hatiku masih sakit karena perlakuan mas Gibran kemarin malam padaku, Aku juga tidak mau semua makanan yang Aku masak akan menjadi sia-sia. Takut jika mas Gibran pulang larut dan dia akan beralasan sudah makan di luar.
"Duh, baru jam 9 malam begini badanku merinding, sendirian lagi. Tenang Manda, jangan takut, hantu itu tidak ada," bulu kudukku merinding karena suasana di rumah begitu sepi dan sunyi. Tak henti Aku menatap jam dinding berharap mas Gibran cepat pulang.
Jujur Aku sangat takut sekali jika sendirian di rumah, bukan hanya malam saja bahkan waktu siang pun Aku merasa takut bila sendirian di rumah sebesar rumah sultan ini. Bukan hanya takut hantu juga sih, melainkan tamu tak di undang alias maling.
Aku berlari ke kamar dan mengunci pintu setelah memastikan lampu tengah dan dapur Aku matikan, hanya lampu depan yang memang menyala.
BRAKKK
PRANGGG
"Suara apa itu?" Aku kaget, semakin lama suara aneh itu semakin menakutkan.
GUBRAKKK
"Astaga, suara apa lagi itu? Jangan-jangan maling atau ... nggak, nggak mungkin hantu bisa jatuhin barang-barang?" Aku langsung menghubungi nomor mas Gibran, tapi nyatanya nomornya tidak aktif.
Kemudian, Aku perlahan membuka pintu kamar lalu berjalan ke bawah mengendap-endap sambil mencari sumber suara. Aku lanjut berjalan ke arah dapur dan mengambil sapu di sana. Suara itu semakin terdengar jelas. Ada seseorang yang memang mencari-cari sesuatu di lemari atas dapur. Aku tidak tahu siapa, karena keadaan lampu yang masih gelap.
BUKKK
BUKKK
BUKKK
"TOLONG ... TOLONG ... ADA MALING. TOLONGGGG...! Hempt ... lepaskan, lepaskan Aku! TOLONGGGG!" Aku berteriak setelah Aku memukul orang itu, namun mulutku tiba-tiba saja dibekap olehnya.
"Ssttt DIAMMM ... kau bisa membangunkan orang se komplek ini tau nggak!" tekannya, lalu dia melepaskan bekapan di mulutku.
"Ma-mas Gibran, kamu ngapain di sini seperti orang maling?" tanyaku kaget sekaligus ketakutan melanda.
__ADS_1
"Mana ada maling di rumah sendiri, kamu itu gila atau nggak punya otak, hah? Semua lampu di dalam kamu matikan, jadi aku susah menjangkau sakelar lampunya tahu nggak!" Mas Gibran terlihat kesal sekali padaku, dia memakiku dan mengatai Aku gila, sedih sekali rasanya.
"Maaf Mas, aku ngelakuin itu karena aku takut sendirian di rumah," ungkap ku dengan nada pelan.
"Halahhhh, alasan aja kamu!" Mas Gibran perlahan mencari sakelar lampu dengan menggunakan senter di ponselnya.
"Terus ngapain Mas tadi buka-buka lemari atas sana?" tanyaku menunjuk ke arah lemari atas yang biasanya tersimpan beberapa makanan di dalamnya.
"Aku laper, cepat siapin makan malam buat aku!" Mas Gibran pun berjalan ke ruang makan lalu duduk di kursi.
Aku kaget bukan main, soalnya Aku sama sekali nggak masak. Sejenak Aku terdiam tidak menanggapi perintah mas Gibran.
"Ngapain bengong di situ, cepat siapin makanannya!" Titah mas Gibran membentak.
"I-itu Mas, A-aku nggak masak hari ini," ucapku sangat gugup.
"Apa? Jadi kamu ngapain aja di rumah nggak masak, hah? Tidur-tiduran, nonton TV, terus main ponsel seharian, hah? Terus kamu tadi makan apa kalau nggak masak?" teriak mas Gibran menggema di sekeliling ruangan.
Pandai sekali sekarang mas Gibran menghinaku. Memang dia anggap apa Aku ini? Wajar seorang istri melakukan aktivitasnya di rumah sesuka hati bagi yang tidak bekerja sepertiku, tapi selama tidak menyalahi aturan. Lagi pula, Aku tidak pernah menghambur-hamburkan uang suamiku. Jika begini lebih baik Aku kerja di luar mencari uang sendiri dari pada Aku di rumah, yang ada hanya akan mendapatkan cibiran buruk dari seseorang.
"A-aku pikir mas Gibran pulang larut dan nggak akan makan di rumah, jadi aku pesan makanan untuk aku sendiri lewat online," sungguh Aku takut dengan raut wajah mas Gibran yang mukanya sudah merah padam menahan amarahnya.
"Owh, bagus ya. Bisa bangkrut aku kalau kamu pesan makanan diluar terus. Rugi aku, bisa habis uang aku!" ucapnya.
Aku menatap mata mas Gibran sangat dalam. Beginilah suamiku sebenarnya atau memang Aku yang tidak tahu sifat aslinya yang disembunyikannya selama ini. Perih sekali hatiku, perkataan mas Gibran sangat melukai hati dan perasaanku.
"Astaghfirullahal'adzim, perhitungan sekali kamu sama aku, Mas. Kamu nggak akan jatuh miskin hanya karena aku membeli sedikit makanan, Mas!" kataku dengan nada bergetar, susah payah Aku menahan tangisan.
"Ssttt sudah, sudah cukup nggak usah banyak omong deh. Pokoknya aku nggak mau tau, satu jam lagi makanan harus siap di meja ini. Aku mau mandi dan ganti pakaian dulu," Titah mas Gibran menunjuk tangannya ke atas meja tempat dia biasa makan.
Belum sempat Aku menjawab perkataannya, mas Gibran malah pergi meninggalkanku begitu saja. Dia berjalan dengan santai memasuki kamar. Perih sekali rasanya hatiku ini.
__ADS_1