
Aku mencoba untuk menenangkan diriku dari rasa gugup. Saat ini hatiku bertambah deg-degan, apalagi mas Gibran seolah memberiku kejutan. Entah bagaimana suamiku ini bisa masuk tanpa Aku ketahui. Tapi bila dipikir-pikir, pasti mas Gibran punya kunci untuk masuk ke kamar ini. Saking gugupnya, Aku melupakan hal sekecil itu.
"Mas Gibran," ucapku dengan suara manja.
Aku mencoba menarik tangan mas Gibran, namun dia belum memberiku kesempatan untuk melepaskan.
"Mas Gibran, kenapa mataku ditutup begini?"
Tak ada jawaban dari mas Gibran, namun tubuhku dialihkan untuk berjalan mengikuti sesuai arahannya. Sepertinya ini mengarah ke balkon.
"Mas, ada apa sih sebenarnya?" Tanyaku lagi.
Tak ada jawaban kembali dari mas Gibran. Semakin lama Aku semakin heran. Apalagi dari diamnya membuatku curiga. Aku menjadi takut dan tubuhku seketika menegang. Pikiranku mulai menjalar ke mana-mana. Takut jika hal buruk terjadi padaku.
"Apa dia mas Gibran? Kenapa diam saja?" Batinku cemas.
Dari tangannya yang kuraba, Aku yakin bahwa dia mas Gibran. Namun pikiran buruk selalu membayangiku. Mengingatkan Aku pada film-film misteri dan thriller yang sering Aku tonton. Bisa jadi ada orang jahat yang membobol kamar hotel ini dan bisa jadi ada orang yang sejak tadi mengikuti Aku dan Dewi sampai ke hotel ini. Dia meminta uang atau sejenisnya lalu dibunuh. Oh my God, itu tidak mungkin, kan?
Atau jangan-jangan yang sekarang ini adalah Bram. Bisa jadi Bram memata-matai Aku karena Aku tidak datang bersamanya ke hotel di acara pertunangan mas Gibran dan Claudia yang saat ini batal. Bram kesal padaku dan mas Gibran yang mempermalukannya sehingga Bram mengambil jalan pintas untuk menculik ku. Astaga, kenapa cara berpikirku terlalu jauh?
Aku mencoba berontak dan melepaskan tangannya dari mataku. Namun Aku gagal, tenaganya sangat kuat.
"Lepas, tolong lepasin tangan kamu!" Pintaku dengan lantang.
BUGH
Dengan akal ku dan kemampuanku yang seadanya, Aku menggunakan siku tanganku untuk memukul perutnya. Sekuat tenaga Aku memukulnya dengan meniru gaya silat yang pernah Aku lihat di film-film.
AKHHHH
Terdengar suara lelaki yang berteriak kesakitan karena pukulanku tadi. Aku belum mendengar jelas suaranya karena Aku panik. Seketika orang yang menutup mataku tadi melepaskan tangannya dari mataku. Dia berteriak kesakitan.
"Akhhh perutku, Amanda ... kenapa kamu pukul perutku?" ucapnya meringis kesakitan.
DEG
Baru kusadari terdengar jelas rintihan dari suara lelaki itu. Aku sangat mengenalnya. Dia adalah suamiku, mas Gibran. Ya Tuhan, Aku melakukan kesalahan.
"Mas, jadi kamu dari tadi yang nutup mataku?"
"Ya, apa Dewi tidak memberitahu bahwa Aku akan datang ke sini?"
"Dewi sih bilang, cuma aku nggak tahu kalau kamu yang nutup mataku, maaf ya Mas!" Aku merasa bersalah sudah membuatnya kesakitan.
__ADS_1
"Aku tadi mau kasih kejutan sama kamu, makanya aku tutupin mata kamu," mas Gibran menjelaskan.
"Lagian Mas Gibran masuk nggak bilang-bilang sih. Aku pikir tadi ada orang yang mau culik aku atas suruhan si Bram. Ya, jadi aku takut Mas," ungkap ku dengan detail.
"Aku pegang kunci kamar ini juga. Jadi langsung saja masuk. Kalau soal Bram nggak mungkin dia bisa masuk ke sini karena aku sudah buat pengawalan ketat di depan pintu kamar ini."
"Hah, serius Mas. Jadi maksud kamu ada bodyguard di depan kamar ini?" Tanyaku tak percaya.
"Ya, bodyguard yang pernah aku suruh untuk mengantar kamu pulang ke rumah waktu itu," jelasnya.
Aku masih penasaran, apa benar yang di bilang mas Gibran jika ada bodyguard di depan pintu kamar ini? Aku pun melangkah hendak memastikan.
"Eh, eh mau kemana?" Tanya mas Gibran.
"Aku mau lihat ke luar, Mas."
"Ngapain? Nggak penting kamu ke sana. Sudah sini, bantu aku obati perut aku karena pukulan kamu tadi," mas Gibran melarang ku dan memintaku untuk mengobati perutnya.
Aku jadi heran. Apa sangat sakit pukulanku tadi? Padahal tenagaku nggak terlalu kuat memukulnya.
"Apa perutmu terluka, Mas? Aku memukulmu dengan siku tanganku bukan dengan pisau loh."
"Jadi kalau ada pisau, kamu berniat ingin menusuk perutku, gitu?" Tanya mas Gibran melotot kan matanya.
"Ya, kalau urgent mungkin saja aku lakukan."
"Ya, posisinya kan aku nggak tahu kalau tadi itu Mas Gibran. Kirain penjahat."
"Penjahat sepertiku nggak mungkin nyakitin kamu, sayang."
"Bohong, buktinya Mas tega udah nusuk hatiku sampai sakit berbulan-bulan karena ucapan kamu yang selalu nyakitin aku setajam pisau," singgung ku dengan ketus.
"Setajam silet kali, yank. Ok, ok maaf ya sayang. Mas melakukan itu karena terpaksa. Maaf ya, jangan marah," mas Gibran membujukku dengan cara memelukku.
"Nggak bisa, Mas sudah keterlaluan sama aku. Mas suka marah-marah, nyuruh aku buat lakuin ini dan itu, belum lagi aku kerja seharian di rumah gantikan pekerjaan para pelayan. Lalu uang bulanan aku, Mas kurangi. Mas jahat tau nggak!" Ocehku tanpa jeda. Aku merasa sedikit lega dengan unek-unek yang selama ini ada di hatiku.
Mas Gibran mengambil wajahku lalu diarahkannya ke hadapannya. Dia menatap mataku dengan penuh rasa bersalah.
"Sudah marahnya? Maafin Mas, ya. Sungguh sebenarnya Mas nggak ada niat untuk melakukan itu. Terkadang hati Mas sakit jika Mas membuatmu menangis. Makanya Mas sering di kantor sampai pulang malam. Karena Mas malu dengan diri Mas sendiri," ungkap mas Gibran.
"Mas juga salah karena punya rahasia bersama Bram sejak dulu. Kalian jahat," rasanya Aku ingin menangis mengingat kelakuan Bram dan mas Gibran di video yang diputar beberapa jam lalu.
"Tolong maafin Mas. Silahkan hukum Mas, balas perlakuan Mas padamu dulu. Mas nggak keberatan, sayang. Mas rela melakukan apapun asal kamu bahagia," ujarnya.
__ADS_1
"Janji, bakalan ngelakuin apapun yang aku mau?" Tanyaku memastikan.
"Iya janji," sahut mas Gibran dengan anggukan kepala.
"Emm...," Aku mulai tampak berpikir hukuman apa yang pantas mas Gibran dapatkan dariku.
Aku mengulum senyumku sembari melirik mas Gibran. Sebenarnya Aku kesal padanya. Ingin Aku menghukum mas Gibran dengan berat. Tapi Aku tidak tega dan nggak mungkin melakukannya.
Aku menggapai wajah mas Gibran dengan senyuman lebar sambil menatapnya.
"Aku ingin kita selalu bersama-sama melewati suka duka kehidupan. Walaupun ada yang ingin memecah belah rumah tangga kita, maka kita akan terus memperjuangkan cinta kita," pintaku pada mas Gibran. Itulah yang sesungguhnya kuinginkan.
Mas Gibran tersenyum kepadaku. Seketika itu dia langsung mencium bibirku.Ciuman yang sangat kurindukan. Ciuman tulus yang memang diperuntukan pada pasangan yang sudah halal.
"Terima kasih, sayang. Kau istri yang paling berharga di hidupku."
"Kau rindu bukan? Bagaimana kalau malam ini kita habiskan dengan kerinduan yang selama ini kita lewatkan?" pinta mas Gibran.
Aku hanya merespon dengan senyuman malu-malu.
"Oh ya, Mas katanya mau kasih kejutan ke aku? Apa kejutannya?" Aku teringat dengan kejutan yang hendak mas Gibran beri untukku.
"Oh i-iya, aduh jadi lupa deh. Sekarang Mas tutup dulu deh mata kamu. Awas jangan dipukul lagi perut Mas, ok!" pinta mas Gibran sambil mengingatkan.
"Iya, emang kejutannya apaan sih, Mas?" Tanyaku penasaran.
"Nanti juga kamu tau!" sahutnya tanpa memberi jawaban. Aku hanya pasrah.
Mataku pun ditutup kembali oleh mas Gibran. Aku di bawanya berjalan beberapa langkah dari tempat sebelumnya.
TARAAAAA
"Surprise!" Teriaknya.
Aku begitu takjub sesaat mas Gibran melepaskan tangannya dari mataku. Aku melotot hingga mulutku menganga tak menyangka. Sebelumnya tidak ada hal seperti ini. Taburan bunga mawar menghiasi seluruh tempat tidur. Sangat indah sekali.
"Kapan Mas Gibran menyiapkan semua ini?"
"Barusan saja, pelayan hotel yang mas tugaskan sebelumnya."
Mas Gibran menggendongku ke tempat tidur.
"Kita akan melakukan bulan madu kita malam ini, sayang!" bisik mas Gibran menggelitik di telingaku, tubuhku seketika menegang.
__ADS_1
AKHHHHH
"Sabar dong, Mas!"